Loading...

Pengendalian Hama Tungau Merah Pada Tanaman Ubi Kayu

Pengendalian Hama Tungau Merah  Pada  Tanaman Ubi Kayu
Petani dalam budidaya ubi kayu banyak menghadapi masalah yang dapat menurunkan produksi dan kualitas umbi. Masalah tersebut diantaranya adalah adanya gangguan hama, penyakit, dan gulmaKerusakan tanaman ubi kayu akibat serangan hama dipengaruhi oleh jenis hama yang menyerang, tingkat ketahanan tanaman terhadap hama, umur tanaman waktu terjadi serangan, dan periode lamanya serangan hama. Bila tanaman terlambat ditanam peluang terjadinya serangan lebih lama sehingga kehilang hasil yang ditimbulkan akan semakin tinggi. Selain mengurangi hasil/produksi dan kualitas umbi, serangan beberapa hama juga mengakibatkan penurunan kualitas bahan tanam (stek)Pada umumnya serangan dan kerusakan akibat serangan hama di musim kemarau lebih tinggi dibandingkan pada musim penghujan. Hal ini disebabkan siklus hidup pada musim kemarau lebih pendek sehingga populasinya berkembang lebih cepat.Berapa hama yang dianggap penting dan dapat menurunkan hasil/produksi tanaman ubi kayu diantaranya adalah tungau merah. Sebagian besar hama tanaman ubi kayu berupa serangga (Insekta), kecuali tungau merah (Tetranychus urticae) yang termasuk kelas Acarina.). Gejala Gejala serangan hama tungau merah (Tetranychus urticae) diawali dengan terlihatnya spot (bercak) kuning sepanjang tulang daun pada daun-daun bawah dan tengah. Bercak tersebut kemudian menyebar keseluruh permukaan daun sehingga daun berwarna kemerahan, coklat atau seperti karat. Daun-daun yang terserang parah akhirnya kering, dan terjadi kerontokan seluruh daun. Pada tanaman yang terserang parah, umbi yang dihasilkan umumnya berukuran kecil dan secara langsung akan mempengaruhi hasil/produksi tanaman.BioekologiTungau betina meletakan telur pada permukaan daun bagian bawah dekat tulang daun, dan bila populasi melimpah, telur akan diletakan secara acak. Kepadatan populasi tungau dan produksi telur akan meningkat dengan adanya periode kering, pertumbuhan daun baru, dan meningkatnya jumlah klorofil. Serangan tungau biasanya terjadi pada musim kemarau (bulan Juni – Agustus. Sebaliknya populasi akan menurun selama dan setelah musim hujan. Telur berbentuk bulat dengan diameter 0,04 mm, berwarna bening, dan berumur 2-4 hari. Setelah telur menetas, nimfa muda berwarna putih muncul. Nimfa masih mempunyai tiga pasang kaki dan disebut protonimfa. Fase protonimfa berlangsung antara 1-4 hari, setelah itu protonimfa berubah warna dari putih menjadi agak orange kemerahan dan kakinya menjadi 4 pasang, fase ini disebut deutonimfa. Umur deutonimfa berkisar 2-6 hari. Imago (dewasa) betina terjadi setelah mengalami fase preoviposisi sekitar 1-6 hari. Imagoi betina umumnya agak bulat, sedang yang jantan lebih ramping.Tungau dewasa berukuran panjang sekitar 0,5 mm, berwarna merah dengan spot kehitaman pada kedua sisi tubuhnya, dan mempunyai 4 pasang kaki. Tungau betina dapat hidup sampai 4 mingguPengendalian Serangan hama tungau merah dapat dikendalian antara lain dengan: 1) menaman varietas tahan yaitu Adhira-4; 2) menyemprotkan air beberapa kali agar tungau larut tercuci bersama air; 3) menanam pada awal musim penghujan; 4) pengendalian biologi, yaitu beberapa pemangsa berpotensi untuk mengendalikan tungau merah antara lain dari family Coccinellidae ( Stethorus sp, Chliromenessp, dan Veranis sp), Staphylinidae (Oligota minuta), Cecimylidae, Thysanopetra, Phytoseidae (Typhlodromus limonicus, T. rapax) dan Anthocorides (Orius insuduous); 5) pengendalian secara kimiawi Sumber: Litbang PertanianPenulis : Ir. Marwati (Pusat Penyuluhan Pertanian-BPPSDMP-Kementan)