1. Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)(Ordo : Lepidoptera, Famili: noctuidae) Kemampuan ulat grayak merusak tanaman jagung berkisar antara 5-50 %.Ngengat aktif pada malam hari, sayap bagian depan berwarna coklat atau keperak-perakan, sayap belakang berwarna keputihan.Telur berbentuk hampir bulat dengan bagian datar melekat pada daun (kadang tersusun 2 lapis), warna coklat kekuning-kuningan, berkelompok (masing-masing berisi 25-500 butir) tertutup bulu seperti beludru.Larva mempunyai warna yang bervariasi, ulat yang baru menetas berwarna hijau muda, bagian sisi coklat tua atau hitam kecoklatan dan hidup berkelompok. Ulat menyerang tanaman pada malam hari, dan pada siang hari bersembunyi dalam tanah (tempat yang lembab). Biasanya ulat berpindah ke tanaman lain secara bergerombol dalam jumlah besar.Pupa. Ulat berkepompong dalam tanah, membentuk pupa tanpa rumah pupa (kokon) berwarna coklat kemerahan dengan panjang sekitar 1,6 cm.Siklus hidup berkisar antara 30-60 hari (lama stadium telur 2-4 hari, larva yang terdiri dari 5 instar : 20 – 46 hari, pupa 8 – 11 hari).Gejala serangan, larva yang masih kecil merusak daun yang menyerang secara serentak berkelompok dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan dan tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya terjadi pada musim kemarau. PengendalianHama ulat grayak dapat dikendalikan secara kultur teknis, mekanis maupun pengendalian hayati. a. Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan membakar sisa-sisa tanaman pada lahan yang akan digunakan dan pengolahan tanah yang intensif. b. Pengendalian fisik / mekanis dapat dilakukan dengan mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya atau menggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah tanaman sejak tanaman berumur 2 minggu. c. Pengendalian Hayati dapat dilakukan dengan memanfaatan musuh alami seperti : patogen SI-NPV (Spodoptera litura-Nuclear Polyhedrosis Virus), Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae, bakteri Bacillus thuringensis, nematoda Steinernema sp,. Predator Sycanus sp,. Andrallus spinideus, Selonepnis geminada, parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp. d. Pengendalian Kimiawi Beberapa insektisida yang dianggap cukup efektif mengendalikan ulat grayak adalah monokrotofos, diazinon, khlorpirifos, triazofos, dikhlorovos, sianofenfos, dan karbaril. 2. Penggerek tongkol jagung ( Helicoverpa armigera Hbn.) Ordo Leppidoptera, family Noctuidae)Kehilangan hasil akibat serangan hama ini dapat mencapai 10%. Meskipun relatif rendah, serangannya mempengaruhi mutu tongkol jagung. Imago betina H. Armigera meletakkan telur pada rambut jagung. Rata-rata produksi telur imago betina adalah 730 butir, telur menetas dalam tiga hari setelah diletakkan.Larva spesies ini terdiri dari lima sampai tujuh instar. Khususnya pada jagung, masa perkembangan larva pada suhu 24 sampai 27,2 ºC adalah sampai 21,3 hari. Larva serangga ini memiliki sifat kanibalisme. Spesies ini mengalami masa pra pupa selama satu sampai empat hari. Masa pra pupa dan pupa biasanya terjadi dalam tanah dan kedalamannya bergantung pada kekerasan tanah.Pupa terbentuk pada kedalaman 2,5 sampai 17,5 cm. Terkadang pula serangga ini berpupa pada permukaan tumpukan limbah tanaman atau pada kotoran serangga ini yang terdapat pada tanaman. Pada kondisi lingkungan yang mendukung, fase pupa bervariasi dari enam hari pada suhu 35ºC sampai 30 hari pada suhu 15ºC. Gejala SeranganImago betina akan meletakkan telur pada silk (rambut) jagung dan sesaat setelah menetas, larva masuk kedalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Infestasi serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung. Pengendalian a. Pengendalian secara kultur teknis dapat dilakukan dengan pengolahan tanah yang baik, karena merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi H. Armigera berikutnya. b. Pengendalian Hayati dapat dilakukan dengan menggunakan musuh alami.Musuh alami yang digunakan sebagai pengendali hayati dan cukup efektif untuk mengendalikan penggerek tongkol adalah Parasit Trichogramma spp yang merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit pada larva muda, Cendawan Metarhizium anisopliae.menginfeksi larva, Bakteri Bacillus thuringensis dan Virus Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV).menginfeksi larva. c. Pengendalian secara kimiawi untuk larva H. Armigera pada jagung dengan penyemprotan insektisida Decis, dilakukan setelah terbentuknya rambut jagung pada tongkol dan diteruskan (1-2) hari hingga rambut jagung berwarna coklat. (Sri Wijiastuti, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, BPPSDMP.Sumber: 1. Petunjuk Lapang Hama. Penyakit. Hara pada Jagung.2. http://putrajayatani.blogspot.com/2011/09/pengendalian-hama-dan-penyakit-pada.html3. https://lutfiafifah.wordpress.com/2011/02/03/pengendalian-terpadu-hama-dan-penyakit-tanaman-pada-tanaman-jagung-di-kelurahan-situ-gede-bogor-barat/4. http://3.bp.blogspot.com/-Ooi107Bhi-o/TmGraDTJHII/AAAAAAAAAYc/B8VQl03wMpQ/s1600/lynf15.jpg