Loading...

PENGENDALIAN PENYAKIT CABE

PENGENDALIAN PENYAKIT CABE
PENDAHULUAN Cabai Merah (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas sayuran yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi dan prospek yang cukup cerah. Kebutuhan cabai terus meningkat setiap tahun sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri yang membutuhkan bahan baku cabai. Dari sisi produsen, akhir-akhir ini usahatani cabai mengalami permasalahan cukup serius dalam hal budidaya. Salah satu resiko usaha tani yang belum mampu dikuasai petani adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) baik hama maupun penyakit. Permasalahan tersebut mengakibatkan menurunnya produkvitas cabai. Berikut ini kami jelaskan macam-macam penyakit pada tanaman cabai dan pengendaliannya.Penyakit-penyakit Tanaman Cabai dan Pengendaliannya1. AntraknosePenyebab (patogen) dan gajala penyakit :Penyakit antraknose disebabkan oleh dua jenis jamur yaitu Colletotrichum capsici dan Colletotrichum gloeosporioides. Gejala pada biji berupa kegagalan berkecambah dan pada kecambah menyebabkan layu semai. Pada tanaman yang sudah dewasa menyebabkan mati pucuk, pada daun dan batang yang terserang menyebabkan busuk kering. Buah yang terserang C. capsici menjadi busuk dengan warna sepertiterekspos sinar matahari (terbakar) yang diikuti busuk basah berwarna hitam, karena penuh dengan rambut hitam (setae),jamur ini pada umumnya menyerang buah cabai menjelang masak (buah berwarna kemerahan). Jamur C. Gloeosporioidesmemiliki dua strain yaitu strain R dan G. Strain R hanyamenyerang buah cabai masak yang berwarna merah, sedangkan strain G dapat menyerang semua bagian tanaman, termasuk buah cabai yang masih berwarna hijau maupun buah yang berwarna merah.Populasi C. Gloeosporioides di alam jauh lebih banyak daripada C. capsici. Kedua jenis patogen tersebut dapat bertahan di biji dalam waktu yang cukup lama dengan membentuk acervulus, sehingga merupakan penyakit tular biji.Cara pengendalian :1 Menanam benih yang sehat dan bebas patogen di lahan yang juga bebas dari patogen; 2 Melakukan perawatan benih (biji) dengan merendam dalam air hangat (550 C) selama 30 menit, atau perawatan benih denganfungisida efektif yang direkomendasikan; 3 Melakukan sanitasi pada pertanaman dengan cara membakar bagian tanaman yang terserang untuk menekan populasi patogen sejak awal; 4 Menanam varietas cabai yang toleran terhadap penyakit; 5 Melakukan pergiliran tanaman dengan menanam tanaman yang bukan sebagai inang patogen; 6 Melakukan sanitasi terhadap berbagai gulma yang menjadi inang alternatif patogen, seperti Borreria sp. 7 Menanam varietas cabai berumur genjah dalam upaya memperpendek periode tanaman terekspos patogen; 8 Menggunakan fungisida efektif yang direkomendasikan menekan perkembangan patogen secara bijaksana, terutama pada saat pematangan buah; 9 Melakukan prosesing (pascapanen) dengan cara mengeringkan buah cabai dengan cepat atau disimpan pada suhu 0o C dapat membebaskan buah dari serangan patogen selama 30 hari.2. Busuk PhytophthoraPenyebab (patogen) dan gajala penyakitPenyakit tersebut disebabkan oleh jamur Phytophthora capsici. Patogen dapat menyerang pada seluruh bagian tanaman. Serangan padatanaman yang masih dipersemaian dapat menimbulkan gejala layu semai. Infeksi pada batang dimulai dari pangkal batang, yang menunjukkan gejala busukbasah, berwarna coklat kehitaman. Infeksi pada tanaman yang muda menyebabkan kematian tanaman. Infeksi pada tanaman yang telah dewasa menyebabkan batang tanaman mengeras dan akhirnya layu. Infeksi pada daun menyebabkan daun tampak seperti disiram air panas dan akhirnya daun mengering dan gugur. Infeksi pada buah menyebabkan buah berwarna hijau gelap dan busuk basah. Jamur dapat bertahan didalam tanah maupun biji, mampu bertahan dari kondisi yang tidak menguntungkan dengan membentuk oospora.Cara pengendalian :1 Sanitasi lapangan dari gulma yang dapat menjadi inangalternatif dan tanaman sakit, untuk meminimalkan sumber inokulum awal;2 Merawat benih dengan fungisida efektif untuk jamur golongan oomycetes, misalnya yang berbahan aktif metalaksil;3 Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang patogen;4 Tidak menanam varietas yang rentan, terutama di lokasi yang sudah banyak terdapat patogen;5 Menggunakan mulsa plastik untuk menghindari penyebaran patogen dari buah, daun, dan batang atas ke dalam tanah atau sebaliknya;6 Membuat tata air yang baik untuk menekan perkembangan jamur dalam bentuk oospora maupun zoospora; 7 Menggunakan fungisida efektif yang bersifat sistemik yang direkomendasikan secara bijaksana, terutama untuk tanaman dewasa. 3. Layu FusariumPenyebab (patogen) dan gajala penyakitPenyebab penyakit layuFusarium adalah jamur Fusarium oxysporum var. vasinfectum. Infeksi pertama umumnya terjadi pada pangkal batang yang langsung berhubungan dengan tanah. Pangkal batang tersebut menjadi busuk dan berwarna coklat tua. Infeksi lanjut menjalar ke daerah perakaranDan menyebabkan kerusakan pada akar (busuk basah). Apabila kelembaban lingkungan cukup tinggi, bagian pangkal batang tersebut berubah warna menjadi keputih-putihan karena banyakterbentuk spora. Infeksi yang parah menyebabkan seluruh bagian tanaman menjadi layu karena transport air dan nutrisi ke bagianatas tanaman terganggu. Jamur membentuk makro konidia (dengan dua – enamsepta) dan mikro konidia (sel tunggal) dan klamidospora (hifaberdinding sel tebal). Klamidospora dapat bertahan lama padakondisi lingkungan yang tidak menguntungkan untuk pertumbuhan jamur. Suhu untuk pertumbuhan optimal jamur berkisar antara 24-27oC, sehingga penyakit layu Fusarium tersebut banyak berkembang di daerah dataran rendah, terutama yang berdrainase kurang baik. Patogen dapat menyebar melalui hembusan angin dan aliran air.Cara pengendalian :? Membuat tata air yang baik untuk dapat mengatur lengastanah dan kelembaban lingkungan, supaya perkembangan jamur Fusarium dapat dihambat;1 Tidak menanam varietas cabai yang rentan penyakit terutama pada lokasi yang sudah terinfeksi patogen;2 Pengolahan tanah yang baik dan ditutup dengan plastik putih selama 3 hari. Dengan cara tersebut suhu tanah dapat mencapai 70o C yang berakibat pada penekanan sumber inokulum awal;3 Melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman yang bukansebagai inang patogen;4 Menggunakan fungisida efektif yang direkomandasikan secara bijaksana. 4. Bercak Daun CercosporaPenyebab (patogen) dan gajala penyakitPenyakit bercak daun pada cabai disebabkan oleh jamurCercospora capsici. Gejala pada daun berupa bercak sirkulerdengan bagian tengah berwarna abu-abu, dan bagian luarnyaberwarna coklat tua. Pada kelembaban tinggi, bercak cepatmelebar, kemudian mengering dan pecah dan akhirnya gugur. Daun yang terinfeksi berat berubah warna menjadi kuning dangugur ke tanah.Jamur dapat bertahan lama dari musim ke musim padasisa-sisa tanaman yang terinfeksi atau dapat terbawa biji. Serangan yang parah umumnya pada tanaman yang memasuki fase pembungaan. Penyebaran penyakit melalui spora yang ditiup angin, percikan air hujan, air siraman, dan alat pertanian pekerja kebun. Perkembangan penyakit sangat cepat apabila kondisi lingkungan sangat kondusif, yaitu kelembaban relatifudara lebih dari 90 %, dengan suhu udara 28-32oC. Penyakit lebih sering merugikan pada tanaman cabai yang ditanam di dataran tinggi daripada yang ditanam di dataran rendah.Cara pengendalian :1 Menanam benih yang sehat dan bebas patogen;2 Melakukan sanitasi lapangan terhadap gulma yang menjadiinang alternatif patogen serta tanaman yang terinfeksi dan di musnahkan, untuk mengurangi sumber inokulum awal;3 Menbuat tata air yang baik untuk menjaga kelengasan tanah dan kelembaban lingkungan yang dapat menghambat perkembangan patogen;4 Menggunakan fungisida efektif yang direkomendasikan secara bijaksana.5. Layu BakteriPenyebab (patogen) dan gajala penyakitPenyebab penyakit layu bakteri adalah bakteri Ralstonia solanacearum. Gejala layu secara tiba-tiba dapat terjadi padatanaman muda maupun dewasa. Jaringan pembuluh batangbagian bawah rusak dan akar berwarna kecoklatan. Apabilajaringan batang atau akar dipotong melintang danDicelup dengan air yang jernih, jaringan sakit akan mengeluarkan cairan keruh seperti susu yang merupakan koloni bakteri. Bakteri berbentuk batang dengan ukuran 0,5 x 1,5 m,tidak membentuk spora, bersifat aerob dan termasuk golongan gram negatif. Bakteri menginfeksi tanaman lewat luka pada bagian akar dan masuk ke dalam jaringan pembuluh untuk memperbanyak diri. Infeksi lebih lanjut menyebabkan jaringan pembuluh rusak dan tidak dapat berfungsi mengangkut air dannutrisi ke bagian atas tanaman. Bakteri mampu bertahan hidup di dalam tanah dalam jangka waktu yang lama. Tanaman inang alternatif umumnya yang termasuk dalam Solanaceae sepertitomat, terung, tembakau dan kentang.Cara pengendalian :1 Melakukan pergiliran tanaman dengan menanam tanaman yang bukan sebagai inang patogen. Pergiliran dengan menanam padi sawah (diairi) sangat membantu menekan populasi patogen di dalam tanah;2 Membuat saluran drainase yang baik untuk mencegah genangan air;3 Menanam varietas cabai yang tahan penyakit.6. Virus Kuning (Pepper Yellow Leaf Curl Virus – Bulai)Penyebab (patogen) dan gajala penyakitPenyakit virus kuning yang disebabkan oleh virus Gemini. Patogen juga dapa tmenyerang tanaman tomat serta tanaman lain yang termasuk dalam Solanaceae dan Cucurbitaceae. Penyakitditularkan melalui vektor kutu kebul (Bemicia tabaci). Kerusakan yang ditimbulkan sangat bervariasi, tergantung kondisi lokasi pertanaman dan stadia tanaman saat terinfeksi. Semakin awal tanaman terinfeksi virus, semakin besar kehilangan hasil yang disebabkannya. Gejala yang timbul padacabai besar berupa menguningnya daun tanaman, daun mengecil dan keriting, tanaman menjadi kerdil, bunga rontok yang berakibat tanaman tidak menghasilkan buah. Pada cabai rawit gejala yang timbul adalah menguningnya seluruh daun dantanaman dapat menjadi kerdil bila infeksi terjadi sejak awalpertumbuhan tanaman, sehingga tanaman bisa tidak menghasilkan (gagal panen).Cara pengendalian :1 Menggunakan benih yang sehat dan bebas patogen. Pembuatan benih dapat dilakukan dengan menyungkup pesemaian dengan kain kasa berlubang halus untuk menghindari masuknya vektor B. tabaci, sehingga virus tidak dapat ditularkan;2 Melakukansanitasi lapangan dari gulma yang menjadi inang alternatif maupun tanaman sakit sejak awal untuk menekan populasi inokulum awal;3 Menanam varietas cabai yang toleran. Cabai rawit dinyatakan lebih toleran dibandingkan cabai besar;4 Menggunakan pupuk organik cair yang mengandung unsur hara makro, mikro, dan zat pengatur tumbuh sehingga 5 tanaman menjadi sehat yang dapat bereaksi lebih tahan terhadap serangan patogen;6 Membuat pagar keliling hidup dari tanaman jagung, yang ditanam rapat sebanyak enam baris secara zigzag, untuk menahan vektor B. tabaci masuk ke areal pertanaman dari tanaman disebelahnya yang terinfeksi. Penanaman pagar hidup sebaiknya pada saat 5 - 6 minggu sebelum tanam cabai;7 Menyusun pola tanam dan melakukan pergiliran tanaman dengan menanam tanaman yang bukan sebagai inang alternatif bagi patogen8 Menekan populasi vektor B. tabaci dengan insektisida efektif yang direkomendasikan secara bijaksana, sehingga laju infeksi penyakit menjadi lebih kecil.7. Penyakit MosaikPenyebab (patogen) dan gajala penyakitPenyakit mosaik pada cabai disebabkan oleh Cucumber Mosaic Virus (CMV), atau gabungannya dengan beberapa viruslain seperti Tobacco Mosaic Virus (TMV), Potato Virus Y (PVY) dan Chilli Veinal Mottle Virus (CVMV). Tanaman yangterinfeksi menjadi kerdil, warna daun belang hijau muda dan hijau tua, ukurandaun lebih kecil daripada daun yang sehat. Pada tulang daun terdapat jaringan tanaman yang menguning atau hijau gelap dengan tulang daun yang tumbuh lebih menonjol, serta pinggiran daun bergelombang.Virus masuk ke dalamjaringan tanaman melalui luka, memperbanyak diri dan menyebarke seluruh jaringan tanaman (sistemik). Penularan virus dapat secara mekanis (bersinggungan antara tanaman sakit dan sehat) serta dapat melalui vektor serangga kutu daun Myzus persicae dan Aphis gossypii. Khusus TMV tidak dapat ditularkan melalui vektor, tetapi dapat menular melalui biji.Cara pengendalian :1 Melakukan sanitasi lapangan terhadap gulma dan tanaman sakit, selanjutnya dimusnahkan untuk mengurangi sumber inokulum awal;2 Menghindari kontak dengan tanaman sakit pada saat bekerja;3 Mengurung perbenihan tanaman cabai dengan kain kasa halus untuk mencegah masuknya vektor mencapai benih tanaman;4 Untuk mencegah penularan TMV melalui biji, maka biji cabai direndam dalam larutan natrium fosfat 10 % selama satu jam.5 Mengendalikan serangga vektor penyakit dengan insektisida efektif yang direkomendasikan secara bijaksana. PENUTUP Demikian brosur tentang pengendalian penyakit cabai di susun, kritik dan saran yang membangun tentunya diperlukan demi kemajuan di masa yang akan datang. Atas perhatiannya diucapkan terima kasih. Sumber Pustaka: Dinas Pertanian dan Pangan Kab. Kebumen. SOP (Standar Operasional Prosedur) Budidaya Cabai Merah (Capsicum annuum L.) Kabupaten Semarang. 65 hal. Direktorat Perlindungan Tanaman Hortikultura. Direktorat Jenderal Hortikultura. 2007. Leaflet : Pengenalan dan pengendalian Penyakit Virus Kuning pada Tanaman Cabai. Departemen Pertanian. Jakarta Oleh : BPP Kec. Pejagoan