Loading...

Pengendalian OPT Ramah Lingkungan

Pengendalian OPT Ramah Lingkungan
1.1 Latar BelakangMelihat kondisi sekarang ini prilaku petani dalam budidaya tanaman masih banyak yang mengandalkan pupuk anorganik (kimia) dan pestisida kimia (sintetis). Selain yang harganya mahal, pestisida kimia juga memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehahatan manusia. Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain adalah:1. Hama menjadi kebal (resistan)2. Peledakan hama baru3. Penumpukan residu bahan kimia didalam hasil panen4. Terbunuhnya musuh alami5. Pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia6. Kecelakaan bagi penggunaJadi kalau kita amati pertanian sekarang ini sudah tidak memperhitumgkan kearifan lagi. Dan mulai saat ini kita dituntut untuk merubah prilaku supaya lebih arif dan bijak dalam pengelolaan tanaman yaitu dengan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Memanfaatkan potensi lokal seperti pupuk organic, pestisida nabati dan pengendali hayati. 1.2 Tujuan1. Pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan2. Mengurangi ketergantungan terhadap pupuk maupun pestisida kimia3. Memanfaatkan potensi lokal disekitar kita4. Menutup input dari luar5. Meningkatkan penghasilan petani6. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan petani dalam pengelolaan pupuk organic, pestisida nabati dan pengembangan agen hayati. 1.3 Sumber Daya ManusiaPenerapan pengendalian hama dan penyakit tumbuhan harus dilandasi oleh pemahaman terhadap konsep PHT (Pengendalian Hama Terpadu) yaitu mempertimbangkan keselamatan lingkungan pertanian dan efisiensi agar aktifitas bertani dapat berkelanjutan. Sasarn PHT tidak hanya mengupayakan peningkatan penghasilan dan kesejahteraan petani serta mengurangi resiko pencemaran lingkungan akibat penggunaan pestisida kimia.Pengendalian OPT harus memenuhi aspek ekologi, aspek ekonomi, aspek social dan aspek teknis.1. Aspek Ekologi? Tidak mengganggu kesehatan dan tidak mengancam keselamatan manusia.? Tidak mengganggu kehidupan musuh alami dan organisme bukan sasaran lain.? Tidak menimbulakan gangguan dan kerusakan sumber daya alam dan lingkungan hidup.? Tidak menimbulkan residu yang berbahaya bagi hasil tanaman.2. Aspek Ekonomi? Biaya terjangkau oleh masyarakat.? Memberikan manfaat yang optimal.3. Aspek Sosial? Mudah dilaksanakan.? Dapat diterima atau dikembangkan masyarakat setempat.? Sesuai kemampuan masyarakat setempat.? Mendorong aktivitas kemandirian masyarakat melakukan PHT.4. Aspek Teknis? Memadukan cara – cara pengendalian yang serasi, selaras dan seimbang.? Dapat menekan populasi OPT atau tingkat serangan OPT sampai batas tidak merugikan secara ekonomis.? Mengutamakan cara pengendalian budidaya fisik, mekanik, biologis dan genetik.? Memanfaatkan semaksimal mungkin faktor pengendali alami. Salah satu unsur pengendali alami yang penting adalah unsur – unsur biotis (hidup) yang lebih dikenal dengan musuh alami. Musuh alami (agen hayati) yaitu yang terdiri dari golongan predator, parasitoid, pathogen serangga dan agen antagonis. Agen pengendali hayati adalah setiap organisme yang meliputi spesies, subspecies, varietas semua jenis serangga, nimatoda, protozoa, cendawan, bakteri, virus, mikroplasma serta organisme lain yang dalam semua tahap perkembangannya dapat digunakan untuk keperluan pengendalian hama dan penyakit dalam proses produksi, pengolahan hasil pertanian dan berbagai keperluan lainnya. PredatorPredator adalah serangga yang memangsa serangga hama untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Antara agen hayati dan hama tanaman dikenal hubungan sebagai predator dan mangsa. Untuk menyelesaikan siklus hidupnya predator membutuhkan lebih dari satu (banyak) mangsa. Predator umumnya memangsa mangsa yang sama yaitu telur, mimfa, pupa dan imago. ParasitoidParasitoid adalah serangga yang memarasit ( hidup dan berkembang dengan menumpang ) serangga lain (yang disebut inang). Yang bersifat sebagai parasit adalah hanya fase pra dewasa (larva), sedangkan fase dewasa (imago) hidup bebas dan sebagai sumber makanannya adalah embun madu dan zat lain yang mengandung gula. Inang bisa dari berbagai stadium yaitu telur, larva/mimfa dan pupa. PathogenPathogen adalah mikro organisnme yang menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit pada individu OPT. Apabila individu OPT yang terserang merupakan serangga hama, maka disebut entomopatogen. Yang termasuk entomopatogen adalah bakteri, virus, cendawan, nematode, protozoa dan riketsia. Agen AntagonisAgen antagonis adalah mikro organisme yang mengintervensi aktivitas pathogen penyebab penyakit tumbuhan. Untuk mengendalikan pathogen penyebab penyakit tanaman terutama pathogen tular tanah dari berbagai jenis tanaman telah digunakan agen hayati yang tergolong organisme antagonis seperti Gliocladium dan Trichoderma yang mampu efektif mengendalikan penyakit pada tanaman. PAKET BAHAN PENGENDALI OPTRAMAH LINGKUNGAN 1. Pembuatan kompos Tricho dibuat 1200 kg.Bahan:a. 30 sak kotoran ternakb. 3 sak tanah rumpun bambuc. 3 sak arang sekamd. 3 sak serbuk gergaji / jeramie. 30 kg dedak halusf. 100 kg dolomit.? Semua bahan ( a s/d f) diaduk hingga rata, kemudian di beri larutan: 15 liter larutan Humid Acid (Ha 5 mn), 3 liter Decomposer (Em-4), dengan cara setiap 5 liter larutan Ha + 1 liter Dekomposer (Em-4) dicampur dengan ± 50 liter air, kemudian siram dan aduk hingga rata kedalam adukan (a s/d f), hingga kondisi adukan lembab.? Lalu diratakan dengan ketinggian 25 cm – 30 cm, diatas adukan ditebar seresah daun bambu kering, lalu ditutup rapat dengan plastik.? Biarkan selama ± 7 hari.? Selanjutnya setelah 7 hari, plastik dan penutup seresah daun bambu kering dibuka, adukan diaduk – aduk (kering anginkan) selama sehari.? Kemudian siram larutan AH Trichoderma dengan takaran 1liter/10 – 15 liter air, aduk – aduk hingga rata (menghabiskan ± 15 liter larutan Tricho).? Selanjutnya tutup kembali (seperti keadaan semula), biarkan selama 5 – 7 hari, kompos bias digunakan.2. Pembuatan dan Perbanyakan PGPR dibuat 75 liter.a. 3 rumpun akar bambu; rendam dalam air bersih sebanyak 15 liter selama 3 hari (tutup rapat).b. 3 bonggol pisang diiris tipis + 5 rumpun akar rumput gajah / orok2 / enceng gondok; rendam dalam air bersih sebanyak 15 liter air bersih selama 3 hari.? Kedua larutan a dan b setelah 3 hari disaring (sumber bakteri PGPR).c. 7,5 kg dedak halus; direbus hingga mendidih dengan air sebanyak ± 85 liter, kemudian disaring dengan kain kasa, dengan larutan ekstrak dedak ± sebanyak 75 liter.d. 1,5 kg gula pasir.e. 30 jempol kaki terasi (dihaluskan).f. 3 – 5 bungkus Royco sapi.g. 50 sendok makan enjet kapur sirih.? Semua bahan d s/d g dimasukan dalam larutan ekstrak dedak (c) dan dipanaskan kembali hingga mendidih, diaduk – aduk hingga benar rata semua bahan, lalu disaring kembali dengan kain kasa halus, dan disimpan dalam wadah/ember, tutup rapat dan biarkan selama semalam (suhu dingin).? Setelah suhu benar – benar dingin, secara cermat buka tutup (secukupnya) untuk memasukkan biang PGPR hasil explorasi a dan b, masing – masing sebanyak ± 10 liter dan tutup rapat kembali.? PGPR bisa digunakan setelah 5 hari.3. Perbanyakan APHA. Corynebacterium (75 liter)B. Metarhizium (75 liter)C. B. Bassiana (75 liter)Teknik perbanyakan:? Media cair Ekstrak Kentang Gula (EKG)/75 liter larutan.a. 12,5 kg kentang; dikupas dan diiris tipis dengan ukuran ( 2 mm x ½ cm x 1 cm), rebus dalam air hingga mendidih, kemudian disaring dengan kain kasa.b. 1,5 kg gula pasir; masukan kedalam ekstrak larutan kentang aduk hingga rata (suhu tetap panas), kemudian masukan kedalam derigen (dalam kondisi tidak dingin), tutup rapat (catatan: jumlah larutan dalam derigen maksimal sebanyak 2/3 dari kapasitas larutan derigen), setelah dingin masukan stater APH ( Corynebacterium) dengan takaran 1 liter/14 liter larutan EKG), kemudian digantung dengan tali, dan setiap 3 kali sehari selama ± 15 menit, dilakukan selama ± 7 hari berturut – turut, larutan APH EKG siap digunakan. 4. Pembuatan Insekt Nabati (sasaran Kutu Kebul, Kutu Daun, Kepik dan serangan hama) dibuat 75 liter.Bahan:a. 15 kg umbi gadungb. 1,5 kg daun sirihc. 2 kg bawang putihd. 1 kg cabe merahe. 50 butir kapur barus? Semua bahan a s/d e ditumbuk halus.? Masukan dalam wadah yang telah diisi air bersih sebanyak ± 75 liter, tutup rapat dan diamkan selama ± 5 hari.? Selanjutnya larutan disaring dengan kain kasa, dan masukan 500 gram gula pasir serta 100 gram deterjen aduk – aduk perlahan hingga larut, siap digunakan sebagai insekt nabati.5. Pembuatan Fungisida Nabati dibuat 75 liter.Bahan:a. 7,5 kg lengkuasb. Daun ketepengc. Daun sirihd. 10 butir pinang masake. 10 butir gambirf. 7,5 kg sereh wangi? Semua bahan a s/d f ditumbuk halus, masukan kedalam 75 liter air dan tambahkan 5 liter urin kambing, diamkan selama 7 hari, saring dengan kain kasa ( sebagai larutan A).g. 5 kg belerangh. 1 kg kapur tohor/enjet? Kedua bahan direbus dalam air 10 liter, aduk – aduk, ambil cairan sebanyak 5 liter (sebagai larutan B).? Campur kedua larutan A dan B diaduk hingga benar – benar rata (menyatu).? Larutan siap digunakan. 6. PerangkapBahan:a. Botol bekas air mineralb. Cat warna putih, kuning dan hijauc. Ajir bambud. Lem tikus Cara membuat: encerkan ketiga warna cat dengan tiner secara terpisah (sendiri – sendiri), masing masingwarna masukan kedalam botol hingga bagian dalam botol rata dengan cat, lalu pindahkan kedalam botol yang lain tunggu sampai kering.Pasang ajir bambu dihamparan tanaman dengan jarak 10 m², pasangkan botol yang sudah dicat ke ajir bambu dengan cara terbalik dan dengan warna acak, lalu lilitkan lem tikus dengan membentuk spiral, setelah terkena sinar matahari akan merata dengan sendirinya.