Sapi bali jenis sapi pedaging unggul lokal mudah beradaptasi dengan lingkungan disekitar. Sapi Bali keturunan banteng yang dijinakkan dengan ciri ciri berikut ukuran badan relatif kecil, tidak memiliki punuk, badan berwarna coklat, pada bagian moncong berwarna putih. Bagian pantat kanan kiri sapi nampak belang putih membentuk cermin dan kaki depan dan belakang pada bagian bawah seperti menggunakan kaus kaki.Sepanjang bagian punggung sapi jantan maupun betina terdapat garis bulu hitam yang sangat tipis. Berat sapi bali pejantan 363 kg dan sapi betina 272 kg. Pada dasarnya sapi bali merupakan sapi yang sangat bagus dibudidayakan untuk ternak kerja.dan dapat juga dikembangkan sebagai sapi penggemukan asalkan pemberian pakannya diperhatikan benar kandungan gizi pakannya.Sapi bali yang digemukkan adalah sapi bakalan berumur 1,5 – 2 tahun, berat badan 200 kg. Penggemukan sapi bali dapat dilakukan dengan 3 cara; 1) sapi bali dibiarkan lepas bebas dilahan penggembalaan, 2) sapi bali dikerem yaitu sapi sepanjang waktu berada didalam kandang 3) sapi bali dibudidayakan dengan model kombinasi penggembalaan dan budidaya kereman.1. Sapi bali dibiarkan lepas bebas dilahan penggembalaan Sapi bali dilepas bebas di lahan penggembalaan dikenal dengan nama pasture fattening. Pilihan budidaya pasture fattening dilakukan bila lokasi budidaya sapi bali mempunyai lahan penggembalaan yang luas. Pada pemeliharaan sapi bali dilepas bebas peternak tidak lagi memberikan pakan tambahan tetapi tetap diberikan pakan suplemen berupa molasses blok ditempatkan didalam drum untuk dijilati sapi bali. Lahan lokasi penempatan molasses blok harus beratap agar tidak kehujanan2. Sapi bali dikerem Budidaya sapi bali model kereman dilakukan dengan mengkandangkan sapi bali terus menerus sampai sapi bali siap dijual yang dikenal dengan nama dry lot fattening. Lamanya waktu pengereman sapi bali dilakukan 3-5 bulan. Konsekwensi pada pemeliharaan sapi kereman petani ternak harus mau dan mampu menyediakan semua kebutuhan pakan ternak yang terdiri dari hijauan pakan ternak, konsentrat dan mineral. Acuan pemberian hijauan pakan ternak minimal 10 % dari berat badan sapi dalam satu harinya. Untuk pemberian konsentrat ukuran yang digunakan 60 % dari total pemberian hijauan pakan ternak. Dan pakan suplemen berupa mineral juga perlu diberikan pada sapi bali yang dikerem. Selain pemberian pakan yang juga harus disediakan petani ternak adalah air minum yang diberikan secara ad-libitum artinya sepanjang waktu air minum harus selalu tersedia.3. Sapi bali dibudidayakan kombinasi penggembalaan dan kereman. Budidaya penggemukan sapi bali model kombinasi juga dikenal dengan nama mix lot fattening. Budidaya sapi bali model mix lot fattening ini dapat dilakukan jika ketersediaan hijauan pakan ternak melimpah pada saat musim panen dan dmusim hujan ternak digembalakan. Pada musim kemarau ketersediaan hijauan pakan ternak berkurang dan itu artinya sapi bali dikandangkan sebagai sapi kereman.Pemilihan model penggemukan sapi bali tentunya perlu dipertimbangkan 1) biaya tenaga kerja untuk mencari hijauan pakan ternak dan kebersihan kandang, 2) biaya pembelian pakan jika hijauan pakan tidak tersedia dilingkungan kandang dan pakan tambahan berupa konsentrat dan mineral. 3) waktu budidaya penggemukan sapi bali yang tepat terkait biaya pengeluaran untuk pakan ternak dan tenaga kerja Pemberian pakan penggemukan sapi baliPemberian pakan pada penggemukan sapi bali tidak berbeda dengan budidaya sapi pada umumnya dengan pemberian pakan berupa hijauan pakan ternak dan konsentrat. Hijauan pakan ternak berupa rumput lapangan dan tanaman leguminosa. Hijauan pakan ternak yang dapat diberikan pada penggemukan sapi bali berupa rumput lapangan yang terdiri dari rumput unggul dan jerami padi serta kacang kacangan berupa tanaman leguminosa. Tanaman leguminosa yang dapat diberikan berupa sentrosema, siratro, lamtoro dan gamal. Perbandingan pemberian hijauan pakan ternak berupa rumput dan tanaman leguminosa dianjurkan mengacu pada patokan perbandingan rumput lapangan : leguminosa 70 : 30 artinya 70 bagian rumput lapangan dan 30 bagian leguminosa. Pemberian leguminosa harus dilayukan terlebih dahulu. Pemberian hijauan pakan ternak dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari.Konsentrat yang diberikan berupa dedak padi, jagung, bekatul bungkil kelapa, onggok dan ampas tahu. Acuan patokan yang dianjurkan pada pemberian konsentrat 1 % dari berat badan sapi bali. Pemberian konsentrat diberikan 2 jam sebelum pemberian hijauan pakan ternak. Untuk pemberian air minum harus dilakukan secara ad-libitum yaitu air minum harus tersedia sepanjang waktu.Hijauan pakan ternak berupa rumput dan jerami padi merupakan hijauan pakan ternak sumber karbohidrat dan serat kasar. Dan tanaman leguminosa merupakan pakan sumber protein dan mineral yang diperlukan untuk kepentingan gizi pakan yang berguna untuk kebutuhan hidup pokok sapi dan pertambahan berat badan sapi bali sebagai hasil produksi ternak yang diharapkan.Hasil kajian yang dikutip Harjuli Hatmono ( 2009 ) pemberian pakan penggemukan sapi bali dengan pemberian ransum hijauan 10 % berat badan diberikan 2 kali pagi dan sore, konsentrat 1 % berat badan terjadi pertambahan berat badan sebesar 33,57 kg dalam waktu 2 bulan, artinya pertambahan berat badan setiap harinya 0,52 kg Nani Priwanti Soeharto - PP PPMKP Ciawi Sumber ; 1. Edi Rianto dan Endang Purbowati . Panduan Lengkap Sapi Potong. Penebar Swadaya, 2009 2. Harjuli Hatmono. Model Usaha Usaha Agribisnis Sapi Pedaging, PT. Duta Karya Swasta , 2010