Wereng coklat, Nilaparvata lugens Stal (Homoptera: Delphacidae), merupakan hama penting pada tanaman padi di Indonesia. Sejak digalakkannya program intensifikasi padi pada tahun 1969, di beberapa daerah sentra produksi padi telah tercatat beberapa kali ledakan populasi hama tersebut, dan pengendalian dengan menggunakan insektisida merupakan cara yang sering dilakukan untuk menekan populasi wereng coklat (WBC). Hama ini berkembangbiak secara sexual, masa pra peneluran 3-4 hari untuk brakiptera (bersayap kerdil) dan 3-8 hari untuk makroptera (bersayap panjang). Telur biasanya diletakkan pada jaringan pangkal pelepah daun, tetapi kalau populasinya tinggi telur diletakkan di ujung pelepah dan tulang daun.Telur diletakkan berkelompok, satu kelompok telur terdiri dari 3-21 butir.Satu ekor betina mampu meletakkan telur 100-500 butir.Telur menetas setelah 7-10 hari.Muncul wereng muda yang disebut nimfa dengan masa hidup 12-15 hari dan setelah fase ini menjadi wereng dewasa.Dalam perkembangan hidupnya, wereng batang coklat mempunyai tiga stadium pertumbuhan yaitu stadium telur, nimfa dan dewasa. Nimfa mengalami lima instar, dan rata-rata waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan periode nimfa adalah 12.82 hari. Nimfa dapat berkembang menjadi dua bentuk wereng dewasa. Bentuk pertama adalah makroptera (bersayap panjang) yaitu wereng batang coklat yang mempunyai sayap depan dan sayap belakng normal. Bentuk kedua adalah brakiptera (bersayap kerdil) yaitu wereng batang coklat dewasa yang mempunyai sayap depan dan sayap belakang tumbuh tidak normal, terutama sayap belakang sangat rudimenter. Pada daerah lain stadium telur membutuhkan waktu antara 7-11 hari. Nimfa yang baru menetas berwarna keputihan dan berangsur menjadi coklat. Stadium nimfa terjadi 5 kali pergantian kulit dan waktu yang dibutuhkan pada masing-masing instar adalah 2-4 hari (lihat gambar 2) Wereng batang coklat dewasa mempunyai dua bentuk, sayap panjang (makroptera) dan sayap pendek (brakiptera). Bentuk makroptera merupakan indikator populasi pendatang dan emigrasi, sedangkan brakiptera populasi penetap.Suhu optimum untuk perkembangan antara 18-280C. Pengendalian Kimia Pengendalian kimia dilakukan apabila cara-cara lain tidak mungkin lagi dan populasi WBC sudah berada diatas ambang ekonomi. Ambang ekonomi yang telah ditetapkan adalah rata-rata 10 ekor per rumpun untuk tanaman padi kurang dari 40 hst, atau rata-rata 20 ekor per rumpun untuk tanaman padi lebih dari 40 hst. Penggunaan pestisida diusahakan sedemikian rupa sehingga efektif,efisien dan aman bagi lingkungan. Pada varietas tahan tidak perlu di gunakan insektisida kecuali kalau ketahanannya patah, sedangkan aplikasi insektisida pada varietas rentan harus didasarkan pada hasil pengamatan. Dari hasil pengamatan diperoleh populasi 40-70 ekor per rumpun dan kondisi tanaman berumur 60-85 HST padi jenis ciherang, IR 64, Cilamaya muncul dengan kondisi WBC pada instar 1 dan 2. Dengan luas terserang 30 ha dan terancam 90 ha dan belum ada puso. Pengendalian populasi WBC dengan meggunakan insektisida sintetik VENOP dengan bahan aktif MIPC. Selama kegiatan penyemprotan massal diberikan arahan tentang cara perhitungan penggunaan dosis pestisida, cara pencampuran dan cara penyemprotan yang sesuai dengan kondisi serangga yang meyerang (WBC) pada tanaman padi dengan lebih tepatnya berpedoman pada prinsip 6 (enam) Tepat, yaitu : tepat jenis,tepat sasaran,tepat cara,tepat konsentrasi/dosis dan tepat lokasi. Persiapan sebelum penyemprotan terlebih dahulu dilakukan beberapa kegiatan yaitu pengeringan lahan tanaman padi sebelum aplikasi insektisida aplikasi insektisida dilakukan yaitu antara pukul 07:00 pagi sampai pukul 10:00, dilanjutkan sore hari. Insektisida harus sampai pada batang padi, karena WBC berada di wilayah tersebut. (Asikin, S.Pt, Penyuluh Pertanian Kecamatan Majenang)