Loading...

PENGGEREK BATANG PADA TANAMAN TEBU

PENGGEREK BATANG PADA TANAMAN TEBU
a. Daerah sebaranPenggerek batang, Chilo auricillius Dudgeon, dan Chilo sacchariphagus Bojer, terdapat diseluruh wilayah pertanaman tebu di Indonesia. Yang merugikan adalah larva (ulat) penggerek yang berkilat dan bergaris. Biasanya dijumpai pada tanaman tebu yang berumur 5 bulan ke atas. Sayap muka ngengat bernoda hitam di bagian tengahnya dengan bintik berkilat. Telurnya berada di kedua permukaan helai daun dan berkelompok seperti susunan genteng 7–39 butir dalam 3-5 baris. Selama hidupnya ngengat betina mampu bertelur sampai 182 butir. Daun hidup penggerek batang berkisar antara 31 – 54 hari, mencakup 5 - 6 hari masa telur, 21 -41 hari masa sebagai ulat (larva), dan 5 - 7 hari masa berkepompong.b. Gejala serangan dan kerugianSerangan dapat terjadi pada setiap fase pertumbuhan tanaman. Pada tanaman muda dapat menyebabkan mati puser. Tampak bercak-bercak putih bekas gerekan pada daun. Terdapat pula lorong gerekan pada pelepah daun, dan juga pada ruas-ruas, sehingga terjadi kerusakan pada ruas-ruas batang yang mengakibatkan perturnbuhan terlambat dan batang mudah patah. Dapat juga menyebabkan kernatian batang bila titik tumbubnya terserang. Dalam satu batang biasanya terdapat lebih dari satu penggerek. Kerugian terutama pada tebu yang telah beruas. Kerugian sebagian dapat berupa total batang-batang tebu yang mati atau busuk dan tidak dapat digiling, sebagian lagi berupa penurunan bobot tebu dan rendemen akibat kerusakan pada ruas-ruas batang. Serangan ruas sebesar 1 % akan menurunkan 0,74 persen hasi1 hablur gula (Mathes et all., 1954 dan 1960). Sedangkan Boedijono W.A. (1973) memperkirakan bila terjadi serangan ruas 20 persen dapat terjadi penurunan hasil gula sekurang-kurangnya 10 persen.c. Cara pengendalianPenanaman dengan bibit bebas penggerek per1u dikembangkan sebagai usaha pengendalian dengan pencegahan. Dengan cara ini diharapkan tidak tetjadi suatu "Iedakan" hama yang sulit dikendalikan. Jika diperlukanpengendalian, lebih diutarnakan pengendalian secara biologis, sedangkan pengendalian secara kimiawi hanya dilaksanakan sebagai pilihan terakhir.(i) Pengendalian secara biologis ; Hasil-hasil pelepasan lalat Jatiroto, Diatraeophaga striatalis Townsend, dapat rnenurunkan serangan penggerek batang dari 18 % menjadi 6 % di PG Kadhipaten (Boedijono, 1973) dan dari 33 % menjadi 2 % di PG Sragi (Samoedi dan Boedijono, 1986a). Pelepasan parasit telur, Trichogramma sp, tidak pengaruhnya terhadap populasi penggerek (Samoedi et. aI., 1985; Samoedi danBoedijono, 1986b). Untuk rnernperoleh hasil yang baik, pelepasan lalat Jatiroto dilaksanakan pada tanaman yang berumur 4 dan 6 bulan masing-masing 15 pasang/ha. Pelepasan hendaknya dilakukan secara masal dan sistemik (Samoedi, 1993; Irawan, 1989).Apanteles jlavipes, di1aporkan te1ah memberikan hasil baik di Sao Paulo, Brazilia(Masedo dan Bothelo, 1986). Namun di Indonesia belum pernah dilakukan secara sistematik dan masal di area pabrik gula (Samoedi, 1993).(li) Pengendalian secara kimiawi ; Pengendalian secara kimiawi dikerjakan jikamernang tidak dijurnpai adanya musuh-musuh alami penggereknya, Jika dijumpai musuh alarninya, maka usaha pertarna adalah mengembangkan rnusuh alami tersebut dan melepaskan kernbali ke lapangan secara masal dan sisternatik. Bilamana "terpaksa" rnelakukan pengendalian secara kimiawi dengan penyemprotan insektisida dilakukan dengan cara :(1) Aplikasi insektisida dilakukan hanya di daerah yang menderita serangan berat. Sejak tanaman berumur 3 bulan dan dilakukan pemantauan dengan selang waktu satu minggu sekali untuk mengetahui tingkat serangan penggerek.(2) Aplikasi dilaksanakan jika serangan pada daun muda (nomor 2 dan 1) telah mencapai 5%. Aplikasi diulang setiap 2 minggn apabila serangan pada daun muda masih 5 % atau lebih.Penyemprotan dihentikan apabila serangan pada daun muda sudah kurang dari 5 %, atau tanamannya sudah terlalu tinggi, berumur 5 – 6 bulan.(3) Insektisida yang dapat digunakan antara lain adalah: Thiodan 35 EC•(3 l/ha),Agrothion 50 EC (3 I/ha), Azodrin 15 WSC (5 I/ha), Supracide 40 EC (3 I/ha), Orthene 75 SP (2 kg/ha), Sevidan 70 WP (2 kg/ha ), Bidrin 24 WSC (4 l/ha), dan Padan 50 SP (2 kg/ha). Penulis : Agus Sutarman, Penyuluh Pertanian Pusat.Email : agussutarman56@gmail.comSumber Tulisan : Dasar-Dasar Teknologi Budidayat Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, UNM 2011 dan dari berbagai sumber.