Loading...

PENGERINGAN DAN PENYIMPANAN GABAH

PENGERINGAN DAN PENYIMPANAN GABAH
Permasalahan beras di Indonesia selalu menjadi topik hangat untuk diperbincangkan. Pokok utamanya adalah bagaimana cara meningkatkan produksinya untuk mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri. Ada banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan produksi beras. Salah satu diantaranya adalah penanganan pasca panen terhadap gabah yang dihasilkan sehingga dapat meningkatkan hasil produksi.Gabah adalah bulir padi yang telah dipisahkan dari tangkainya (jerami). Dalam perdagangan komoditas, gabah merupakan tahap yang penting dalam pengolahan padi sebelum dikonsumsi karena perdagangan padi dalam partai besar dilakukan dalam bentuk gabah. Gabah yang baik harus memiliki kadar air tidak melebihi standar minimal. Untuk mendapatkan itu perlu dilakukan tahapan berupa pengeringan.Kegiatan pengeringan merupakan salah satu kegiatan yang penting dalam usaha mempertahankan mutu gabah. Karenanya harus ditangani secara baik dan benar. Kadar air gabah yang baru dipanen berkisar antara 20 – 25 %, sehingga perlu diturunkan kadar airnya dengan cara pengeringan sampai gabah mencapai kadar air maksimum 14 %. Tujuan pengeringan adalah agar gabah tidak mudah rusak sewaktu disimpan, rendeman giling dan mutu tetap baik. Untuk mencapai tujuan tersebut sebaiknya pengeringan dilakukan segera setelah pemanenan dan perontokan untuk mencegah butir kuning.Pengeringan gabah umumnya dilakukan dengan memanfaatkan panas sinar matahari, tetapi jika panen terjadi musim hujan disarankan menggunakan alat pengering buatan seperti mesin pengering (drayer) atau silo pengering. Sebelum melakukan penjemuran dengan sinar matahari perlu diperhatikan bahwa tempat penjemuran bebas dari genangan air, terlindung dari gangguan unggas dan binatang lainnya. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: a. Penjemuran dilakukan ditempat yang leluasa menerima sinar matahari, bebas dari genangan air, terlindung dari gangguan unggas dan binatang lainnya; b. Membuat lantai jemur dengan permukaan dari semen dan dibuat gelombang; c. Jika terjadi cuaca cerah penjemuran gabah sebaiknya dengan ketebalan 5 – 7 cm dan dibolak balik 1 – 2 jam sekali dengan menggunakan alat yang terbuat dari kayu atau bambu. Bila menggunakan alas jemur, jangan menggunakan terpal berbahan plastik karena dapat mempengaruhi peningkatan kadar air; d. Waktu penjemuran dianjurkan mulai pukul 08.00 pagi sampai jam 16.00 sore.Jika pengeringan gabah dalam jumlah besar maka pada malam hari tetap dibiarkan diatas jemuran dengan cara digundukkan dan ditutupi dengan plastic, terpal, untuk menghindari hujan dan embun. Jika gabah-gabah yang dikeringkan dalam jumlah kecil, sebaiknya gabah diusahakan dalam ruangan dengan memakai alas tikar atau plastik. Setelah penjemuran selesai gabah dapat dimasukkan ke dalam karung dan disimpan dalam ruangan jika volumenya tidak banyak. Namun jika volumenya besar gabah dapat dibiarkan di luar, tetapi harus ditumpuk dan ditutupi dengan plastik agar tidak terkena embun dan hujan.Dengan cara penjemuran seperti ini selama 2–3 hari pada cuaca baik akan diperoleh gabah dengan kadar air kurang lebih 14 %. Penjemuran yang terlalu lama dapat berakibat gabah banyak yang pecah saat penggilingan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengeringan: a. Pengeringan dilakukan sesegera mungkin setelah perontokan; b. Tempat pengeringan harus memperoleh penyinaran matahari serta bebas dari gangguan ayam atau unggas lainnya; c. Jika kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk penjemuran, gabah dapat dipanaskan pada ruangan di dalam rumah. Untuk menggantikan panas dapat digunakan lampu petromaks atau sumber panas yang lain. Tebal hamparannya antara 2–3 cm dan pembalikan juga harus tetap dilakukan. Penyimpanan GabahTujuan penyimpanan adalah untuk memperpanjang masa penyediaan bahan pangan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan adalah: a)Gabah yang disimpan dengan kadar air maksimum 14 % bersih dari kotoran, gabah hampa maksimal 3 %; b)Menggunakan wadah karung yang bersih dan bebas hama; c)Gudang atau lumbung penyimpanan diusahakan agar dibangun memanjang dari arah timur barat. Untuk menghindari luasnya dinding yang terkena sinar matahari terlalu lama, sehingga gudang cukup sejuk; d)Gudang atau lumbung harus dibersihkan dari hama gudang dan disemprot dengan insektisida yang telah dianjurkan, termasuk dari serangan tikus; e)Sirkulasi udara cukup baik guna menjaga kelembaban dan suhu yang seragam; f)Jika lantai gudang dibuat dari semen, maka harus menggunakan alas kayu, guna menghindari kontak langsung antara wadah gabah dengan lantai semen; g)Dinding gudang dibuat sedemikian rupa, sehingga dapat menghindari hama bersembunyi. Gabah yang akan disimpan harus memiliki kadar air maksimal 14 %. Gudang tempat penyimpanan sebaiknya berlantai semen, kering serta diberi alas kayu dengan ketinggian kira-kira 15 cm sehingga karung tempat gabah tidak akan bersentuhan langsung dengan lantai, dan peredaran udara dibawah karung dapat berlangsung dengan baik. Gudangpun harus memiliki lubang udara yang cukup, sedangkan gabah yang akan digunakan sebagai benih harus dipilih yang benar-benar baik. Kadar air perlu diturunkan lagi menjadi 11 % dengan cara dijemur lagi satu hari. Kemudian gabah dimasukkan ke dalam kantong-kantong plastik dengan ukuran kecil dan kantong ini dimasukkan ke dalam blek atau kaleng, dan ditutup sampai kedap udara menggunakan lilin. Sedangkan penyimpanan beras sebelum dikonsumsi atau dijual, beras disimpan dalam jangka waktu tertentu. Penyimpanan dengan teknik yang baik dapat memperpanjang daya simpan dan pencegahan kerusakan beras. Penyimpanan beras umumnya menggunakan pengemas yang berfungsi sebagai wadah untuk melindungi beras dari kontaminasi, dan mempermudah dalam pengangkutan. Penyimpanan dengan pengemas yang terbuat dari poli propilen dan polietilen densitas tinggi memperpanjang daya simpan beras dan lebih baik dibanding karung dan kantong plastik. (Inang Sariati) Sumber:1. Teknologi pasca panen padi tahun 2012, Ditjen Tanaman Pangan 2. https://www.google.co.id/search?q=gabah