PENGENDALIAN ULAT GRAYAK PADA KEDELAIKedelai merupakan salah satu komoditas tanaman pangan yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat indonesia, kedelai merupakan sumber protein nabati, lemak, vitamin dan mineral, dan merupakan tanaman yang mudah tumbuh di Indonesia. Kedelai banyak diolah untuk berbagai bahan pangan dan juga banyak dimanfaatkan untuk bahan pakan ternak, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, maka permintaan terhadap komoditas kedelai semakin menikngkat, untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri, pemerintah melakukan impor kedelai, ini juga disebabkan karena produksi kedelai dalam negeri masih belum bisa memenuhi permintaan. Dan sampai saat ini kedelai nasional masih bergantung pada impor.Hama merupakan kendala dalam usaha meningkatkan produksi kedelai, salah satu hama daun penting yang mengakibatkan kehilanan hasil panen sebesar 20 – 50 % adalah spodoptera litura F, yang lebih dikenal dengan nama ulat grayak.Menurut pracaya (2005) spodoptera litura F. disebut ulat grayak. Karena ulat ini dalam jumlah yang sangat besar sampai ribuan menyerang dan memakan tanaman pada waktu malam harisehingga tanaman akan habis dalam waktu yang sangat singkat,spodoptera litura merupakan hama perusak daun yang bersifat polifag ( mempunyai kosaran inang yang sangat luas ).Ulat grayak ( spodoptera litura ) merupakan salah satu serangga pemakan daun yang statusnya sangat penting pada tanaman kedelai, untuk mengatai hama secara berkelanjutan khususnya ulat grayak, penggunaan produk dan teknologi pengendalian berwawasan lingkungan yang meminimalkan dampak pencemaran lingkungan serta tetap melestarikan musuh alamai.Ulat grayak menyerang pada fase vegetative dan pembungaan, serangan ulat ini memakan epidermis bawah daun, Larva bergerombol, sedangkan larva tua memakan seluruh bagian helai daun, bahkan bunga dan polong muda, Menyebabkan pertumbuhan terhambat bahkan mematikan tanaman. serangga dewasa spodoptera litura memiliki ukuran panjang badan 20 – 25 mm, berumur 5 – 10 hari dan untuk seekor serangga jenis ini betina bisa bertelur sampai 1500 butir dalam kelompok – kelompok 300 butir, serangga ini sangat aktif pada malam hari, sementara pada siang hari serangga dewasa ini .Penggunaan pestisida kimia yang belebihan menyebabkan timbulnya dampak negative baik terhadap serangga maupun terhadap lingkungan, misalnya timbuknya resistensi hama. Oleh sebab itu pengendalian ulat grayak dapat dilakukan dengan pengendalian hama terpadu ( PHT ) yaitu merupakan pengendalian dengan mengikur sertakan beberapa komponen pengendalian, termasuk komponen biologi yaitu predator,parasitoid dan pathogen serta pestisida nabati. Pengendalian awal dapat dilakukan dengan cara apabila ada kupu kupu atau ngengat serta terlihatnya adanya telur serangga dapat dilakukan dengan cara mekanis yaitu menangkap kupu kupu dengan menggunakan jaring, atau membunuh telur – telur serangga yang di temukan.Pengendalian ulat grayak ada beberapa macam,pengendalian secara biologi dengan mamanfaatkan predator laba laba atau menggunakan jamur pathogen serta menggunakan serangga lain .Pemberantasan secara kimia menggunakan pestisida dapat dilakukan apabila populasi ulat grayak mencapai ambang batas, pengendalian dilakukan secara tepat ( jenis, dosis, waktu,sasaran ).Pengendalian dengan pestisida nabati. pestisida nabati memiliki beberapa kelebihan diantarnya tidak mencemari lingkungan serta tidak membunuh musuh alamiCara kerja pestisida nabati, menghentikan aktivitas makan sementara atau permanen,serta menyebabkan efek mengurangi / menghambat aktivitas peneluran serangga betina. Dapat juga sebagai penghambat pertumbuhan dan penyebab kematian dengan cepat.Demikian cara pengendalian spodoptera litura F atau yang lebih dikenal dengan ulat grayak,semoga tulisan ini membawa manfaat untuk kita semua, serta kedepannya proses budidaya tanaman kedelai semakin baik dan swasembada kedelai bisa tercapai dan Negara kita tidak melakukan impor lagi.