Loading...

Pengendalian secara Alami Hama Walang Sangit

Pengendalian secara Alami Hama Walang Sangit
Pengendalian secara Alami Hama Walang Sangit (Leptocorisa acuta) menggunakan Katak Puru Terus terang saya tidak tahu judul yang tepat tulisan ini, Pengendalian secara alami atau Pengendalian secara hayati. Pembaca mungkin akan lebih bisa memilih mana yang lebih tepat setelah menuntaskan membaca tulisan ini.Model pengendalian ini adalah baru, walaupun sebenarnya cukup lama ditemukan. Karena kurang mendapat respon dari petani dilingkungan wilayah kerja penyuluh (penemu), menyebabkan temuan ini tidak pernah terangkat ke permukaan. Padahal siapapun yang mengaplikasikan metode pengendalian ini akan sangat diuntungkan karena efektif, efesien dan sangat hemat tenaga. Bagaimana cara pengendalian ini ditemukan?. Bersama tulisan ini, ditulis juga asal muasal cara pengendalian ini ditemukan oleh penemunya sendiri.Adalah bapak Lasmin, seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dikecamatan Kertak Hanyar, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan yang menemukan cara pengendalian ini. Disamping sebagai PPL, beliau menyempatkan waktu sambil berusaha tani menanam padi yang dilakukan sejak tahun 80-an hingga sekarang. Awalnya beliau ditugaskan di desa Abumbun Jaya, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar dan didesa itu temuan tersebut beliau coba kembali. Buah pikiran beliau sangat layak mendapatkan penghargaan. Bila suatu saat telah tersebar luas pasti akan sangat banyak memberikan kemanfaatan bagi para petani. Kita tahu banyak sekali jenis katak (kodok) di Indonesia. Katak puru (Indonesia) atau Bangkak (Jawa) atau Katak Kurate (Kalimantan Selatan) adalah salah satu dari banyak jenis katak yang tidak bisa dikonsumsi. Bahkan katak puru sangat beracun. Tapi siapa sangka kalau racun yang dihasilkan dari katak puru ini bisa untuk mengendalikan hama Walang Sangit pada tanaman padi yang sejak dulu hingga sekarang sangat merugikan banyak petani di Indonesia. Aplikasinya sangat mudah. Bila ada serangan hama Walang Sangit dipertanaman padi, sebaiknya dibawah ambang batas merugikan pengendalian mulai dilakukan. Siapkan katak puru 20 - 30 ekor untuk luasan pertanaman padi 1 ha (1 ekor untuk luasan 350 – 500 m2). Katak dibunuh (dimatikan) lalu diikat atau ditusuk pada ujung turus (kayu/bambu) kemudian turus ditancapkan pada pertanaman padi yang diserang Walang Sangit. Turus dibuat lebih panjang sehingga pada saat ditancapkan (pasang), posisi katak 30 cm lebih tinggi dari tinggi permukaan rata – rata malai padi. Katak yang telah dipasang akan mengalami proses pembusukan. Bau busuk yang ditimbulkan dan dibawa angin akan mengundang banyak Walang Sangit untuk datang hinggap dan menghisap cairan yang dihasilkan dari proses pembusukan katak tersebut. Karena cairan tersebut beracun, banyak Walang Sangit yang mati berguguran dibawah turus tadi. Sederhana bukan ?Kepada para petani di Indonesia, silahkan mencoba. Kita tahu, sangat banyak jenis insektisida yang telah diproduksi oleh perusahaan pestisida ternama untuk mengendalikan Walang Sangit, namun dalam perkembangannya Walang Sangit bisa kebal sehingga jenis insektisidanya harus diganti dan diganti lagi agar bisa mengendalikan. Dengan pengendalian alami ini memang belum diketahui apa Walang Sangit menjadi kebal atau tidak, termasuk dampak negatifnya apa. Perlu penelitian lebih lanjut. Tapi pengendalian alami ini diharapkan dapat mendukung keinginan pemerintah untuk kembali kealam (back to nature) bagi cara-cara pengendalian hama tanaman. Jika suatu saat nanti system perdagangan bebas mengharuskan hasil ekspor Indonesia bebas pestisida kimia, semoga ini menjadi salah satu solusi.Bukan tidak mungkin bila cara pengendalian ini diaplikasikan secara luas akan melahirkan peternak-peternak katak puru dan menjadi peluang usaha baru. Dan bukan tidak mungkin bagi para ahli nantinya bisa mengembangbiakan mikroorganisme penghasil racun pada katak puru, lalu hasil racunnya disterilkan sehingga dihasilkan pestisida nabati.Tekhnologi ini akan coba diaplikasikan pada hama pengisap polong kedelai (Riptortus linearis) dan kepik Hijau (Nezara viridula). Walaupun tidak se-Family, namun kedua hama ini masih satu ordo dengan Walang Sangit. Bila berhasil, kemungkinan cara pengendalian ini bisa diterapkan pada jenis tanaman leguminosa lainnya, bahkan mungkin juga pada tanaman lada, untuk kepik pengisap buah lada. Semoga!. Kepala BPP Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar H. Muhamad Yazidi, SP Nama Penyuluh Siti Arpiati, SP