Loading...

Pengendalian Penyakit Blast Pada Padi Sawah

Pengendalian Penyakit Blast Pada Padi Sawah
PENGENDALIAN PENYAKIT BLAST PADA TANAMAN PADI Dalam rangka Penanganan Budidaya padi yang baik guna terwujudnya swasembada pangan maka pengendalian hama dan penyakit tanaman padi merupakan hal yang mutlak dan tak bisa di abaikan. Salah satu syarat keberhasilan pengendalian penyakit Tanaman Padi adalah identifikasi /mengenal jasad pengganggunya, jadi kita harus mengetahui dan mengenal Organisme penggangu tanaman padi tersebut agar bisa melakukan pengendalian dengan tepat.Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) ada dua jenis antara lain :1. Hama Tanaman adalah : OPT yang menyerang tanaman yang jasadnya bisa terlihat oleh mata telanjang.2. Penyakit Tanaman adalah : Organisme pengganggu tanaman yang menyerang tanaman yang jasad atau tubuhnya tidak bisa dilihat dengan mata telanjang , hanya bisa dilihat dengan mikroskop, namun kita dapat mengenalnya dari gejala yang ditimbulkannya .Contoh organisme penyebab penyakit antara lain ; Bakteri, Jamur dan virusDengan memahami tentang faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit memberi petunjuk untuk melakukan langkah-langkah yang tepat cara pengendaliannya. Blast ( Bercak belah ketupat ) atau istilah petani Sijunjung " Patah Kuduak"a. Penyebab Penyakit:- Penyakit blast (Pyricularia grisea) merupakan salah satu kendala dalam usaha meningkatkan produksi pada padi sawah. Penyakit blast akhir-akhir ini juga dilaporkan menginfeksi varietas-varietas unggul baru menjelang panen dan berpotensi secara nyata menurunkan hasil padi dalam skala yang sifnifikan. Penyakit ini menginfeksi pada semua stadia pertumbuhan tanaman dan bagian tanaman yaitu daun, buku, kelopak daun, leher malai dan gabah. Kehilangan hasil akibat penyakit ini mencapai 70%, bahkan bisa mencapai gagal panen.- Cendawan atau Jamur Pyricularia oryzae, cendawan ini berkembang bila cuaca yang lembab, jarak tanam rapat sehingga kelembaban di ekosisten tanaman padi tinggi, dan jika tanaman di pupuk dengan Nitrogen (Urea) secara berlebihan.- Penyebaran konidia cendawan ini dapat terjadi melalui benih dan angin,sisa tanaman di lapangan dan inang lainnya terutama jenis padi-padian yang terinfeksi dapat menjadi sumber penularan bagi penanaman padi berikutnya. b. Gejala Penyakit BlastBlast memiliki dua gejala khas yaitu ;- Gejala penyakit blast dapat timbul pada daun, batang, malai dan gabah, tetapi umumnya adalah pada daun dan leher malai.- Gejala pada daun berupa bercak- bercak berbentuk seperti belah ketupat dengan ujung runcing. Pusat bercak berwarna kelabu atau keputih-putihan dan biasanya mempunyai tepi coklat atau coklat kemerahan. - Gejala pada leher malai adalah busuknya ujung tangkai malai yang disebut busuk leher (neck rot). Tangkai malai yang busuk mudah patah dan menyebabkan gabah hampa. Pada gabah yang sakit terdapat bercak-bercak kecil yang bulat.- Serangan pada daun yang tinggi dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan anakan produktif yang menyebabkan malai kecil dengan sedikit gabah bahkan dapat menyebabkan seluruh tanaman mati sebelum berbunga. - Serangan pada leher malai dapat menurunkan hasil sampai 70 % karena leher malai busuk dan patah sehingga pengisian terganggu dan bulir padi menjadi hampa. c. Pengendalian Penyakit :- Pengendalian penyakit blast lebih efektif apabila dilakukan sedini mungkin. Mengingat penyakit blast dapat tertular melalui benih, maka benih yang terinfeksi tidak dianjurkan untuk ditanam.- Untuk mencegah penularan melalui benih, sebelum benih disemai perlu dilakukan pengobatan dengan fungisida sistemik seperti fungisidaTrycyclazole dengan dosis 3 – 5 gr/kg benih, dilakukan dengan cara perendaman atau pelapisan benih.- Jarak tanam yang tidak terlalu rapat atau dengan system tanam jajar legowo dan pengairan berselang dapat menekan perkembangan penyakit blast. Pertanaman yang terlalu rapat menciptakan suhu, kelembaban dan aerasi yang menguntungkan bagi perkembangan penyakit blast.- Pertanaman yang dipupuk nitrogen dengan dosis tinggi menyebabkan tanaman menjadi lebih rentan terhadap penyakit blast. - Sebaliknya dengan pupuk kalium menjadikan tanaman lebih tahan terhadap penyakit blast. - Penggunaan pupuk nitrogen, phospat dan kalium secara berimbang atau sesuai kebutuhan tanaman, tanaman menjadi sehat, sehingga perkembangan penyakit dapat ditekan dan diperoleh produktivitas yang tinggi.- Penggunaan varietas tahan merupakan cara yang efektif, murah dan ramah lingkungan untuk mengendalikan penyakit blast- Akan tetapi tidak dianjurkan menanam varietas tahan penyakit secara terus menerus sepanjang tahun, maka harus dilakukan bergiliran varietas, sehingga dapat memperlambat terjadinya ras blast yang baru yang dapat mematahkan ketahanan varietas padi.- Pengendalian dengan Penggunaan Fungisida (Kimia ), Perlakuan benih dengan fungisida sistemik mampu melindungi bibit dari serangan penyakit blast sampai pada umur 30 hari setelah tanam, selanjutnya perlu dilakukan penyemprotan.- Penyemprotan dilakukan dua kali yaitu pada saat anakan maksimum dan awal berbunga.- Beberapa fungisida yang dianjurkan untuk mengendalikan penyakit blastyaitu : Fujiwan 400 EC, Dennis 75 WP, Topsin 70 Wp, Scor 250 EC, Kasumiron 25 WP. Namun untuk pencegahan penyakit blast yang paling perlu diperhatikan petani adalah sanitasi lingkungan sawah. Mengingat pathogen dapat bertahan pada inang alternative dan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi, Penulis : Afrainis Hayati, SPPP WKPP Nagari Sijunjung 2 UPTD-BPP Sijunjung