Salah satu kendala yang sering dihadapi dalam pemeliharaan ternak adalah penyakit. Bahkan tidak jarang peternak mengalami kerugian ekonomi dan tidak lagi beternak akibat adanya kematian pada ternaknya. Kesehatan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan tak terkeculi pada ternak sapi bali. Sapi bali merupakan sapi asli Indonesia yang berasal dari Pulau Bali. Sapi bali merupakan hasil domestifikasi banteng. Sapi bali tersebar hampir di semua provinsi di Indonesia. Namun, pembibitan dan usaha penggemukan sapi bali terpusat di kawasan Indonesia Timur, seperti di Bali, Sulawesi, NusaTenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Sapi bali memiliki banyak keunggulan, di antaranya memiliki daya adaptasi yang baik terhadap kondisi pakan yang jelek dan lingkungan tropis, mampu menghasilkan anak setiap tahun kualitas daging baik, serta memiliki persentase karkas yang tinggi-dengan perbandingan daging dan tulang 4,4 : 1. Pertumbuhan dan perkembangan sapi bali sangat dipengaruhi dari faktor pakan, dan manajemen pemeliharaan juga faktor kesehatan. Terdapat beberapa penyakit yang perlu diwaspadai pada sapi bali salah satunya adalah penyakit Jembrana.Penyakit Jembrana (Jembrana disease) merupakan penyakit ternak yang hanya menyerang sapi Bali. Wabah penyakit ini muneul pertama kali pada tahun 1964 di Desa Sangkaragung, Kecamatan Negara,Kabupaten Jembrana, Bali Barat. Penyakit Jembrana tergolong penyakit sapi yang ganas. Sejak terjadinya wabah pertama pada tahun 1964 hingga kini telah menyebabkan matinya puluhan ribu ekor sapi Bali. Kini penyakit ini di Bali bersifat endemis dan secara sporadis kasus serangan masih terus terjadi. Penyakit ini disebabkan oleh virus. Sapi Bali yang terinfeksi penyakit Jembrana akan mengalami viraemia di mana darahnya mengandung virus selama paling tidak 2 tahun setelah sembuh. Penularan penyakit jembrana dari sapi ke sapi lainnya diperkirakan oleh serangga penghisap darah seperti lalat (lalat tapis) caplak dan nyamuk. Serangga-serangga tersebut merupakan serangga penghisap darah. Jika serangga menggigit dan menghisap darah sapi yang sakit. Sapi yang telah sembuh pun mempunyai kapasitas untuk menulari sapi lain melalui binatang perantara (vektor). Untuk memerangi penyakit Jembrana pada Sapi Bali, perlu dikembangkan vaksin yang lebih efektif dibandingkan yang telah ada selama ini. Sapi yang terserang berumur lebih dari 1 tahun dan yang terbanyak berumur 4-6 tahun. Gejala yang ditimbulkan oleh penyakit jembrana adalah demam (suhu badan sapi tinggi, berkisar antara 39° C-41,5° C), pembengkakan hebat kelenjar limfe, erosi (luka-luka) pada selaput lendir mulut, diare yang sering bercampur darah dan sering terjadi sapi mengalami berkeringat darah. Penyakit Jembrana dapat menyebabkan lesu dan hilangnya nafsu makan, frekuensi nafas meningkat, dan keguguran pada sapi Bali betina yang bunting. Penyakit ini bahkan dapat menyebabkan kematian sapi terlebih jika terlambat penanganannya. Penyakit Jembrana disebabkan oleh virus merusak sistem kekebalan tubuh, sehingga sapi Bali yang terserang penyakit Jembrana akan mengalami kemunduran daya kekebalan tubuhnya. Namun, penyakit "Jembrana" hanya bersifat menekan kekebalan tubuh sapi Bali untuk sementara, sehingga dalam waktu tertentu daya kekebalan tubuhnya akan muncul kembali.Penanggulangan penyakit secara umum dilakukan dengan cara pencegahan dan pengobatan. Tindakan pencegahan meliputi: (a).Karantina. Memelihara secara terpisah sapi yang baru datang dari lingkungan lain ke lokasi peternakan untuk beberapa hari, setelah itu jika sapi baru tersebut ternyata sehat maka dapat dipelihara bersama dengan sapi yang telah ada di lokasi; (b) Isolasi. Mengandakan secara terpisah sapi yang sakit sampai sapi tersebut sembuh; (c).Membersihkan kandang dan lingkungannya setiap hari, spaya tidak ada sampah dan limbah menumpuk di sekitar kandang, karena tumpukan sampah dan limbah merupakan tempat persembunyian dan pembiakan serangga. Sebaiknya sampah dan limbah segera diproses menjadi pupuk/kompos, karena proses pengomposan dapat memayikan telur dan larva serangga yang ada didalamnya; (d). Spraying. Kegiatan Spraying dimaksudkan untuk mcmbunuh binatang vektor, yakni sejenis serangga penghisap darah. Spraying dilakukan terhadap ternak sapi, kandang, dan lokasi sekitarnya dengan menggunakan larutan insektisida; (e).Memelihara sapi secara baik, memberinya cukup pakan dan menyediakan kandang yang layak supaya tubuh sapi menjadi kuat sebab tubuh yang kuat akan dapat bertahan dan mampu melawan penyakit/virus yang menyerangnya; (f). Vaksinasi. Memberikan vaksin jembrana sesuai dengan aturan kepada semua sapi yang sehat, supaya pada setiap sapi terbentuk kekebalan terhadap penyakit jembrana. Vaksin yang digunakan adalah vaksin JD Vacc.sp.15 produksi Balai Besar Veteriner Denpasar. Tetapi daya proteksi vaksin ini dilaporkan sekitar 70%.Terkait tindakan pengobatan, sapi bali yang sakit dianjurkan untuk diberi antibiotika brspektrum luas dan vitamin untuk menghindari kematian akibat adanya infeksi sekunder. Perlakuan pemberian antibiotika dan vitamin dapat menekan angka kematian hingga tinggal 13% dari kasus penyakit. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM) Sumber : 1. Guntoro, Suprio. 2002 Mebudidayakan Sapi Bali. Yogyakarta : Kanisius :(fmp.sinarindo.co.id, diakses pada 5 Agustus 2016)2. Ni Wayan Leestyawati. 2015. Penyakit Khas Sapi Bali dan Kiat Pencegahannya (http://www.pertanian.go.id/bbkptgpriok/, diakses pada 5 Agustus 2016)