Loading...

Pengendalian Kutu Daun Pada Tanaman Bunga Mawar (Rosa hybrida)

Pengendalian Kutu Daun Pada Tanaman Bunga Mawar (Rosa hybrida)
Indonesia telah dikenal penduduk dunia sangat kaya akan berbagai jenis flora, salah satu diantaranya adalah mawar, yang termasuk jenis tanaman hias berbunga. Bunga mawar memiliki kharisma tersendiri dalam simbol-simbol religi dan tatanan kehidupan manusia. Di samping itu bunga mawar merupakan komoditas yang bermanfaat sebagai bahan obat, pewangi dan penyaman lingkungan hidup. Mawar diduga berasal dari belahan bumi utara terutama di dataran Cina, Timur Tengah atau Eropa Timur. Daerah pusat penyebaran tanaman mawar semula terkonsentrasi di kawasan Alaska atau Siberia, India, Afrika Utara dan Indonesia, kemudian menyebar luas ke seluruh dunia. Jenis mawar berdasarkan kelompoknya yang ada di dunia yaitu Hybrid Tea, Polyantha (Baby Rose), Floribunda, Mawar Pagar (Climbing Rose), Grandiflora.Tanaman mawar banyak dibudidayakan di ketinggian 500 m dpl sampai dataran tinggi + 1.500 m dpl. Pra syarat iklim lainnya adalah suhu udara relatif sejuk antara 18 o - 26 o C, kelembaban 70 % - 80 %, mendapat sinar matahari langsung dan penuhKeadaan lingkungan tanaman tersebut mempengaruhi keadaan ekosistemnya yang selanjutnya dapat mempengaruhi jenis hama yang dominan pada lingkungan tersebut. Meskipun ambang kendali hama pada tanaman hias sangat rendah, pengendalian secara terpadu tetap perlu diupayakan dalam rangka meningkatkan produksi tanaman hias baik kualitas maupun kuantitas. Di Indonesia daerah sentra bunga potong mawar banyak ditanam di Bandungan, Cipanas dan Brastagi.Mawar yang dikenal sebagai "Ratu Bunga" memiliki nilai ekonomi dan sosial yang cukup tinggi. Untuk itu berbagai upaya dilakukan petani untuk meningkatkan produksi, baik secara kualitas maupun kuantitas. Akan tetapi berbagai kendala kerap kali dihadapi petani yaitu adanya serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Salah satu OPT yang perlu diwaspadai adalah kutu daun yang dikenal dengan nama ilmiah Macrosiphum rosae Linn. – Aphid; termasuk dalam Ordo Homoptera, Famili Aphididae.Informasi serangan kutu daun pada tanaman mawar dari daerah belum ada sampai saat ini. Namun berdasarkan hasil penelitian, populasi kutu daun menurun akibat pengaruh curah hujan yang tinggi, sehingga tingkat serangan kutu daun pada mawar dapat mencapai 35 %. Hama ini bersifat polifag, selain pada tanaman mawar kutu daun juga menyerang tanaman lainnya seperti kentang, tomat, cabe, petsai, kubis, sawi, ketimun, semangka, ubi jalar, terung, jeruk, buncis, kapri, jagung.Tanaman mawar yang terserang kutu daun mawar biasanya membentuk koloni, bergerombol pada bagian tertentu dari tanaman inang. Kerusakan tampak pada bagian tanaman yang masih muda, misalnya tunas-tunas dan daun-daun serta tangkai daun yang muda. Hal ini terjadi karena serangga menusukkan stiletnya, kemudian mengisap cairan sel tanaman, sehingga daun berkerut dan keriting serta pertumbuhan terhambat.Kutu daun ini juga dapat menjadi vektor penyakit virus. Selain itu sekresi kutu daun ini yang berbentuk embun madu menjadi media bagi perkembangbiakan cendawan embun jelaga yang berwarna hitam.Serangga kutu daun sangat mudah dikenali, mempunyai tubuh berbentuk oval, lunak, panjang rata-rata 2,0 – 3,6 mm; berwarna hijau kekuning-kuningan sampai hijau. Serangga jantan lebih besar dari pada serangga betina. Di dekat ujung abdomen terdapat sepasang kornikel (cornicie) berbentuk tabung yang merupakan ciri khas kutu daun. Di bagian kepala terdapat sepasang antena yang panjangnya hampir sepanjang badannya. Di ujung abdomen terdapat sebuah cauda. Kutu daun tidak menyebabkan kerusakan yang berarti, khususnya pada tanaman hias, tetapi pada tanaman tertentu perannya sebagai vektor virus jauh lebih berbahaya, karena virus ini menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi. Kutu daun berbeda dengan serangga lainnya dalam berkembang biak, yaitu dengan melahirkan anaknya (partenogenesis). Kutu betina mencapai dewasa dalam 4 – 20 hari tergantung pada suhu. Kutu betina dapat menghasilkan 20 – 40 nimfa dengan kisaran 2 – 9 per hari. Serangga dewasa dapat hidup sekitar 2 – 3 minggu.PENGENDALIANPengendalian kutu daun dapat dilakukan dengan menerapkan sistem pengendalian hama terpadu (PHT). Beberapa cara yang dapat ditempuh antara lain dengan pengendalian secara kultur teknis. Cara kultur teknis antara lain dengan pemupukan dan pengairan yang seimbang, sanitasi kebun dengan membersihkan gulma yang ada di sekitar tanaman, dan penggunaan varietas. Berdasarkan pengalaman petani, varietas Pertiwi dan varietas Apollo relatif tahan terhadap serangan hama kutu daun.Cara lain yakni dengan menggunakan mulsa plastik berwarna perak. Mulsa plastik diyakini mampu menekan perkembangan populasi kutu daun di lahan terbuka. Bisa juga dalam penanaman dibuat dua barisan tanaman jagung sebagai barier di sekeliling petak mawar. Langkah ini sanggup menekan populasi kutu daun.Pengendalian hama terpadu diantaranya juga dilakukan secara mekanis. Pengendalian secara mekanis dilakukan dengan pencucian bagian tanaman yang terserang dengan sabun dan air.Sementara, pengendalian secara biologis atau hayati dapat menggunakan musuh alami (predator) kutu daun,. Pemanfaatan musuh alami misalnya predator kumbang Coccinellidae : Coccinella transversalis, Menochillus sexmaculata.Jika menggunakan bahan kimia dalam pengendalian kutu daun, maka perlu diperhatikan jenis, waktu aplikasi dan dosis pestisida. Disarankan menggunakan pestisida yang telah terdaftar di Departemen Pertanian seperti insektisida Decis 2,5 EC (bahan aktif deltamerin), Buldok 25 EC (bahan aktif bahan aktif betasiflutrin), Condifor 200 LC (bahan aktif imidakloprid), Curacron 500 EC (bahan aktif profenos).Penulis : Dalmadi BBP2TP BogorEmail. dmdl2011@yahoo.comSumber Bacaan dan foto : Warlinson Girsang, Ditjen Hortikultura, dan sumber lainnya