Serangan hama wereng pada tanaman padi pada akhir-akhir ini semakin meningkat di beberapa wilayah kecamatan di Kabupaten Tanggamus, hama wereng telah merusak puluhan bahkan ratusan hektar sawah petani. Produksi sawah menurun bahkan gagal total panen padi, petani merugi ketersediaan pangan di tingkat Kabupaten pun terancam berkurang.Wereng adalah sebutan umum untuk serangga penghisap cairan tumbuhan. Ukuran tubuhnya kecil, terdapat beberapa jenis hama wereng dan yang banyak menyerang tanaman padi di wilayah Kecamatan Air Naningan adalah Hama Wereng Cokelat dan Hama Wereng Hijau. Karena hanya bisa hidup dengan menghisap cairan tumbuhan, wereng menjadi hama penting dalam budidaya tanaman, selain sebagai pemakan langsung, wereng juga menjadi vektor bagi penularan sejumlah penyakit tumbuhan dari kelompok virus.Wereng memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungannya. Bahkan, suatu jenis wereng mampu menghasilkan keturunan yang tahan terhadap kondisi tertentu. Penggunaan satu jenis varietas secara terus menerus bisa menjadi salah satu faktor penyebab ledakan hama wereng, untuk itu pergiliran tanaman dan varietas perlu dilakukan untuk memutus rantai hidup wereng.Selain itu, penjarangan pada jarak tanam juga mampu mengurangi serangan hama wereng. Dalam melakukan kegiatan pertanian keseimbangan ekosistem dan rantai makanan harus harus terjaga. Keberadaaan predator alami wereng seperti laba-laba, kumbang, kepik permukaan air, dan belalang bertanduk panjang akan mampu mengendalikan populasi hama wereng. Untuk itu, kita perlu menjaga tempat hidup dari para predator tersebut yang biasanya hidup dalam semak dan beberapa tanaman gulma.Jika pengendalian kultur teknis serta pengendalian secara biologi tersebut tidak mampu mengatasi serangan hama, maka kita bisa melakukan pengendalian secara mekanis yaitu dengan menggunakan perangkap lampu di malam hari. Alternatif terakhir jika serangan hama wereng sudah melebihi ambang batas ekonomi adalah dengan melakukan pengendalian dengan menggunakan pestisida alami.Pestisida alami bersifat mengurangi serangan hama, bukan untuk membunuh hama. Oleh karenanya penggunaan pestisida alami tidak akan mematikan predator alami hama tersebut. Cara kerjanya adalah mengusir hama dengan bau tertentu ataupun dengan menghilangkan nafsu makan hama.Untuk mencegah hama wereng bahan yang sering digunakan adalah biji mahoni, biji sirsak atau daun sirsak. Didalam bahan ini ada terdapat repellent (penolak serangga) dan antifeedant (penghambat nafsu makan).Berikut cara pembuatan pestisida alami dengan menggunakan bahan biji dan daun sirsak:Untuk membuat pestisida alami dari daun sirsak diperlukan daun sirsak sebanyak 1 (satu) genggam, rimpang jeringau sebanyak 1 (satu) genggam, bawang putih 20 siung, sabun colek 20 gr, dan air sebanyak 20 liter.Daun sirsak berfungsi sebagai penghambat nafsu makan serangga, sedangkan jeringau dan bawang putih berfungsi untuk mengusir serangga dengan baunya yang khas. Bawang putih juga mengandung alisin yang akan membantu pertumbuhan jaringan yang rusak, sementara itu sabun colek berfungsi sebagai perekat ketika larutan disemprotkan.Cara pembuatan :Cara pertama Daun sirsak, rimpang jeringau, dan bawang putih ditumbuk sampai halus, kemudian dicampur dengan sabun colek. Campuran tersebut kemudian direndam dalam air 20 Liter selama dua hari. Larutan selanjutnya disaring dengan kain halus dan siap diaplikasikan. Setiap satu liter air saringan diencerkan dengan 15 liter air, kemudian disemprotkan merata ke bagian bawah tanaman padi.Cara keduaMenggunakan biji dan daun sirsak yang sudah dicincang halus sebanyak 250 gram, dicampurkan dengan mikroba (efektif mikroorganisme) sebanyak 50 ml, tetes tebu sebanyak 50 ml, dicampur dengan satu liter air.Keseluruhan bahan dimasukkan ke dalam drum/ember plastik, tutup wadah rapat-rapat dan simpan dalam ruangan hangat (20—350C) dan tidak terkena matahari langsung.Aduk secara teratur dengan cara menggoyangkan wadah dan tutupnya dibuka sebentar untuk membebaskan gas dalam 2—5 hari. Lalu masukkan ekstrak yang dihasilkan kedalam botol plastik setelah disaring. Penggunaan ekstrak dapat dilakukan dengan disiramkan ke tanah atau tanmn secara merata dalam bentuk larutan dengan dosis 5—10 cc/liter air. Penyemprotan tanaman dilakukan setelah pertumbuhan tunas, secara kontinyu sebelum hama atau penyakit muncul, penyemprotan dilakukan sore atau pagi hari diwaktu angin tidak bertiup kencang atau setelah hujan.Demikian artikel ini dibuat, mudah-mudahan banyak manfaat yang didapat demi melestarikan lingkungan dan menjaga keseimbangan ekosistem yang ada, serta petani terus berjaya dengan hasil padinya yang berlimpah....PenulisKhadavi Gunara. R – THLTBPP Tanggamus.