ulat grayak menjadi salah satu hama yang kerap mengganggu pertanian di indonesia, termasuk pertanaman komoditi jagung. hama baru ini dikenal dengan sebutan (spodoptera frugiperda j.e. smith) atau fall armyworm. ulat grayak merupakan serangga ngengat asli daerah tropis yang sebelumnya hanya ditemukan pada pertanaman jagung di amerika serikat, argentina, dan afrika. serangan larva yang masih kecil dapat merusak daun dan menyerang secara serentak berkelompok dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan, dan bisa sampai tinggal tulang-tulang daun saja. larva bersembunyi di permukaan bawah daun dan berkembang pada musim kemarau. ulat ini muncul di pertanaman setelah 11-30 hari setelah tanam. bagian tanaman jagung yang diserang hama ini adalah bagian batang yang masih muda, batang akan putus dan akhirnya tanaman jagung mati. hama agrotis sp. menyerang pada malam dan siang hari. ada 3 jenis ulat grayak(agrotis) yaitu: agrotis segetum: memiliki warna hitam dan ulat ini sering ditemukan di daerah dataran tinggi. agrotis ipsilon: memiliki warna hitam kecoklatan dan ulat ini sering di temukan di daerah dataran tinggi dan rendah. agrotis interjection: memiliki warna hitam dan banyak di temukan di pulau jawa. berdasarkan nama hama ini, yakni ulat grayak, diketahui bahwa fase hama ulat grayak yang paling merusak dari hama jagung yaitu fase larva atau ulat. hama ulat grayak merusak pertanaman jagung dengan cara menggerek daun tanaman jagung. bahkan, pada kerusakan berat, kumpulan larva hama ini seringkali menyebabkan daun tanaman hanya tersisa tulang daun dan batang tanaman jagung saja. apabila kumpulan larva hama ini mencapai kepadatan rata-rata populasi 0.2 – 0.8 larva per tanaman. akibatnya, itu menjadikan pengurangan hasil produksi sebanyak 5 – 20%. kerusakan tanaman jagung yang diserang oleh hama ulat grayak ditandai dengan: adanya bekas gesekan dari larva atau ulat. pada permukaan atas daun atau disekitar pucuk tanaman jagung, ditemukan serbuk kasar seperti serbuk gergaji. ulat grayak ini merusak bagian pucuk, daun muda, maka tanaman jagung dipastikan akan mati. ketika populasi ulat grayak ini sangat tinggi, maka bagian tongkol jagung juga akan diserang oleh hama ini. pencegahan ulat grayak : pengunaan benih dan varietas yang memiliki daya kecambah yang baik dan bebas dari penyakit. lakukan waktu penanaman yang tepat waktu dan hindari waktu penanaman yang tidak seragam pada satu lahan. itu untuk menghindari ketersediaan tanaman ianang hama ini ini secara terus menerus. kondisi tanah yang baik dengan penggunaan pupuk anorganik secara seimbang untuk mengurangi intesitas serangan hama ulat grayak ini. lakukan sistem tumpang sari tanaman jagung dengan tanaman lain yang tidak disukasi oleh hama ini. lakukan pengamatan setidaknya seminggu sekali untuk mengamati, mempelajari, dan mengambil keputusan yang tepat jika ditemukan gejala serangan hama ini.] pengendalian ulat grayak : secara mekanis, dapat dilakukan adalah dengan cara mencari dan membunuh larva dan telur hama ini secara mekanis, yakni dengan dihancurkan dengan tangan. secara biologis, dengan penggunaan musuh alami yang berperan sebagai agen pengendali hayati untuk mengurangi populasi hama ulat grayak. beberapa contoh musuh alami dari hama ini yaitu jenis parasitoid trichogramma spp. dan jenis predator cecopet, kumbang kepik, dan semut. penyusun : cut yusnidar,sp ( penyuluh bpp titeue aceh)