Loading...

Pengendalian Penyakit Busuk Tongkol pada Tanaman Jagung

Pengendalian Penyakit Busuk Tongkol pada Tanaman Jagung
Jagung dikenal sebagai komoditas tanaman yang memiliki banyak fungsi. Selain sebagai bahan pangan utama kedua setelah beras, jagung juga sangat banyak digunakan sebagai bahan pakan dan juga bahan baku industri. Akibatnya, permintaan akan komoditas jagung terus meningkat. Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian mencanangkan swasembada berkelanjutan untuk komoditas ini. Bagi para pelaku utama usaha tani jagung ada beberapa kendala yang harus dihadapi, diantaranya adalah serangan hama penyakit. Serangan penyakit umumnya disebabkan oleh cendawan, bakteri dan virus. Akibat serangan penyakit ini dapat menimbulkan kerugian hingga 9,4%. Untuk menghindari kerugian akibat serangan penyakit diperlukan upaya pengendalian hama dan penyakit. Dalam melakukan upaya pengendalian yang tepat, sangat penting diketahui gejala serangan, hal-hal yang menyebabkan penyakit berkembang, serta cara-cara mengendalikannya. Dalam budidaya jagung, dikenal beberapa penyakit utama yang biasanya menyerang dan dapat menimbulkan kerugian, diantaranya adalah penyakit busuk tongkol. Tongkol merupakan bagian tanaman jagung yang befungsi sebanagi tempat bulir duduk menempel. Secara morfologi, tongkol jagung adalah tangkai utama malai yang termodifikasi. Malai organ jantan pada jagung dapat memunculkan bulir pada kondisi tertentu. Penyebab Penyakit Busuk Tongkol Berdasarkan penyebabnya, ada tiga jenis penyakit busuk tongkol, yaitu busuk busuk tongkol fusarium, busuk tongkol diplodia, dan busuk tongkol Gibberella. 1. Busuk tongkol Fusarium Penyakit busuk tongkol fusarium ditandai permukaan biji tongkol jagung berwarna merah jambu sampai coklat, kadang-kadang diikuti oleh pertumbuhan miselium seperti kapas berwarna merah jambu. Cendawan berkembang baik pada sisa tanaman maupun di dalam tanah, cendawan ini dapat terbawa benih, penyebarannya dapat melalui angin atau tanah. Penyakit busuk tongkol Fusarium disebabkan oleh infeksi cendawan Fusarium moniliforme. 2. Busuk tongkol Diplodia Serangan busuk tongkol diplodia ditandai adanya warna coklat pada klobot. Jika infeksi terjadi setelah 2 minggu keluarnya rambut jagung menyebabkan biji berubah menjadi coklat, kisut akhirnya busuk. Miselium cendawan diplodia berwarna putih, piknidia berwarna hitam tersebar pada kelobot. Infeksi dimulai dari dasar tongkol berkembang ke bongkol kemudian merambat ke permukaan biji serta menutupi kelobot. Cendawan dapat bertahan hidup dalam bentuk spora dan piknidia berdinding tebal pada sisa tanaman di lahan. Gejala busuk tongkol Diplodia disebabkan oleh infeksi cendawan Diplodia maydis. 3. Busuk tongkol Gibberella Serangan dini pada tongkol jagung dapat menyebabkan tongkol jagung menjadi busuk, kelobotnya saling menempel erat pada tongkol, serta buahnya berwarna biru hitam di permukaan kelobot maupun bongkol. Gejala busuk tongkol Gibberella disebabkan oleh infeksi cendawan Gibberella roseum . Pengendalian penyakit busuk tongkol ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu: • Pemupukan berimbang• Tidak membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lahan, jika musim hujan bagian batang di bawah tongkol dipotong agar ujung tongkol tidak mengarah ke atas. • Pergiliran tanaman mengunakan tanaman bukan termasuk padi-padian, karena patogen ini mempunyai banyak tanaman inang. Sumber: Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. 2008. Petunjuk Lapang Hama, Penyakit, Hara pada Tanaman Jagung. Penulis: Ume Humaedah (Penyuluh Pertanian Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian); Email: ume_humaedah@yahoo.com