Loading...

PENGGUNAAN AIR TANAMAN PADI SECARA HEMAT

PENGGUNAAN AIR TANAMAN PADI SECARA HEMAT
Penggunaan air secara hemat, dimulai dari sumber air, penyaluran,sampai tingkat lapangan, dngan gambaran sbb:1).Pada sumber air; a.Air permukaan, -Sungai, Pada umumnya sulit dikendalikan karena bila terjadi kelebihan air akan mengalir kebagian hilirnya.-Penyimpanan (storage): dam, embung, chekdam, dan sebagainyaPengambilan air agar disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga tidak boros. Sepanjang "storage" tersebut belum penuh, air yang tidak dikeluarkan masih dapat disimpan.- Air Hujan;Perlu diatur sedemikian rupa sehingga air hujan yang jatuh dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tanaman. b. Air tanah;Untuk konservasi air tanah, debit pemompaan (discharge) agar tidak melebihi debit pengisian kembali (recharge). Pengaruh ini nyata sekali pada sumur air tanah dalam karena proses pengisian kembali pada aquifernya (lapisan yang mengandung air) memerlukan waktu yang cukup lama. Berbeda pada air tanah dangkal dimana debit airnya dipengaruhi secara nyata oleh adanya musim, pemompaan air yang berlebihan akan segera dikompensasi oleh debit pengisian kembali pada saat musim hujan tiba.Khususnya untuk air tanah yang menyembul keluar berupa mata air, Pemanfaatan mirip pada aliran permukaan lainnya seperti halnya sungai. 2).Pada tingkat penyaluran (jaringan utama) dan distribusi; a. Perbaikan perancangan.Perencanaan/ perancangan irigasi di Indonesia pada umumnya didasarkan untuk irigasi tanaman padi (rice base system design), sehingga semua saluran dan bangunannya dirancang untuk pemberian air secara terus menerus untuk memenuhi kebutuhan air tanaman padi. Agar jaringan irigasi dan pengelolaannya lebih optimal maka usulan perancangan kembali (redesign) dari jaringan maupun cara pengelolaan yang ada perlu dipikirkan.Dalam perancangan saluran, peningkatan efisiensi irigasi tersebut dapat dilakukan melalui perancangan ukuran geometris saluran yang optimal (debit maksimal dengan luas penampang dan keliling basah minimal); merancang kemiringan saluran agar memungkinkan kecepatan alirannya maksimal (masih harus dibawah batas kecepatan yang diizinkan), tetapi tidak mengganggu penyadapan di bagian hulunya; mengurangi/ menghindari belokan, perubahan geometris saluran yang tiba-tiba; pemlesteran dinding saluran/ membuat saluran dengan sistem perpipaan (mengurangi kehilangan air akibat evaporasi, seepage, perkolasi, dan kebocoran), dan sebagainya.b.Perbaikan kondisi fisik jaringan irigasi; Agar jaringan irigasi dapat berfungsi efektip dan efisien (optimal), jaringan tersebut harus dalam kondisi baik, lengkap dengan alat pengatur dan pengukurnya. Karena itu bila kondisi jaringan mengalami kerusakan harus diperbaiki, dan bila perlengkapannya kurang juga harus dilengkapi. Hal ini tentu juga berlaku bagi jaringan yang mengalami redesign.c. Perbaikan pengelolaan; Perbaikan pengelolaan ini harus dilakukan dari mulai penyadapan sumber airnya sampai dengan pemanfaatannya di lahan usaha tani.a). Pada tingkat penyaluran (di jaringan utama); Kehilangan air yang terjadi disini adalah akibat dari adanya seepage, penguapan, pelimpasan maupun dari adanya bocoran bocoran yang terjadi. Untuk memperkecil kehilangan tersebut dapat dilakukan dengan melining saluran terbuka, mengubah saluran terbuka menjadi tertutup/sistem perpipaan, melengkapinya dengan alat pengatur dan pengukur, memperbaiki tempat tempat yang bocor, melaksanakan O&P yang tepat dan sebagainya. Dengan mengurangi kehilangan tersebut, efisiensi penyaluran dapat ditingkatkan. b).Pada jaringan distribusiKehilangan air pada jaringan distribusi disamping akibat kehilangan secara administratip (pengaruh pengelolaan), juga disebabkan oleh hal yang sama seperti pada kehilangan di sistem penyaluran di tingkat jaringan utama. Untuk mengurangi kehilangan air pada tingkat ini, disamping menggunakan cara cara seperti pada sistem penyaluran di tingkat jaringan utama juga perbaikan sistem pengelolaannya.3).Pada tingkat lapangan/lahan; a. Lahan tadah hujan; Dalam hal ini pengaturan pola dan kalender tanam adalah sangat penting agar curah hujan yang jatuh tersebut dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk memenuhi kebutuhan konsumtipnya, terutama pada pada saat tanaman mengalami periode kritis tidak mengalami kekurangan air. b). Memanfaatkan curah hujan efektip yang sebesar besarnya. Curah hujan efektip untuk keperluan pertanian pada umumnya didefinisikan sebagai curah hujan yang bisa disimpan didaerah perakaran untuk memenuhi kebutuhan konsumtip tanaman. Usaha peningkatan curah hujan efektip ini pada dasarnya merupakan usaha untuk meningkatkan infiltrasi yang dapat dilakukan dengan berbagai cara.b. Lahan beririgasiUntuk tanaman padi; • Persemaian; Meskipun luas lahan persemaian untuk tanaman padi hanya sekitar 5 % dari luas tanaman padi dewasa, namun mengingat bahwa kebutuhan air untuk persemaian tanaman padi cukup tinggi bisa dianjurkan untuk memanfaatkan persemaian dengan sistem dapok, tabor benih langsung (TABELA), dsb. Dengan sistim dapok ini penggunaan air untuk persemaian menjadi lebih kecil, karena luas lahan/media yang digunakan jauh lebih sempit. Pada sistim tabela, nampaknya juga dapat menghemat air karena tidak diperlukannya persemaian dan tidak diperlukan penyesuaian dalam pertumbuhan tanamannya. • Pengolahan tanah; Kebutuhan air untuk pengolahan tanah merupakan kebutuhan terbesar dari rangkaian kebutuhan air untuk tanaman padi. Pada awal musim penghujan dimana curah hujan yang jatuh masih relatip sedikit, sedangkan debit air irigasi masih relatip kecil untuk memenuhi kebutuhan air untuk pengolahan tanah ini menimbulkan persoalan tersendiri.Untuk mengurangi permasalahan tersebut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Pengolahan tanah secara kering; Dengan pengolahan tanah secara kering, berarti tidak diperlukan lagi air untuk keperluan pengolahan tanah ini. Khususnya kebutuhan air untuk pelumpuran, jika akan dilakukan penanaman secara basah dilaksanakan setelah curah hujan cukup ataupun bila air di saluran telah tersedia cukup. b. Pengolahan tanah minimal/Tanpa olah tanah, dengan adanya pengolahan tanah minimal/tanpa olah tanah (TOT), berarti penggunaan airnya akan lebih kecil, disamping dapat dilakukan percepatan tanam. c. Mempercepat waktu pengolahan tanah khususnya pada tanaman musim gadu, percepatan tanam bisa dilakukan dengan percepatan pengolahan tanah dengan sistem "walik jerami" (tanah segera diolah setelah panen selesai). • Penanaman sd Panen;Jumlah air yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, Bila debit air disaluran menurun, pemberian airnya dapat dilakukan secara bergiliran/terputus putus tetapi hindari terjadi kekurangan air pada periode kritisnya. Selama waktu 2 minggu sebelum panen, pemberian air hendaknya dihentikan. d.Jenis tanaman dan Varietas. Dalam hal pemilihan jenis tanaman dipilih jenis tanaman yang tahan tahan kering. Demikian pula dalam pemilihan varietas, diusahakan varietas yang berumur pendek, memerlukan air sedikit, dan tahan kering. Penyunting : Ir. Ali Bosar Harahap. MMEmail : Ali.bosarharahap@yahoo.co.idSumber : Direktorat Pengelolaan Air Irigasi. 2014. Modul Pelatihan Tehnis Irigasi Hemat Air, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian. Kementerian Pertanian. Jakarta 34 halaman Hal 7 – 13.Sumber Gambar :http://www.pu.go.id/main/view/1630