Cengkeh (Syzygium aromaticum L Merr & Perry), termasuk dalam famili Myrtaceae dan merupakan salah satu komoditas pertanian yang tinggi nilai ekonominya. Baik sebagai rempah-rempah, bahan campuran rokok kretek atau bahan dalam pembuatan minyak atsiri, namun bila faktor penanaman dan pemeliharaan lainnya tidak diperhatikan maka produksi dan kualitasnya akan menjadi rendah. Tanaman cengkeh untuk dapat tumbuh dan berproduksi memerlukan persyaratan lingkungan tumbuh yang spesifik lokasi.Serangan penyakit pada tanaman cengkeh akan mengakibatkan penurunan produksi tanaman.A. Penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh ( BPKC )Penyakit BPKC merupakan salah satu penyakit yang paling merusak tanaman cengkeh karena dapat menyebabkan kehilangan hasil antara 10-15 %, penyebabnya adalah bakteri Pseudomonas syzygii. Cara penularan dengan serangga dari pohon sakit ke pohon sehat dengan pola arah angin. Dapat pula melalui alat-alat pertanian seperti golok, gergaji, parang yang dipergunakan memotong pohon yang sakit. Bagian yang diserang oleh BPKC daunnya akan gugur secara mendadak kemudian diikuti ranting-ranting pada pucuk mati. Pencegahan gunakan obat yang sesuai dengan antibiotiak oksitetrasiklin yang diinfuskan pada pangkal batang atau akar dengan dosis 6 gr/100 ml air. Penginfusan dilakukan setiap 3-4 bulan sekali, sedangkan pengendalian dapat dipadukan dengan melakukan penyemprotan insektisida seperti Matador 25 EC, Akodan 35 EC, Curacron 500EC dan Dads 2,5 EC dengan interval 6 minggu sekali sampai serangga vektor tidak ada lagi.B. Penyakit Cacar Daun Cengkeh ( CDC ).Penyakit ini terdapat hampir di semua sentra produksi cengkeh di Indonesia,bagian yang diserang mulai dari pembibitan sampai tanaman produksi.Penyakit CDC disebabkan oleh jamur Phyllostica syzygii cara penularannya dengan angin dan air hujan atau melalui bibit.Gejala serangan adalah permukaan atas daun timbul bercak-bercak yang menggelembung seperti cacar, akan lebih jelas pada daun yang masih muda. Pada bercak-bercak kadang terdapat bintil-bintil hitam kecil, selain pada daun terlihat juga pada buah. Cara pengendalian dengan penyemprotan dengan fungisida dengan interval 7-10 hari sekali, sedangkan untuk pengendalian dapat dilakukan 10-14 hari sekali. Beberapa fungisida yang dapat dipergunakan antara lain Delsen MX-200 0,2%, Maneb Brestan 0,3%, Difolatan 0,2%, sanitasi kebun perlu mendapat perhatian yang serius dan pohon yang terserang berat perlu ditebang dan dibakar.C. Embun Jelaga ( Capnodium sp dan Limacinula samoensis )Jamur ini hidup pada kotoran serangga kutu daun yang menempel pada daun, kemudian disebarkan oleh semut dari daun ke daun lainnya.Pada permukaan daun yang terserang tampak lapisan berwarna abu-abu kehitaman, pada serangan berat lapisan akan menutupi seluruh permukaan daun sehingga akan menggangu proses fotosintesa. Cara pengendalian dengan penyemprotan larutan kapur sirih 1-2%, kutu daun disemprot dengan insektisida. Oleh : Ir.Soehardi Kusumowarno,MS Sumber :Dari berbagai sumber teknologi bertanam Perkebunan. www.teknisbudidayacengkeh.go.id