Sekolah Lapang merupakan proses pembelajaran non formal yang dilaksanakan dilapangan bagi petani untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam mengenali potensi wilayah, menyusun rencana usaha, identifikasidan mengatasi permasalahan, mengambil keputusan serta menerapkan teknologi yang sesuai dengan sumberdaya setempat secara sinergis dan berwawasan lingkungan sehingga usaha tani lebih efisien, berproduktivitas tinggi dan berkelanjutan. Salah satu jenis hama yang cukup menimbulkan kerugian dalam usaha budidaya pertanian adalah tikus. Gangguan hama tikus ini sudah dimulai sejak dari persemaian hingga pada hasil pertanian yang sudah di simpan di dalam gudang. Hama tikus dapat dengan cepat berkembang biak terutama bila mata rantai makanannya tidak terputus dan hama tikus juga mempunyai kemampuan untuk beradaptasi bilamana rantai makanannya terputus dengan alternatif rantai makanan lainnya. Serangan hama tikus hampir menimpa di seluruh propinsi Indonesia yang mengakibatkan tidak tercapainya hasil yang optimal. Kegiatan sekolah lapang (SL) dilaksanakan di lima Desa Yaitu: Pulo Ie, limau purut, Simpang lhee, Jambo Manyang, dan Pasie Kuala Ba,u dalam Kecamatan Kluet Utara Kabupaten Aceh Selatan Provinsi Aceh, yang dihadiri oleh Suharwandi SP, (Koordinator Penyuluh Kabupaten), Azhar,SST. (Kepala BPP Kluet Utara) Mantri tani, Penyuluh Pertanian dan anggota kelompok tani Desa jambo Manyang dan juga dihadiri oleh Mahasiswa Pendamping Upsus Pajale. Hama tikus menyerang tanaman padi hanya dibagian tengah pada suatu petakan lahan sawah serta menyisakan satu sampai dua batang pertanaman padi, sehingga pada bagian samping tanaman padi terlihat sangat lebat tetapi bagian tengah terlihat agak jarang. Tikus menyerang batang muda (1-2 bln) dan buah, gejala adanya tanaman padi yang roboh pada petak sawah dan pada serangan hebat hebat ditengah petak tidak ada tanaman (Sukarsirna rasa). Untuk mengendalikan serangan hama tikus, para petani sudah menggunakan beberapa cara pengendalian, yang pertama dengan menggunakan pengendalian hayati, yaitu dengan menggunakan musuh alami (predator) burung hantu, akan tetapi burung hantu justru merusak lahan pertanian. Selanjutnya para petani menggunakan pengendalian secara kimia, yaitu dengan racun kimia. Untuk awal-awal penggunaan kimia ini sangat efektif tetapi sifat tikus yang cukup pintar dalam memilih makanannya. (1). Pengendalian secara mekanik. Cara ini mengendalikan hama tikus dengan bantuan alat, alat bisa beranekaragam sesuai kebutuhan dan kondisi lahan; (2). Pengendalian secara kimiawi Pengendalian kimiawi membasmi hama tikus dengan menggunakan bahan pestisida atau racun, (3). Pengendalian secara biologis. Pengendalian dengan menggunakan musuh alami dari hama tikus tersebut contohnya : Ular sawah, kucing, burung hantu, dan burung elang serta anjing khusus. Penulis : (1). Suharwandi, SP, (2). Azhar, S.ST