Pengendalian Penyakit Scabies Pada Kambing Dengan Daun Gamal Kecamatan Kamang Magek Kabupaten Agam merupakan kecamatan yang memiliki populasi ternak kambing yang cukup banyak yaitu 3.700 ekor. Penyakit merupakan salah satu hambatan yang perlu diatasi dalam usaha ternak kambing, karena bisa menimbulkan masalah dan kerugian yang tidak kecil. Salah satu penyakit yang sering dijumpai adalah penyakit scabies. Scabies adalah kondisi yang disebabkan oleh parasit (tungau) yang membuat gatal pada kulit, disebut Sarcoptes Scabiei. Tungau ini umumnya menggali ke dalam kulit dan menyebabkan gejala gatal yang parah. Scabies menyebar dengan mudah melalui kontak langsung, dan bahan-bahan yang ada di kandang seperti pagar, tempat pakan, dan bahan lain yang terkontaminasi bertindak sebagai carrier (Blood et al., 1986). Penyakit ini menimbulkan kerugian akibat penurunan berat badan (Manurung et al 1992), penurunan produksi daging, kualitas kulit dan gangguan kesehatan masyarakat (Iskandar, 2000) dan penurunan harga jual kambing sampai 1/3 harga normal (Manurung 1991). Bahkan Manurung et al (1986) menyebutkan bahwa kambing scabies yang tidak diobati bisa mengalami kematian dalam tiga bulan. Selain kerugian ekonomis tersebut, penyakit ini juga sangat merugikan karena bersifat zoonosis yaitu penyakit ternak yang mampu menyerang manusia (Blood et al. 1986). Melalui penyuluhan yang dilakukan diharapkan dampak negatif dari penyakit ternak dapat diminimalkan. Aspek yang paling penting dalam manajemen kesehatan ternak adalah pencegahan yaitu mencegah timbulnya suatu organisme penyebab penyakit. Peternak seolah tidak berdaya ketika menghadapi situasi dimana ternak yang dipeliharanya terserang penyakit, hal ini disebabkan karena tingkat pengetahuan dan tingkat penerapan teknologi dalam aspek pengendalian penyakit pada usaha ternak kambing masih rendah. Oleh sebab itu pencegahan penyakit scabies pada kambing menjadi suatu kebutuhan karena dapat membawa dampak kerugian. Walaupun sudah tersedia obat standar untuk pengobatan scabies seperti ivermectin injeksi, kebanyakan peternak di Kecamatan Kamang Magek jarang mengobati ternak mereka yang terserang scabies. Hal ini disebabkan mahalnya biaya pengobatan, juga sulitnya menjangkau pelayanan kesehatan hewan. Pemberantasan penyakit tersebut dapat diupayakan dengan cara memanfaatkan tanaman Gamal (Gliricidia Sepium), sebagai obat tradisional. Gamal (Gliricidia Sepium) merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi sebagai obat scabies, tanaman gamal banyak terdapat di Kecamatan Kamang Magek, gamal merupakan tanaman pelindung yang daunnya biasa diberikan sebagai hijauan pakan ternak. Adapun pembuatan ekstrak ini adalah dengan cara : 100 gram daun gamal dicincang halus kemudian direbus dalam 200 ml minyak kelapa sawit sampai mendidih selama 1 jam, selanjutnya suhu sedikit diturunkan (tidak dalam kondisi mendidih) selama 1 jam (total perebusan selama 2 jam), kemudian diangkat dan disaring dengan kain sambil diperas sampai minyaknya tersaring sempurna. Hasil saringan dimasukkan dalam botol gelap (berwarna), dan jangan terkena sinar matahari sampai siap untuk digunakan. Ekstrak ini bisa disimpan pada suhu ruangan sampai 1 minggu, jika disimpan pada lemari es (4oC) bisa bertahan sampai 6 bulan. Pemberian ekstrak ini pada kambing dilakukan dengan cara mengoleskan ekstrak dengan kuas atau sabut kelapa pada seluruh permukaan kulit kambing yang terkena scabies. Apabila hanya sebagian kecil telinga yang terkena maka obat bisa dioleskan pada telinga saja tetapi apabila scabies telah menyebar pada sebagian badan sebaiknya seluruh tubuh kambing dioles dengan obat karena untuk mencegah perkembangbiakan tungau ke bagian tubuh yang lain. Pengobatan dilakukan sebanyak dua kali dengan jarak 1 minggu. Perlu diingat bahwa kambing yang telah dobati sebaiknya dipindahkan ke kandang yang bersih dan bebas scabies (kandang baru yang telah disemprot dengan insektisida sebelum digunakan). Hal ini sangat penting karena biasanya hewan yang sembuh dari scabies tidak mempunyai kekebalan sehingga mudah terkena lagi bila ditempatkan pada kandang yang tercemar. (Beni Syahputra, SST. Penyuluh Pertanian BPP Lubuk Basung)