Loading...

Pengendalian Penyakit Karat Pada Kacang Tanah

Pengendalian Penyakit Karat Pada Kacang Tanah
Kacang tanah mempunyai arti ekonomi penting karena merupakan sumber lemak dan protein nabati sebagai menu makanan sehari-hari masyarakat Indonesia. Manfaat lainnya dari kacang tanah juga diambil minyaknya untuk keperluan, misalnya minyak goreng, pelumas , dan kosmetik. Ia juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dalam budidaya kacang tanah, selalu ada hambatan pada produksi kacang tanah, yaitu penyakit. Salah satu penyakit yang ada pada budidaya kacang tanah, yakni penyakit karat. Penyakit karat merupakan penyakit yang menyerang pada kacang tanah, selain penyakit bercak daun. Penyakit karat disebabkan oleh cendawan Puccinia arachidis. Pada umumnya, gejalanya yang ditimbulkan oleh kacang tanah dengan tanda pada permukaan daun bawah berupa pustul berwarna coklat seperti karat besi. Jika pustul pecah terdapat uredospora yang menyerupai tepung. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penyakit ini, yaitu suhu, kelembapan, kecepatan angin, dan curah hujan. Siklus hidup kelompok cendawan penyebab penyakit karat dapat berlangsung dua macam, yaitu aseksual dan seksual. Secara aseksual uredospora akan berkecambah dan membentuk uredspora lagi, sedangkan secara seksual yaitu uredium berubah menjadi telium kemudian membentuk basidium., dan basidium membentuk spermogonium (gamet +) dan hifa resesif ( gamet -) dan persilangan iini terbentuk aesium. Aesium akan berubah menjadi uredium. Pengendalian penyakit karat pada kacang tanah yang dapat diterapkan antara lain penanaman varitas tahan, penggunaan antagonis cendawan atau bakteri yang dapat bertindak sebagai agens pengendali P. Arachidis , aplikasi fungisida nabati. Selain itu, untuk mengantisipasi terdapatnya gulma yang menjadi inang lain perlu dilakukan tindakan sanitasi lingkungan. Penanaman varitas tahan. Pengendalian yang sudah diterapkan yakni dengan penggunaan varitas tahan. Beberapa varitas unggul kacang tanah tahan penyakit karat adalah Takar-1 dan Takar-2. Tahun 2009 telah dilakukan pengujian ketahanan terhadap penyakit tersebut. Hasil pengujian 120 genotipe koleksi plasmanuftah kacang tanah di Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan umbi-umbian , didapatkan satu genotipe yang tahan, yaitu Mlg A-0099, tidak ditemukan genotipe agak tahan, 59 genotipe agak rentan, dan genotipe rentan. Hal ini menunjukkan bahwa tidak mudah memperoleh ketahanan tanaman terhadap penyakit karat. Sanitasi dan Rotasi Tanaman. Penyebaran spora P. Arachidis dapat melalui angin dan air. Hal ini agak menyulitkan dalam pengendalian. Sanitasi lingkungan di sekitar pertanaman kacang tanah diperlukan untuk mengurangi kelembapan. Selain itu, untuk mengantisipasi tumbuhnya gulma sebagai inang alternatif. Rotasi tanaman untuk pengendalian penyakit karat dimaksudkan untuk mengurangi inokulum awal. Salah satu hal yang dianjurkan adalah menanam tanaman budidaya bukan dari leguminosae. Pergiliran tanaman akan memutus siklus hidup P. Arachidis, namun jika disekitarnya terdapat tanaman kacang tanah maka infeksi P. Arachidis terhadap kacang tanah yang dibudidayakan tidak dapat dihindari. Pengendalian dengan Agens hayati. Pengendalian dengan cara ini dilakukan dengan mengaplikasikan miroorganisme antagonis. Cara ini dapat meminimalkan jumlah inokulum awal dan mengurangi perkembangan penyakit. Keunggulan pengendalian dengan cara ini tidak mencemari lingkungan dan dengan satu kali aplikasi efek residunya dapat bertahan lama sampai beberapa kali musim tanam. Sumardi Sumber : Badan Penelitian Pertanian, 2014