Loading...

PENGENDALIAN PENYAKIT DENGAN PENCEGAHANNYA

PENGENDALIAN PENYAKIT DENGAN PENCEGAHANNYA
Pengendalian dengan pencegahan; a. Karantina, untuk mencegah masuknya penyakit-penyakit tebu yang belum ada di Indonesia atau jenis-jenis (strain) yang lebih virulen dari pada penyakit – penyakit yang telah dijumpai di Indonesia, bibit-bibit dari luar negeri sebelum dibawa ke Pasuruan harus terIebih dahulu diperiksa selama 1,5 – 3 tahun di kebun karantina Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) yang sekarang berada di Pulau Puteran Madura, terhadap penyakit-penyakit, antara lain gumming disease, penyakit Fiji, dan downy mildew. Di samping itu pengiriman bibit antar pula di Indonesia hendaknya juga dijaga agar tidak terjadi pemindahan penyakit atau hama ketempat yang baru. Hal ini hanya dapat dicapai jika pengiriman bibit tidak dalam jumlah yang terIalu besar, dan sebelum dikirim diadakan pemeriksaan yang seksama terhadap kemungkinan adanya penyakit dan harna tertentu untuk membebaskan hama dan penyakitnya; b. Pemakaian bibit varietas tahan. Penanaman dengan bibit yang tahan terhadap penyakit merupakan usaha pencegahan yang paling baik dan tidak diragukan. Pada saat ini varietas-varietas tebu baru telah diuji ketahanannya terhadap penyakit-penyakit tebu yang penting di Indonesia oleh P3GI dengan cara infeksi buatan. Dahulu penyakit sereh, pada akhir abad 19, merupakan penyakit yang sangat merugikan, sehingga berlangsungnya industri gula di Indonesia (Jawa) tergantung pada dapat tidaknya pcnyakit ini dikendalikan. Kini penyakit tersebut bukan merupakan ancaman karena P3GI (dahulu POJ) telah berhasil memperoleh varietas tebu yang tahan terhadap penyakit sereh. Demikian pula halnya dengan penyakit EK (EK-busuk akar) (Handojo, 1982); c. Seleksi bahan tanam di kebun bibit. Mengadakan pengamatan dan seleksi bahan tanam di kebun bibit. Rumpun bibit yang terserang penyakit (antara lain mosaik, luka api, blendok dan lain-lain) segera dimusnahkan (dicabut dan dibakar di luar kebun). Pekerjaan ini perlu dilaksanakan secara periodik, sekaligus sambil memeriksa kemungkinan adanya campuran varietas yang tidak dikehendaki; d. Desinfeksi alat pemotong bibit dan bahan tanam. Penyakit dapat ditularkan melalui pisau yang digunakan untuk memotong bibit yang berpenyakit, misalnya penyakit blendok,. Pada waktu memotong atau memangkas batang-batang tebu dengan pisau yang"tertular", bakteri penyakit blendok dapat dihisap agak jauh ke dalam batang atau bagal bibit karena adanya tekanan negatif yang dihilangkan pada waktu memotong. Untuk mencegah penularan tersebut, setiap kali pisau akan memotong bibit perlu didesinfeksi dengan mencelupkannya ke dalam larutan lisol. Untuk melindungi bibit-bibit tebu terhadap serangan patogen tanah, misalnya penyakit nanas, perlu mengadakan desinfeksi dengan menggunakan Benlate 300 ppm. terutama untuk melindungi bidang pangkasnya. e. Budidaya yang baik. Penyelenggaraan teknik budidaya yang baik akan menghasilkan pertumbuhan tanaman yang baik dan kuat. Dengan demikian tanaman akan lebih tahan, atau kerugian. yang disebabkannya menjadi lebih kecil, karena kemungkinan untuk sembuh kembali lebih besar daripada tanaman yang tumbuhnya tidak baik. Dengan pengolah tanah yang baik, mcnghasilkan pendayungan (untuk lahan sawah dan dataran rendah) dan drainase menjadi baik. Dengan demikian kerugian akibat penyerangan beberapa penyakit tebu (seperti dongkelan, bakteriosis dan busuk bibit) dapat dibatasi; f. Pergiliran tanaman dan pemusnahan tanaman inang. Pergiliran tanaman memegang peranan penting dalam pengendalian penyakit, terutama pada lahan yang serangannya hebat. Pergiliran tanaman akan memutus daur kehidupan penyakit. Untuk ini diperlukan selang waktu dengan diisi tanaman lain sekitar 6 bulan atau lebih terutama untuk penyakit yang bibitnya dapat bertahan lama, misal spora, jamur tertentu. Tanaman yang dapat diserang penyakit tanaman tebu, antara lain jagung dan bcberapa rerumputan, merupakan tanaman inang. Misalnya penyakit mosaik dapat menyerang tanaman jagung dan rerumputan yang disukai sebagai makanan kutu jagung Rhophalosiphllm maidis Fitch. Kutu ini mampu menularkan penyakit mosaik dari tanaman-tanaman tebu,jagung dan rerumputan yang sakit kepada tanaman yang sehat. Oleh karena itu pemusnahan rerumputan di perkebunan tebu dan pemilihan letak kebun bibit jauh dari tanaman tebu dapat membatasi penyerangan penyakit mosaik.Pengendalian langsung, merupakan tindakan yang ditujukan untuk memusnahkan penyebab penyakit. Untuk beberapa penyakit tebu, pemusnahan rumpun-rumpun yang sakit sangat dianjurkan, misalnya penyakit luka api. Selain seleksi di kebun-kebun bibit, perawatan air panas terhadap bibit tebu dapat menyehatkan bibit tebu yang sakit, misalnya perawatan air panas selama 2 – 3 jam dengan suhu 50°C terhadap penyakit pembuluh. Selain itu, pemberantasan secara kimiawi pada budidaya tebu perlu diteliti di Indonesia sebelum dapat dianjurkan. Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.