Tanaman pala dengan nama latin Myristica fragans Houtt, merupakan tanaman asli Indonesia yang berasal dari gugusan kepulauan Banda dan Maluku. Tanaman pala mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi terutama dari daging buah, biji, fuli dan minyak atsiri. Daging buah pala banyak digunakan dalam industri makanan, biji dan fuli digunakan dalam industri pengawetan ikan dan industri makanan, sedang minyak atisiri banyak digunakan dalam industri obat-obatan, parfum dan sabun. Menginagt pala mempunyai nilai ekonomis yang menguntungkan, maka sangat penting apabila kita dapat mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang dapat menurunkan produksi tanaman. Hama dan penyakit pala yang sangat merugikan diantaranya penggerek batang/ranting, dan penyakit jamur akar ( jamur akar putih dan jamur akar hitam). Hama penggerek batang (Batocera hercules) Hama penggerek batang disebabkan oleh kumbang Batocera hercules. Kumbang dewasa berukuran berukuran besar dengan antena panjang, bila terganggu akan mengeluarkan bunyi (mencicit). Bentuk kumbang muda sangat khas, antena panjang dan warna abu-abu. Kumbang betina meletakkan telur pada kulit kambium yang telah dilukai terlebih dahulu. Seekor kumbang bentina dapat hidup sampai enam bulan dan bertelur sebanyak 170-270 butir selama hidupnya, bentuk telur lonjong dan panjangnya 5-6 mm. Larva menggerek batang dibawah lapisan klit dan memakan jaringan vaskuler dan membuang gerekannya berupa serpihan keluar lubang. Lorong yang dibuat tidak beraturan dan bila lorong melingkar tanaman akan mati. Pohon yang terserang hama ini dapat dikenali dengan adanya lubang-lubang gerekan sebesar 2,5-3 cm, kumbang ini banyak ditemukan di Aceh dan Sulawesi Utara. Penggerek ranting Hama penggerek ranting yaitu Xyleborus, berupa kumbang dengan membuat gerakan melingkar pada pangkal ranting. Semua stadia (telur, larva, pupa dan kumbang dewasa) dapat ditemuai dalam lubang. Hama ini sangat berbahaya karea menyerang secara agregasi, sehingga mampu mematikan ranting dalam waktu relatif singkat. Gejala serangan, cabang atau ranting pala yang terserang hama, permukaannya berlubang-lubang kecil dengan diameter sekitar 1 mm. Bila cabang dkupas maka tampak alur-alur gerekan yang ditumbuhi oleh jamur-jamur. Cabang atau ranting yang terserang akan kering dan mudah patah, sehingga tanaan tampak meranggas. Hama umumnya menyerang tanaman yang kondisnya kurang sehat. Pengendalian OPT secara terpadu Pengendalian OPT dilakukan dengan memadukan satu atau lebih teknik pengendalian yang dikembangkan dalam satu kesatuan. Melalui pengendalian OPT terpadu diterapkan dengan mempertimbangkan secara teknis dapat dilaksanakan, secara ekonomi menguntungkan, secara sosial budaya diterima masyarakat dan secara ekologi dapat dipertanggung jawabkan. Dengan pengendalian terpadu ini dapat diterapkan diantaranya melalui penggunaan varietas tahan, kultur teknis, agensi hayati dan pengendalian kimiawi yang ramah lingkungan. Jamur akar putih Gejala serangan jamur putih yaitu daun terlihat pucat kuning, selanjutnya daun gugur dan ujung ranting menjadi mati. Pada perakaran tanaman yang sakit tampak benang-benang miselium jamur warna putih, pada pangkal akar berwarna kekuningan. Penularan jamur biasanya berlangsung melalui kontak akar tanaman sehat ke tunggul-tunggul, sisa akar tanaman atau perakaran tanaman sakit. Penyakit jamur akar putih sering dijumpai pada tanaman yang kurang dirawat. Jamur akar hitam Penyebab penyakit adalah oseeelina bunodes atau Rosselina pepo. Gejala serangan mirip dengan gejala serangan jamur putih yaitu daun tanaman menguning, kemudian layu dahan dan ranting mati meranggas. Pada ranting, cabang atau batang yang terserang bila dikelupas kulitnya akan terlihat lapisan kambium berwarna coklat kehitaman. Bila batang atau cabang yang sakit dipotong melintang, maka akan kelihatan kambium berubah warna menjadi coklat kehitaman. Varietas tahan, Untuk menghindari serangan hama dan penyakit perlu dipilih tanaman yang tahan serangan OPT. Terkait dengan tersebut, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan aneka Industri telah melepas tiga varietas pala produksi tinggi diantaranya Ternate 1, Tidore 1 dan Tebello. Kultur teknis, Kultur teknis dilakukan dengan membersihkan kebun dari sumber infeksi, pengaturan jarak tanam dan pemangkasan tanaman dapat mengurangi serangan hama. Selain itu kultur teknis dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: 1. Untuk penanaman baru, perlu menghidarkan tanaman inang yang dapat menjadi sumber infeksi jamur akar putih seperti karet, teh, kopi, kakao, kelapa, kelapa sawit, mangga, nagka, ubi kayu, jati, cengkeh, lamtoro, dadap, akasia dll;. 2. Bila diadakan peremajaan tanaman, perlu dilakukan pembersihan kebun dari sumber infeksi seperti tunggul-tunggul tanaman yang terinfeksi; 3. Menggunakan tanaman penutup tanam; 4. Mengatur jarak tanam sesuai anjuran yaitu 9 x 10 m atau 10 x 10 m. Untuk tanaman yang terlalu rapat dapat dilakukan pemangkasan supaya menjaga kelembaban dan mendapat sinar matahari yang cukup diantara tanaman pala 5. Pembersihan gulma; 6. Pembuatan drainase dan pembukaan leher akar; 7. Tumnagsari tanaman pala dengan berbagai tumbuhan yang bersifat antagonis terhadap jamur akar seperti kunyit, lidah mertua, sambiloto dan lengkuas; 8. Melakukan sanitasi kebun dengan cara mengumpulkan tanaman yang terserang hama dan penyakit dengan cara eradikasi membakar bgian tanaman yang sakit. Agensia hayati, pengendalian hayati merupakan pengendalian dengan cara menurunkan populasi inokulum atau aktifitas patogen baik aktif maupun yang dorman dengan menggunakan satu atau lebih jenis organisme baik yang diintroduksi dari luar maupun melalui manipulasi lingkungan, inang dan antagonis. Agens antagonis telah tersedia di alam, aktivitasnya dapat distimulasi dengan memodifikasi lingkungan atau tanaman inang, aman terhadap lingkungan dan tidak mempunyai efek residu. Untuk hama penggerek batang/ranting, penggunaan agensia hayati Beauveria bassiana dapat digunakan dalam mengendalikan hama ini. Disamping itu parasitoid telur dan lalat Tachinidae juga dapat berperan sebagai musuh alami hama penggerek. Untuk jamur akar putih atau jamur hitam, beberapa agensia hayati seperti trichoderma sp. dan bakteri antagonis seperti Bacillus dan Pseudomonas telah berhasil dalam mengendalikan pertumbuhan jamur akar putih Trichoderma sp. diaplikasikan disekeliling perakaran tanaman dan diulangi 6 bulan sekali. Perlakuan ini dilakukan pada waktu kondisi tanah lembab pada awal atau akhir musim hujan. Pengendalian kimiawi, pengendalian secara kimiawi, menggunakan pestisida merupakan alternatif terakhir apabila teknis pengendalian yang lain dinilai tidak berhasil dan dilakukan secara bijaksana. Adapun pestisidan yang sering digunakan adalah Bayieston 250 EC dan untuk pengendalian penggerek batang digunakan Marshakk 200 EC.. Oleh : Ir. Sri Puji Rahayu, MM/ yayuk_edi@yahoo.com Sumber :1) inovasi Teknologi Membangun Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani, Badan Litbang Pertanian, Kementan, 2012; 2) Dihimpun dari berbagai sumber.