Loading...

Pengendalian Penyakit pada Tanaman Jagung

Pengendalian Penyakit pada Tanaman Jagung
Jagung termasuk komoditas penting, baik sebagai bahan pangan dan pakan maupun bahan baku industri. Namun, dalam budidaya masih ditemui berbagai masalah. Masalah yang dihadapi dalam budidaya jagung, salah satunya adalah penyakit. Beberapa penyakit yang terdapat pada tanaman jagung, antara lain : Bulai ( Downy Midew ). Penyakit bulai disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis dan Peronosclerospora philippinensis yang luas sebarannya. Gejala penyakit terlihat adanya warna putih pada permukaan daun sampai kekuninggan, diikuti oleh garis-garis klorotik. Penyakit bulai pada tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik yang meluas ke seluruh bagian tanaman dan menimbulkan gejala lokal. Gejala sistemik terjadi bila infeksi cendawan mencapai titik tumbuh, sehingga semua daun terinfeksi. Tanaman yang terinfeksi penyakit bulai pada umur masih muda umumnya tidak menghasilkan buah. Bila infeksi terjadi pada tanaman yang sudah tua, buah masih terbentuk tetapi tidak sempurna dan tanaman kerdil. Kehilangan hasil jagung akibat penularan penyakit bulai dapat mencapai 100 % pada varitas rentan.Pengendalian penyakit bulai dengan penanaman varitas tahan, seperti varitas Sukmaraga, Lagaligo, Srikandi K-1, Lamuru, dan varitas Gumarang. Periode bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan di areal pertanaman. Lakukan tanam serempak. Pemusnahan seluruh bagian tanaman yang terinfeksi penyakit bulai sampai ke akarnya. Penggunaan fungisida metalaksil pada benih jagung dengan dosis 2 g ( 0,7 g bahan aktif ) per kg benih.Hawar Daun ( Northern Leaf Blight ). Penyakit hawar daun disebabkan oleh Helminthosporium turcicum. Pada awal terinfeksi gejalanya berupa bercak kecil. Kemudian bercak makin memanjang berbentuk elips dan berkembang menjadi nekrotik yang disebut hawar. Hawar warnanya hijau keabu-abuan atau coklat. Panjang hawar 2,5- 15 cm. Bercak muncul pertama kali pada daun terbawah, kemudian berkembang ke bagian atas. Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman jagung cepat mati atau mengering. Kehilangan hasil jagung akibat infeksi penyakit hawar daun mencapai 70 %. Pengendalian jenis penyakit ini pada tanaman jagung dapat dilakukan dengan penanaman varitas tahan, seperti varitas Bisma, Pioner-2, Pioner- 14, Semar-2 dan Semar-5. Pemusnahan seluruh bagian tanaman yang terinfeksi bercak daun sampai ke akarnya. Penggunaan fungisida berbahan aktif mancozeb dan dithiocarbamate.Busuk Batang (Stalk Rot ). Tanaman jagung yang terinfeksi penyakit ini akan layu atau seluruh daunnya kering. Gejala tersebut terjadi pada stadia generatif, yaitu setelah fase pembungaan. Pangkal batang yang terinfeksi berubah warna dari hijau menjadi kecoklatan dan bagian dalam batang busuk sehingga mudah rebah dan bagian kulit luarnya tipis. Pada pangkal batang yang terinfeksi terlihat warna merah jambu, merah kecoklatan, atau coklat. Penyakit busuk batang jagung dapat menyebabkan kerusakan pada varitas rentan hingga 65 %.Pengendalian penyakit busuk batang dapat dilakukan dengan penanaman varitas tahan, seperti BISI -1, BISI-4, BISI-5, Surya, Exp.9572, Exp.9702, Exp.9703, CPl-2, FPC 9923, Pioneer-8, Pioneer-10, Pioneer-12,Pioneer-13,Pioneer-14, Semar-9, Palakka, dan J1-C3. Pengendalian penyakit busuk batang juga bisa dilakukan dengan pergiliran tanaman. Pemupukan berimbang, menghinadari pemberian N tinggi dan K rendah. Lakukan drainase secara baik.Pengendalian secara hayati dengan cendawan antagonis Trichoderma sp.Busuk Tongkol Gibberella. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi cendawan Gibberella roseum. Tongkol jagung yang terinfeksi cendawan ini menjadi busuk dan kelobotnya saling menempel erat pada tongkol, biji jagung berwarna biru hitam di permukaan kelobot dan bongkol.Pengendalian penyakit busuk tongkol dapat dilakukan dengan pemupukan berimbang. Tidak membiarkan tongkol terlalu lama mengering di lapang. Pada musimhujan, bagian batang di bawah tongkol dipotong agar ujung tongkol tidak mengarah ke atas. Pergiliran tanaman dengan komoditas yang bukan padi-padian, karena patogen ini mempunyai banyak tanaman inang. Sumardi Sumber : Badan Litbang Pertanian. 2011