Unsur hara makro merupakan unsur hara utama yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak. Sebagian besar unsur hara makro yang terdiri dari N, P, K, S, Mg dan Ca, merupakan bagian dari struktur jaringan tanaman. Unsur hara mikro merupakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit, karena itu jika diberikan berlebihan dapat menjadi racun bagi tanaman. Unsur mikro terdiri dari Zn, Fe, Cu, B, Mo, Mn dan Cl.Untuk menunjang kelangsungan dan peningkatan produksi serta mutu hasil produksi, tanaman memerlukan kecukupan hara yang dapat dipenuhi melalui pemupukan. Pemupukan dimaksudkan untuk menambah unsur hara makro dan mikro ke dalam tanah dengan pemberian bahan-bahan organik berupa pupuk kandang, pupuk kompos, cairan nutrisi dan pupuk anorganik yang berupa pupuk buatan. Pemberian pupuk yang dilakukan secara berimbang berdasarkan kebutuhan tanaman dan ketersediaan hara tanah dengan prinsip tepat jumlah, jenis, cara, dan waktu aplikasi, akan memberikan pertumbuhan yang baik dan meningkatkan kemampuan tanaman mencapai hasil tinggi.Bagan Warna Daun (BWD) Bagan warna daun merupakan kartu plastik berbentuk persegi panjang yang memiliki empat kotak dengan skala warna yang tergradasi dari mulai hijau muda hingga hijau tua. Kebutuhan tanaman padi akan N dapat diketahui dengan cara mengukur tingkat kehijauan warna daun padi menggunakan BWD. Penggunaan BWD dapat membantu petani mengetahui apakah tanaman perlu segera diberi pupuk N atau tidak, dan berapa takaran yang perlu diberikan. Pemberian pupuk N yang dilakukan berdasarkan pengukuran warna daun dapat menekan biaya penggunaan pupuk sebanyak 15 – 20 % dari takaran yang umum digunakan petani tanpa menurunkan hasil. Cara Penggunaan BWDBagan Warna Daun digunakan pada stadia pertumbuhan tanaman dengan cara membandingkan warna daun dengan skala BWD, sebagai berikut:1. Lakukan pengamatan terhadap 10 rumpun tanaman sehat yang dipilih secara acak pada suatu hamparan yang seragam. Gunakan daun teratas yang telah membuka penuh pada satu rumpun sebagai bahan pengukuran;2. Letakkan bagian tengah daun di atas BWD, kemudian bandingkan antara warna daun dengan warna yang terdapat pada bagan. Jika warna daun berada diantara dua skala BWD, gunakan nilai rata-rata, misalnya 3,5, untuk warna diantara 3 dan 4;3. Pengukuran daun dengan BWD dapat dilakukan pada pagi atau siang hari, namun hindari saat matahari terik, sebab pantulan sinar matahari dari daun padi dapat berpengaruh pada hasil pengukuran warna daun;4. Pengukuran hendaknya dilakukan pada waktu yang sama dan oleh orang yang sama;5. Jika enam atau lebih dari 10 daun yang diamati berada dalam batas kritis, yaitu di bawah skala 4, maka tanaman perlu segera diberi pupuk N susulan, sesuai dengan dosis yang diperuntukkan untuk pencapaian tingkat hasil di tempat yang bersangkutan. Waktu Penggunaan BWDWaktu penggunaan BWD dapat dipilih dari dua pilihan, yaitu berdasarkan waktu yang telah ditetapkan (fixed time) dan berdasarkan kebutuhan nyata tanaman (real time).1. Berdasarkan waktu yang telah ditetapkan (fixed time)Bagan Warna Daun digunakan pada pemupukan kedua atau stadia pembentukan anakan aktif (21 – 28 Hari Setelah Tanam/HST) dan pada pemupukan ketiga atau stadia primodia (35 – 40 HST). Dengan cara ini hanya perlu dilakukan dua kali pengukuran warna daun padi dengan BWD, karena pada saat pemupukan dasar (pemupukan pertama), tidak perlu digunakan BWD. Hasil pengamatan warna dengan BWD digunakan untuk mengoreksi dosis pupuk N susulan (pemupukan kedua) yang sudah ditetapkan sebelumnya, sehingga lebih tepat sasaran, sesuai dengan kondisi tanaman;Sebagai catatan, pemupukan dasar pada padi dilakukan dengan pemberian 50 – 75 kg urea per hektar sebelum tanaman berumur 14 HST. Selain pupuk tunggal, pupuk majemuk juga dapat digunakan sebagai pupuk dasar. 2. Berdasarkan kebutuhan nyata tanaman (real time)Bagan Warna Daun digunakan dengan membandingkan nilai warna daun padi dengan skala BWD secara berkala, yaitu setiap 7 - 10 hari sejak 21 – 28 HST sampai 50 HST. Tanaman segera diberi pupuk N, bila nilai warna daun berada di bawah skala 4 BWD. Dengan cara ini petani perlu sering ke sawah untuk membandingkan warna daun padi dengan BWD. Penentuan Takaran Pupuk NMengingat penggunaan BWD berkaitan erat dengan tingkat hasil yang biasa dicapai di suatu tempat, maka pupuk N susulan diberikan sesuai dengan dosis yang digunakan untuk mencapai tingkat hasil di tempat yang bersangkutan. Terdapat dua cara penentuan takaran pupuk N, yaitu berdasarkan waktu yang telah ditetapkan (fixed time) dan berdasarkan kebutuhan nyata tanaman (real time).1. Berdasarkan waktu yang telah ditetapkan (fixed time)Dosis pemupukan kedua dan ketiga ditetapkan berdasarkan waktu yang telah ditetapkan, yaitu pada stadia pembentukan anakan aktif (21 – 28 HST) dan stadia primodia (35 – 40 HST), sesuai dengan skala warna daun pada penggunaan BWD, sebagai berikut:a. Bila nilai warna daun berada dalam kisaran skala 2 - 3 dan hasil yang biasa dicapai di suatu tempat 7,0 ton GKG/ha, maka berikan 125 kg urea/ha. Namun bila hasil yang biasa dicapai di suatu tempat 5,0 ton GKG /ha, maka berikan 75 kg urea/ha; b. Bila nilai warna daun berada dalam kisaran skala 3 - 4 dan hasil yang biasa dicapai di suatu tempat 7,0 ton GKG/ha, maka berikan 100 kg urea/ha. Namun bila hasil yang biasa dicapai di suatu tempat 5,0 ton GKG /ha, maka cukup berikan 50 kg urea/ha; c. Bila nilai warna daun berada dalam kisaran skala 4 - 5 dan hasil yang biasa dicapai di suatu tempat 7,0 - 8,0 ton GKG/ha, maka berikan 50 kg urea/ha. Namun, bila hasil yang biasa dicapai di suatu tempat 5,0 - 6,0 ton GKG/ha, maka tanaman tidak perlu dipupuk; 2. Berdasarkan kebutuhan nyata tanaman (real time)Saat pemupukan dasar, BWD tidak perlu digunakan. Pengukuran warna daun padi dengan BWD dimulai pada 21 – 28 HST, dilanjutkan setiap 7 - 10 hari sekali sampai 50 HST, sebagai berikut:a. Apabila tingkat hasil di suatu tempat sebesar 7 ton/ha GKG, takaran pupuk urea susulan yang diperlukan adalah 100 kg/ha;b. Apabila tingkat hasil di suatu tempat sebesar 5 ton/ha GKG, maka takaran pupuk urea susulan yang diperlukan adalah 50 kg/ha;c. Pemberian urea susulan diperlukan apabila warna daun berada di bawah nilai kritis (skala d. Pada penggunaan BWD berdasarkan kebutuhan nyata tanaman, bila petani menggunakan ZA atau pupuk majemuk sebagai pupuk dasar, maka perlu diperhatikan total kandungan N yang bersumber dari pupuk majemuk tadi, untuk selanjutnya sisa dapat ditambahkan dalam bentuk pupuk N lainnya (misalnya urea). Sebagai contoh: 100 kg ZA mengandung 21 kg N; 100 kg pupuk majemuk NPK 15 - 15 - 15 mengandung 15 kg N; 100 kg urea mengandung 46 kg N. Berdasarkan kebutuhan nyata tanaman, pupuk dasar N yang harus diberikan yaitu 50 kg urea/ha.Untuk padi hibrida dan padi tipe baru (PTB), BWD juga dapat digunakan, tetapi pada saat 10 % individu tanaman berbunga atau bila warna daun berada di bawah batas kritis, berikan tambahan 50 kg urea/ha sebagai dosis pupuk tambahan. Perlu diingat bahwa tingkat hasil tersebut tercapai pada kondisi kebutuhan tanaman akan unsur hara lain seperti P dan K terpenuhi, serta faktor lain seperti pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) dan pengelolaan air dilakukan secara optimal.(Penulis: Ir. Diana Prasastyawati, M.Si, Penyuluh Pertanian pada Pusat Penyuluhan Pertanian, alamat e-mail: dianapras@gmail.com)Sumber informasi1. Aan A.Dradjat, Agus Setyono, A.Karim Makarim, Andi Hasanuddin (Ed), 2009. Padi: Inovasi Teknologi Produksi Buku 2. J, 2009. Jakarta: LIPI Press2. Anonim. Defisiensi Unsur Hara Jeruk, 2011. Jakarta: Direktorat Budidaya dan Pasca Panen Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian