Loading...

pengendalian jamur akar putih (jap) pada tanaman karet

pengendalian jamur akar putih (jap) pada tanaman karet
pengendalian jamur akar putih (jap) pada tanaman karet tanaman karet merupakan salah satu komoditas perkebunan andalan di nagari ampang kuranji dengan total luas lahan 1.430 ha dan menjadi mata pencaharian utama masyarakat nagari ampang kuranji. dengan produksi 4,8 ton/ ha dan terdapat 945 orang petani karet. permasalahan utama yang sering dijumpai dikebun karet rakyat yaitu kematian tanaman karet akibat penyakit jamur akar putih/jap (rigidiporus microporus). penyakit ini menyebabkan kematian karet dalam jumlah banyak karena jap mudah menular dari satu tanaman ke tanaman lainnya, terutama pada tanaman karet yang berumur 2-4 tahun. patogen menular melalui kontak langsung antara akar atau tunggul yang sakit dengan aka tanaman sehat.spora jamur dapat juga disebarkan oleh angin yang jatuh ditunggul dan sisa kayu akan tumbuh membentuk koloni. umumnya penyakit akar terjadi di pertanaman bekas hutan atau bekas kebun karet, karena banyak tunggul dan sisa-sisa akar sakit yang tertinggal di dalam tanah yang menjadi sumber inokulum. serangan dapat terjadi dari pembibitan, tanaman belum menghasilkan (tbm) sampai pada tanaman menghasilkan jamur akar putih disebabkan rigidiporus microporus yang membentuk badan buah mirip topi pada akar, pangkal batang, atau tunggul-tunggul tanaman. badan buah berwarna jingga kekuning-kuningan. permukaan bawah badan buah terdapat lubang-lubang kecil tempat spora. badan buah yang tua akan mengering dan berwarna coklat. jamur akar putih membentuk tubuh buah seperti kipas tebal, agak berkayu, mempunyai zona-zona pertumbuhan dan sering mempunyai struktur serat yang radier, mempunyai tepi yang tipis. warna permukaan tubuh buah dapat berubah tergantung dari umur dan kandungan airnya. pada permukaan tubuh buah benang-benang jamur berwarna kuning jingga, tebalnya 2,8- 4,5 μm, mempunyai banyak sekat (septum) tingkat serangan jap antara lain : 1) serangan ringan, benang-benang jamur berwarna putih baru menempel di permukaan akar atau kulit akar mulai membusuk, 2) serangan berat, kulit dan kayu akar sudah membusuk gejala pada karet akibat jap (jamur akar putih) antara lain : 1) tanaman yang terserang jap daun-daunya terlihat kusam, permukaan daun menelungkup, layu dan gugur, 2) tanaman karet bertajuk tipis, seringkali terbentuk buah lebih awal pada tanaman muda yang seharusnya belum cukup waktunya berbuah, 3) perakaran apabila dibuka. maka pada permukaan akar terdapat semacam benang-benang berwarna putih kekuningan, dan pipih menyerupai akar rambut yang menempel kuat dan sulit dilepas, 4) gejala lanjut akar membusuk, lunak dan berwarna coklat, 5)mati mendadak seperti tersiram air panas pada musim hujan, 6) pada stadium lanjut, jamur akan membentuk badan buah yang berbentuk setengah lingkaran di pangkal batang. badan buah berwarna pink dengan tepi berwarna putih kekuningan. penyebab terjadinya penyakit layu jamur akar putih adalah : 1) lahan yang banyak terdapat sisa-sisa tanaman, atau bekas tanaman karet yang tidak dicabut, dan dikomposkan akan menjadi tempat yang cocok bagi koloni jap, 2) tanaman yang telah terinfeksi tidak diisolasi, sehingga akar yang terkena jap dapat kontak dengan akar karet lainnya yang sehat, 3) inokulum jap di sekitar perkebunan terbawa air hujan, alat pertanian, sepatu, atau hewan yang dapat menularkan ke tanaman karet lain, 4) klon karet yang rentan terhadap jap. penularan jamur akar putih terjadi melalui persinggungan antara akar karet dengan sisa-sisa akar tanaman lama, tunggul-tunggul atau pohon yang sakit. selain persinggungan, penyebarannya bisa terjadi karena hembusan angin yang membawa spora jamur ini. spora yang jatuh di tunggul atau sisa kayu akan tumbuh dan membentuk koloni. kemudian jamur akan merambat ke akar cabang tunggul dan pindah ke akar tanaman di dekatnya melalui pertautan akar. stum atau bahan tanaman sebagai bibit juga dapat menjadi sebab tersebarnya pnyakit di areal kebun karet. penyebaran jap yang paling efektif yaitu melalui kontak akar. apabila akar-akar tanaman sehat saling bersinggungan dengan akar tanaman karet yang sakit, maka rizomorf jap akan menjalar pada tanaman yang sehat kemudian menuju leher akar dan selanjutnya menginfeksi akar lateral lainnya. tanaman yang terinfeksi ini akan menjadi sumber infeksi pada tanaman disekitarnya, sehingga perkembangan penyakit semakin lama semakin meluas. pengendalian penyakit jap saat ini dititik beratkan pada pengendalian hama/penyakit terpadu (pht). hal ini sejalan dengan peraturan pemerintah, yaitu dengan menggabungkan beberapa komponen pengendalian seperti kultur teknik, biologi, dan kimiawi. pengendalian secara kultur teknik dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu pengolahan lahan, seleksi bibit, pemeliharaan tanaman dan penanaman kacangan penutup tanah. 1) pengolahan lahan. pengolahan lahan secara mekanik bertujuan untuk menghilangkan sumber infeksi, menyingkirkan tunggul dan sisa-sisa akar tanaman sebelumnya yang dapat menjadi sumber infeksi. hasil penelitian menunjukkan bahwa akar karet berdiameter 1 cm dengan panjang 4 cm dapat menjadi cadangan makanan r. microporus hingga kurang lebih 4 bulan di tanah. lubang penanaman diberi belerang100 – 200 gram per lubang, 2) seleksi bibit, seleksi benih dengan menggunakan bibit / klon karet yang unggul dan tahan terhadap penyakit klkon bpm 107, pb 260, pb 330, avros 2037, bpm 109, irr 104, pb 217, pb 340, pbm 1, pr 261, rric 100, irr 5, irr 39, irr 42, irr 112, dan irr 118, 3) pemeliharaan tanaman, jarak tanam diatur tidak terlalu rapat untuk intensitaspenyinaran matahari, pemupukan berimbang dan pembuatan drainase, 4)penanaman kacangan penutup tanah sebelum penanaman, lubang tanam ditaburi campuran biakan jamur trichoderma sp. dengan kompos sebanyak 200 gram/lubang tanam (1 kg trichoderma sp. dicampur dengan 50 kg kompos). jika terdapat tanaman sakit, maka tanaman tersebut dan 4 tanaman di sekitarnya ditaburi 200 g dengan trichoderma sp.+ kompos. demikian pula jika terdapat tanaman sakit yang harus dibongkar, maka bekas lubang dan 4 tanaman di sekitarnya diperlakukan sama. pada tanaman yang bergejala ringan, masih dapat diselamatkan dengan cara membuka perakaran, permukaan akar yang ditumbuhi jamur dikerok dengan alat yang tidak melukai akar. bagian yang busuk dipotong dan dibakar. bekas kerokan dan potongan diberi ter, kemudian seluruh permukaan akar dioles dengan fungisida yang direkomendasikan (misal bubur bordo, calixin 750 ec, antico f-96, delsene, bayleton 250 ec). setelah mengering, ditutup kembali dengan tanah. periksa kembali 6 bulan kemudian, jika masih terdapat jamur maka dikerok dan dioles dengan fungisida. tanaman yang terserang berat atau telah mati/tumbang harus dibongkar, bagian pangkal batang dan akarnya dikubur di luar areal pertanaman, menggunakan wadah agar tanah tidak tercecer di dalam kebun. penulis : m. haris can, sp sumber: pusat penelitian dan pengembangan perkebunan – balitbangtan