PENDAHULUAN Ulat grayak menjadi salah satu hama yang kerap mengganggu pertanian di Indonesia, termasuk pertanaman jagung. Namun kini ada jenis ulat grayak baru yang tengah mewabah di dunia yakni Fall Armyworm (FAW) dan sudah masuk ke Indonesia. Apalagi dalam waktu cepat hama tersebut telah mewabah dari Benua Amerika pada tahun 2016, masuk ke Benua Afrika dan menyebar di wilayah Asia hingga masuk ke Thailand pada tahun 2018 dan masuk ke Indonesia pada tahun 2019. Menurut peneliti Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian IPB, Idham Sakti Harahap, FAW atau Spidoptera frugiperda merupakan salah satu jenis ulat grayak yang mempunyai jelajah tinggi. Bahkan imagonya bisa terbang jauh, bahkan jika terbawa angin bisa mencapai 100 km. SIKLUS HIDUP Siklus hidup FAW sangat bergantung pada suhu dan berlangsung sekitar 30 hari di musim panas, hingga 90 hari di musim dingin. Dengan siklus tersebut menghasilkan generasi setiap tahunnya. Bahkan, pada spesies ini tak terdapat masa penangguhan pertumbuhan. Hama dewasa aktif di malam hari, menghasilkan telur 2.000 butir. Bahkan, 900-1.000 telur terdapat pada daun. Tahap telur berlangsung 2-3 hari. Tahap larva berlangsung selama 14-30 hari dan biasanya terdapat 6 instar. Pembentukan pupa terjadi di tanah dan berlangsung 8-30 hari. CIRI-CIRI FISIK Spodoptera frugiperda (FAW) dapat dikenali melalui ciri morfologinya, diantaranya: Terdapat garis mirip huruf Y terbalik pada kepala ulat tersebut Terdapat empat buah bintik yang besar (pinacula). Pada abdomen segmen 8 (A8) membentuk segi empat Adanya 3 garis pada bagian atas tubuh, yaitu sebuah pada dorsal dan pada masing-masing sub dorsal Ulat tersebut juga memiliki garis lebar seperti pita pada lateral tubuh. MENCEGAH PENYEBARAN Menurut perkiraan, hama itu masuk terbawa oleh produk sayuran yang diimpor dalam bentuk larva. Ini patut kita waspadai dan kita harus mulai mengawasi produk pertanian impor. Sangat diwaspadai terjadinya ledakan populasi hama ini pada musim hujan, terutama pada saat masa awal musim tanam. Terlebih jika sebelumnya terjadi musim kemarau panjang. Ada beberapa upaya mencegah penyebaran Spidoptera frugiperda jika sudah menyerang areal pertanaman, yaitu: Pertama, sebelum meluas dapat dilakukan eradikasi, bukan dalam skala kebun, tapi negara (pulau). “Eradikasinya bukan hanya media pembawa, tapi juga tempat menempel telurnya. Kedua, menyebarkan informasi dan menghimbau masyarakat untuk segera melaporkan kalau menemukan hama tersebut. Ketiga, melakukan survei dan inventarisasi tanaman inang dan musuh alami hama Spidoptera frugiperda. Keempat, melakukan pengendalian berupa penyemprotan insektisida jika tingkat serangan sudah berada pada batas ambang toleransi. PENGENDALIAN HAMA ULAT DENGAN INSEKTISIDA Pengendalian hama ulat menggunakan insektisida adalah pengendalian hama yang menggunakan pestisida kimia yang dapat diperoleh pada toko-toko pertanian maupun instansi terkait. Pengendalian dengan cara ini merupakan alternatif terakhir yang dipilih jika ternyata cara lain yang lebih ramah lingkungan tidak berhasil mengurangi serangan hama ini. Insektisida yang sering digunakan adalah insektisida dengan kandungan racun lambung dan juga racun kontak. Insektisid ini berbentuk cairan pekat yang dapat diemulsikan. Cara kerja racun ini adalah mengganggu sistem saraf serangga dan mengganggu fungsi neuron oleh interaksi dengan saluran natrium. PENGAPLIKASIAN INSEKTISIDA Dalam melakukan pengendalian hama dengan menggunakan pestisida (insektisida), terdapat beberapa faktor yang harus diperhatiakan. Faktor-faktor tersebut biasa dikenal dengan istilah 5 T (5 Tepat), yang terdiri dari: Tepat Sasaran Setiap hama tanaman memiliki sifat yang berbeda-beda sehingga cara perlakuannya juga harus berbeda. Agar penggunaan pestisida tepat sasaran, kita harus memperhatikan tanaman kita untuk menentukan hama apa yang mengganggu di sana sehingga dapat kita jadikan sebagai sasaran pestisida. Seperti tanaman jagung yang diserang hama ulat, maka penyemprotan harus dilakukan dari atas agar bisa mengenai ulat yang bersembunyi dalam pucuk jagung. Tepat Jenis Seperti hama, pestisida terdiri dari berbagai jenis. Penggunaan jenis pestisida tertentu harus sesuai dengan jenis hama yang ingin dibasmi. Sebelum memutuskan untuk membeli jenis pestisida tertentu, sebaiknya cari tahu terlebih dahulu pestisida yang dibutuhkan. Misalnya, serangan hama ulat pada tanaman jagung maka pengendalian menggunakan insektisida Tepat Waktu Untuk menggunakan pestisida sebagai pengendali hama dan penyakit, kita juga harus memperhatikan waktu yang tepat. Ada beberapa hal yang menjadi dasar untuk menentukan kapan sebaiknya kita mengaplikasikan pestisida pada tanaman, seperti tahap rentan hama (misalnya, ulat yang masih kecil), banyaknya hama yang perlu dikendalikan, kondisi lingkungan (sebaiknya kita tidak mengaplikasikan pestisida pada tanaman saat hujan, kecepatan angin tinggi, cuaca panas terik), serta pengulangan aplikasi pestisida sesuai kebutuhan. Aplikasi insektisida pada tanaman jagung sebaiknya dilakukan pada pagi hari pukul 06 sampai 09 dan sore hari pukul 16 sampai 18 Tepat Dosis Seperti halnya obat yang diberikan kepada orang yang sakit, insektisida yang diberikan pada tanaman juga sebaiknya tepat dosis, tidak boleh kurang, apalagi berlebihan. Dosis merupakan takaran pestisida yang dibutuhkan untuk setiap satuan luas, misalnya 5 liter per hektar. Selain dosis, hal yang tidak kalah penting dalam pengaplikasian pestisida adalah konsentrasi, yaitu banyaknya pestisida yang dibutuhkan untuk setiap satuan aplikasi. Jika petani kurang memperhatikan dosis dan konsentrasi pestisida yang digunakan, maka hal tersebut akan berbahaya bagi kesehatan tanaman bahkan orang yang melakukan pengendalian. Dosis yang digunakan untuk pengedalian hama ulat pada tanaman jagung adalah 1 cc/l air Tepat Cara Pengaplikasian insekstisida untuk tanaman jagung dilakukan dengan cara disemprotkan dari atas tanaman dengan sasaran pucuk daun (titik tumbuh) tanaman jagung. Kalsum Dato, SST/198504102005012003 Penyuluh Pertanian Pertama Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Ile Napo, Solor Timur