A. Latar Belakang Peningkatan produksi tanaman pangan khususnya padi merupakan program pemerintah yang perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang terkait dengan urusan pangan. Proses produksi sangat terkait dengan teknologi budidaya yang diterapkan, termasuk pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Pengendalian merupakan salah satu upaya yang dilakukan agar tidak terjadi penurunan hasil dan kualitas hasil lebih baik. Wereng coklat (Nilaparvata lugens) merupakan hama dari golongan insekta yang sangat merugikan usaha tani padi. Serangan wereng coklat yang berat dapat secara langsung mengurangi hasil padi secara substansial, mengakibatkan kerugian di tingkat petani. Gejala serangan werwng coklat pada tanaman padi ditandai dengan daun menguning dan mengering dengan cepat, umumnya gejala terlihat mengumpul pada satu lokasi dan melingkar (hopperburn). Wereng coklat juga merupakan vektor (penular) penyakit virus kerdil rumput tanaman padi. Pada konsep pengendalian hama terpadu, sebelum kita melaksanakan tindakan pengendalian, maka perlu diketahui bahwa di alam telah tersedia musuh alami wereng coklat yang perlu dijaga kelangsungan hidupnya diantaranya adalah : kepik mired, capung jarum, belalang bertanduk, laba-laba serigala dan kumbang karabit. B. Tujuan Untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan para petani dalam upaya meningkatkan produksi, mampu menerapkan teknologi budidaya berdasarkan konsep PHT. C. Manfaat Sebagai bahan refenresi dalam upaya pengendalian hama wereng coklat pada tanaman padi sesuai konsep Pengelolaan Tanaman Terpadu dan ramah lingkungan. D. Cara Pengendalian : Pencegahan : Bersihkan gulma dari sawah dan areal sekitarnya. Gunakan varietas unggul tahan wereng seperti : Inpari 13 , Inpari 18, Inpari19, dan Inpari 23 Gunakan perangkap cahaya Tanam jajar legowo Pemupukan berimbang Pengamatan Amati wereng di persemaian setiap hari, atau setiap minggu setelah tanam pindah pada batang dan permukaan air. Periksa kedua sisi persemaian. Pada tanaman yang lebih tua, pegang tanaman dan rebahkan sedikit dan tepuk dengan pelan dekat bagian basal untuk melihat kalau ada wereng yang jatuh ke permukaan air. Selanjutnya perlu diketahui Ekobiologi hama wereng adalah sebagai berikut : Menyukai tanaman yg dipupuk N dosis tinggi dengan jarak tanam rapat. Siklus hidup 21-33 hari. Stadia rentan adalah sejak pembibitan hingga fase masak susu. Hama menghisap cairan tanaman pada sistem vaskuler (pembuluh). Pengendalian Hayati Penggunaan agensi hayati Metharizium anisopleae dan jamur Beuveria sp, Verticillium. Pengendalian menggunakan musuh alami/ predator (paedorus fuscifes, laba-laba, cooccinella sp, Ophionea nigrofasciata dll). Untuk memanfaatkan predator ini kita harus melakukan pengamatan minimal 1 minggu 1 kali dan gunakan insektisida yang selektif untuk menghindari terbunuhnya musuh alami tersebut. Pengendalian secara mekanik dan fisik Genangi persemaian, selama sehari, sampai hanya ujung bibit saja yang terlihat. Sapu persemaian dengan jaring untuk menghilangkan wereng (tapi tidak telurnya), terutama dari persemaian kering. Pada kepadatan wereng yang tinggi, penyapuan tidak akan dapat menghilangkan wereng dalam jumlah banyak dari bagian basal tanaman. Pengendalian kimiawi Penggunaan insektisida merupakan alternatif terakhir dan harus digunakan sesuai anjuran pada label. Gunakan pestisida yang berbahan aktif buprofezin , BPMC, imidakloprid. Ir. Dorri Sjukur, M.Si Penyuluh Pertanian Madya Dinas TPH-BUN SulSel