PENGENDALIAN PENYAKIT TROTOL PADA BAWANG MERAH Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki banyak fungsi, baik dari segi kesehatan atau sebagai bumbu masakan. Permintaan akan bawang merah relatif stabil dan cenderung mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Permintaan yang stabil dan cenderung naik menjadikan komoditas bawang merah merupakan salah satu komoditas potensial yang akan menguntungkan ketika dikembangkan dalam skala usaha yang besar. Kelebihan dari usaha tani bawang merah adalah daya tahan bawang merah yang mampu bertahan hingga lebih dari 2 bulan sejak dipanen dan masih aman dikonsumsi meski tidak disimpan dalam lemari es atau wadah khusus Akan tetapi, pengembangan komoditas bawang merah senantiasa mengalami kendala seperti penguasaan teknologi budidaya yang rendah, musim yang tidak menentu, dan adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Serangan OPT merupakan salah satu yang menyebabkan penurunan hasil bawang merah, baik dari sisi kualitas ataupun kuantitas. Salah satu penyakit yang menjadi momok bagi petani bawang merah adalah penyakit trotol (Alternaria porri) terutama pada musim hujan.Gejala serangan cendawan tersebut ditandai hadirnya bercak berukuran kecil, melekuk, berwarna putih dengan pusat ungu. Ujung daunnya mengering dan daun akhirnya patah. Ukuran bervariasi tergantung pada tingkat serangan. Pada serangan lanjut, bercak–bercak menyerupai cincin, warna agak keunguan dengan tepi agak kemerahan atau keunguan yang dikelilingi oleh zona berwarna kuning yang dapat meluas kebagian atas atau bawah bercak, dan ujung daun mengering. Permukaan bercak bisa juga berwarna cokelat atau hitam terutama pada keadaan cuaca yang lembab. Serangan trotol tersebut akan menyebabkan kualitas umbi turun, berukuran kecil, berwarna kusam, dan akan menyebakan harga jual bawang merah pun turun. Infeksi pada umbi biasanya dapat terjadi pada saat panen atau setelah panen. Umbi tampak membusuk dan berair dimulai dari bagian leher. Umbi yang membusuk berwarna kuning atau merah kecokelatan. Serangan lanjut menyebabkan jaringan umbi yang terserang mengering, berwarna gelap dan bertekstur seperti kertas. Umbi tersebut dapat menjadi sumber infeksi untuk tanaman generasi berikutnya jika digunakan sebagai bibit.Pengendalian penyakit Trotol secara preventif berupa penggunaan benih sehat, rotasi tanaman, dan sanitasi lingkungan. Pemupukan berimbang juga membantu meminimalisir resiko serangan. Kekurangan kalium akan menyebabkan tanaman rentan terserang penyakit Apabila ada gejala tanaman sakit sebaiknya segera memotong daun yang terserang trotol lalu kubur dalam tanah atau bakar. Selain itu pengendalian secara hayati dengan menggunakan agens hayati Trichoderma, Spp. Dengan dikocorkan atau disemprotkan pada pangkal batang dengan konsentrasi 10 ml/l air. Aplikasi dilakukan pada tanaman berumur 10, 20, 30 dan 40 hari setelah tanam. Secara kimiawi, trotol diatasi dengan fungisida berbahan aktif difenokonazol atau fungisida kontak berbahan aktif mancozeb selama 3 hari berturut-turut serta gunakan fungisida sistemik berbahan aktif dimetomorf atau metalaksil setiap 7 hari sekali hingga gejala serangan berhenti lalu penggunaan fungisida sistemik bisa diulang setiap 10 hari sekali. Dalam satu musim tanam sebaiknya lakukan pergiliran pestisida dengan 2-3 macam bahan aktif.