Pengendalian Organisme Pengganggu (OPT) tanaman jeruk seperti hama dan penyakit merupakan hal yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas jeruk. Dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan pengendalian OPT jeruk, sebaiknya dilakukan dengan mengintegrasikan berbagai cara pengendalian seperti cara fisik, biologi, dan kimiawi merupakan alternatif terakhir apabila cara-cara lain tidak memberi hasil. Beberapa hal yang perlu dipahami dalam pengendalian OPT jeruk ialah gejala serangan dan pengamatan populasi. Pengendalian OPT beberapa hama dan penyakit tanaman jeruk adalah sebagai berikut: 1. Hama Kutu Loncat (Diaphorina citri Kuyawana)Gejala: - Daun-daun berkerut, menggulung atau kering akibat penghisapan cairan tunas oleh nimfa atau kutu dewasa; - Pada tunas muda atau bagian daun terserang, terdapat sekresi atau kotoran kutu berupa benang putih mirip spiral. Pengendalian: - Cara fisik mekanis, dengan mengeradikasi tanaman inang lannya yaitu kemuning dan daun tapak dara; - Cara biologi, dengan memanfaatkan musuh alami parasitoid (seperti Tamarxia radiata), predator (seperti Cutinus coeruleus Musant), dan patogen (seperti Metarrhizum sp). - Cara kimiawi, dengan menggunakan Dimethoate (foliar spray), dosis 2 cc/liter. 2. Kutu Daun Coklat (Toxoptera citricidus Kirk)Gejala: - Daun muda yang terserang tampak mengkerut dan keriput akibat tusukan ilet dan penghisapan cairan tanaman; - Pertumbuhan tanaman agak terhambat, apabila populasi serangga tinggi; - Sekresi serangga biasanya ditumbuhi oleh cendawan Capnodium yang berwarna hitam menutupi permukaan daun dan biasanya juga dijumpai semut yang menyukai sekresi kutu tersebut. Pengendalian: - Cara kultur teknis, dengan menjaga kebersihan kebun (sanitasi terhadap gulma) dan penggunaan mulsa jerami di bedengan pembibitan jeruk; - Cara fisik mekanis, dengan membunuh secara langsung terutama bila tingkat serangannya tidak berat dan tidak luas; - Cara biologi, dengan predator (seperti Syrphidae dan Lycosidae) dan parasitoid (seperti Aphytis sp) - Cara kimiawi, dengan menggunakan isektisida (foliar spray seperti Endosulfan), dosis 2 cc/liter. 3. Citrus Vein Phloem Degenaration (CVPD oleh bakteri Liberobacter asiaticum) Gejala: - Daun-daun pada tajuk tanaman tampak kaku dan berwarna kuning; - Jumlah tajuk dan daun yang menunjukkan gejala, tergantung pada tingkat intensitas serangannya, mungkin hanya sebagian kecil dari bagian tanaman, pada sebagian tajuk, atau seluruh tajuk tanaman; - Tulang-tulang daun dan urat-urat daun tampak lebih menonjol dengan warna tetap hijau; - Pengamatan kikroskopis terhadap potongan melintang tulang daun menunjukkan kerusakan tampak bahwa jaringan daun tanaman sakit, yang ditunjukkan dengan adanya jalur putih; - Ukuran buah jeruk yang dihasilkan menjadi kecil-kecil hingga sebesar kelereng. Pengendalian: - Cara kultur teknis dengan penggunaan bibit jeruk bebas penyakit dan menanam bibit jeruk pada lahan yang aman dan terbebas dari sumber inokulum CVPD; - Cara fisik mekanis, dengan eradikasi dan sanitasi kebun terhadap inang lain CVPD dan Diaphorina citri; - Cara biologi dengan predator, parasitoid, dan patogen untuk menekan populasi serangga penular; - Melarang peredaran benih jeruk yang tidak jelas asal-usulnya. Penulis: Mariati Tamba (Penyuluh Pertanian Pusat) Sumber: Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian