Loading...

Pengendalian Hayati : Pengendali Ramah Lingkungan

Pengendalian Hayati : Pengendali Ramah Lingkungan
PENDAHULUAN Seiring terbukanya informasi membuat kesadaran masyarakat terhadap bahaya dan dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia, baik itu terhadap kesehatan manusia ataupun kerusakan lingkungan. Resurgensi hama, resistensi hama, munculnya hama kedua serta terbunuhnya musuh alami (hama bukan sasaran) merupakan beberapa dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia sintetis yang seringkali berlebihan dan kurang bijaksana. Konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) muncul dan berkembang sebagai koreksi terhadap kebijakan pengendalian hama secara konvensional yang bertumpu pada penggunaan pestisida berspektrum luas, yang ternyata dapat menimbulkan masalah antara lain resurjensi, resistensi, timbulnya hama sekunder, residu pada hasil pertanian, pencemaran lingkungan hidup. Strategi operasional PHT adalah dengan mengutamakan peran lingkungan sebagai faktor pengendali alamiah dan memprioritaskan pemanfaatan dan pelestarian musuh alami. Pengendalian Hayati Agens Hayati adalah setiap organisme yang meliputi spesies, sub spesies, atau varietas dari semua jenis serangga, nematode, protozoa, cendawan, bakteri, virus, mikoplasma, serta organisme lain yang dalam semua tahap perkembangannya dapat dipergunakan untuk keperluan pengendalian OPT dalam proses produksi, pengolahan hasil pertanian dan berbagai keperluan lainnya (Permentan no 411 tahun 1995). Keberhasilan pengendalian hayati memang sukar untuk diduga dan dianalisis secara tepat karena kerumitan dan dinamika agroekosistem. Predator dan parasitoid mempunyai banyak kelebihan dan kelemahan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan keberhasilan pengendalian hayati kedua agens tersebut harus dimanfaatkan secara optimum berdasarkan pada informasi dasar yang mencukupi tentang berbagai aspek biologi dan ekologi kedua kelompok agens pengendalian hayati tersebut. Strategi Pengendalian Hayati Teknik pengendalian hayati dengan menggunakan parasitoid dan predator yang dilakukan sampai saat ini dapat dikelompokkan dalam 3 kategori yaitu, Konservasi, Introduksi, dan Augmentasi. Meskipun ketiga teknik pengendalian hayati tersebut berbeda tetapi dalam pelaksanaanya sering digunakan secara bersama. Musuh alami mempunyai andil yang sangat besar dalam pembangunan pertanian berwawasan lingkungan karena daya kendali terhadap hama cukup tinggi dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, keberadaan musuh alami perlu dijaga. Pengendalian hayati membantu petani menghasilkan produk bernilai tambahBanyak produk pertanian dari Indonesia yang ditolak oleh negara pengimpor ketika didapati residu bahan kimia di dalam produk tersebut. Apalagi dengan diterapkannya SPS (Sanitary and Phytosanitary) dan perdagangan bebas dunia atau Asia, serta pembakuan kualitas produk pertanian, maka akan sangat sukar bagi produk pertanian Indonesia untuk dapat bersaing di tingkat regional atau internasional, jika masih mendasarkan pertanamannya dengan bahan kimia sintetis. Oleh sebab itu, untuk mengurangi dampak negatif tersebut, petani seharusnya sudah mulai bangkit untuk bertanam tanaman secara sehat atau organik, meskipun produk organik masih belum mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat. Di dalam menunjang produksi pertanian yang sehat dan aman tersebut, pengendalian hayati merupakan salah satu pemecahannya. Hal ini karena apabila dibandingkan dengan penggunaan agensia kimia sintetis, agensia pengendali hayati jelas tidak berbahaya terhadap manusia atau hewan, karena metabolit sekunder yang dihasilkan oleh agensia hayati akan mudah terurai oleh alam. Produk pertanian juga tidak menyimpan residu agensia pengendali hayati di dalamnya, sehingga produk tersebut aman untuk dikonsumsi. Hal ini selaras dengan makin gencarnya konsumen dunia yang membutuhkan dan mengonsumsi produk pertanian yang sehat . Pengendalian hayati mengatasi Ketidak-mampuan fungisida kimia sintetisPenggunaan fungisida kimia sintetis untuk mengendalikan penyakit tanaman tidak selamanya dapat diandalkan, misalnya oleh petani bawang merah, kentang, cabai, atau pekebun pisang. Hal ini ditunjukkan dengan makin meningkatnya penggunaan fungisida tersebut, baik dalam konsentrasi atau keseringannya.Akan tetapi, hasilnya ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Penyakit tetap ada di pertanaman, bahkan dapat lebih parah lagi kerusakan yang ditimbulkannya. Hal ini kemungkinan karena jamur patogen telah mengalami mutasi dan mampu beradaptasi dengan fungisida tersebut, ikut matinya mikroba tanah yang berguna, atau jamur patogen mampu membentuk struktur istirahat. Kesimpulan Didalam suatu ekosistem terjadi hubungan timbal balik baik intra maupun antarspesies. Pertanian yang berkelanjutan dapat ditopang dengan penggunaan agensia hayati sesuai kondisi setempat untuk mengendalikan hama dan patogen dan juga untuk mengurangi dampak negatif penggunaan pestisida kimia sintetis. author : Feby Cahayaningrum Editor : Margawati Nur W.