Loading...

PENGGUNAAN BENIH BERMUTU DAN UNGGUL

PENGGUNAAN BENIH BERMUTU DAN UNGGUL
Benih merupakan salah satu penentu keberhasilan besar kecilnya produktivitas padi. Hal ini ditentukan oleh varietas unggul benih yang digunakan petani. Benih yang berkualitas tinggi akan menghasilkan pertanaman yang cepat, tanam serempak, sehingga bibit yang dihasilkan lebih seragam. Di Jawa Timur, sebanyak 60% menggunakan benih informal yaitu benih yang dihasilkan sendiri, atau milik tetangga, atau membeli di toko (Ruskandar, dkk; 2007). Benih yang banyak tersebar dan digunakan petani di pulau Jawa yaitu jenis benih dasar (label putih), benih pokok (label ungu), dan benih dasar (label biru). Dan di Jawa Timur penggunaan jenis benih paling tinggi (72,9%) yaitu benih pokok (label ungu). Dikatakan Ruskandar dkk bahwa benih label ungu ini digunakan petani karena anggapan mereka benih dengan tingkat kelas benih yang lebih tinggi akan menghasilkan jumlah gabah yang tinggi pula. Namun, hal tersebut tidak terbukti. Masih diketemukan penggunaan benih label jambu merah (non-sertifikat) oleh petani mereka beralasan harga benih bersertifikat yang masih mahal. Benih bermutu merupakan benih berlabel dengan tingkat kemurnian dan daya tumbuh yang tinggi. Benih berlabel merupakan benih yang sudah lulus proses sertifikasi yang merupakan salah satu bentuk jaminan mutu benih. Sedangkan ciri benih bermutu adalah benih murni dari suatu varietas, berukuran penuh dan seragam, daya tumbuh baik, bebas dari biji gulma, penyakit , hama, atau bahan lainnya. Umumnya penggunaan benih bersertifikat masih belum cukup disadari manfaatnya oleh petani. Petani masih mempergunakan benih hasil turunan sebelumnya. Sulit dan mahalnya memperoleh benih berkualitas dengan bukti label pada benih menyebabkan petani tidak berminat untuk menggunakan benih bersertifikat. Padahal benih dengan kualitas baik dapat meningkatkan hasil produksi padi. Manfaat penggunaan benih unggul bermutu & bersertifikat diantaranya, keturunan benih diketahui; mutu benih terjamin dan kemurnian genetik diketahui; pertumbuhan benih seragam; ketika ditanam pindah, tumbuh lebih cepat dan tegar; masak dan panen serempak; produktivitas tinggi. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk persiapan benih :Mutu Fisis. Mutu fisis benih ini berkaitan dengan kondisi fisik benih secara visual seperti warna, ukuran, bentuk, bobot dan tekstur permukaan kulit benih Tolok ukur yang dijadikan kriteria adalah keseragaman. Sifat-sifat lain yang diamati adalah tingkat keutuhan benih (tolak ukur, tingkat kerusakan benih), tingkat kelembapan benih (tolok ukur; kemurnian mekanis benih). Kebernasan benih merupakan hal yang sangat penting karena kebernasan menentukan banyak sedikitnya cadangan makanan selama persemaian dan dari segi ukuran kebernasan benih dapat dilakukan dengan melakukan seleksi benih menggunakan air biasa atau larutan garam. Kadar air benih padi sesuai dengan SNI adalah maksimal 13%. Kadar air ini sangat berhubungan erat dengan daya simpan. Untuk menguji kadar air benih biasanya dilakukan dengan alat pengukur air benih digital. Mutu fisiologis benih berkaitan dengan aktivitas perkecambahan benih yang di dalamnya terdapat aktivitas enzim, reaksi-reaksi biokimia serta respirasi benih. Parameter yang biasa digunakan untuk mengetahui mutu fisiologis benih ini adalah viabilitas benih serta vigor benih. Mutu benih secara genetik ini berkaitan dengan susunan kromosom DNA benih serta jenis protein yang ada di dalam benih. Selain itu tolok ukur lain adalah kemurnian mekanis benih yaitu prosentase kontaminasi jenis atau varietas lain. Di Indonesia kemurnian genetis ini sudah diatur dalam sistem sertifikasi benih untuk menjamin konsumen mendapatkan varietas murni sesuai dengan keinginannya. Dalam sistem sertifikasi disebutkan bahwa batas minimal campuran varietas lain adalah 0,5 % dan benih murni minimum adalah 98%, campuran biji tanaman lain adalah 0 % dan campuran biji gulma 0 %.Dalam pemilihan varietas perlu diperhatikan umur varietas dalam mempertimbangkan pola tanam. Ketahanan varietas terhadap OPT juga menjadi faktor pertimbangan untuk dapat bertahan di daerah endemik. Proses Pemilahan benih, benih dengan berat jenis lebih tinggi, mempunyai mutu fisiologis (daya berkecambah dan vigor) yang lebih tinggi, serta pertumbuhan di lapang yang lebih cepat dan seragam. Cara pemilahan benih 1. Pemilahan benih dengan air a. Benih dimasukkan ke dalam wadah yang berisi air dengan volume dua kali volume benih, kemudian diaduk-aduk sebentar. b. Benih yang terapung, yang mempunyai berat jenis rendah, dipisahkan dari benih lainnya. c. Benih-benih yang tenggelam yang dapat digunakan untuk pertanaman d. Sebelum disemai, benih terlebih dahulu direndam selama 24 jam dan diperam. 2. Pemilahan dengan larutan garam, sebagai berikut: (1) Sediakan ember yang telah diisi dengan air; (2) Masukkan telor mentah; (3) Masukkan garam sedikit demi sedikit ke dalam air sambil terus diaduk; (4) Hentikan pemberian garam jika telor sudah mengapung; (5) Keluarkan telor; (6) Masukkan calon benih ke dalam larutan garam; (7) Aduk beberapa kali; (8) Buang benih yang mengapung dengan saringan; (9) Cuci benih yang tenggelam dengan air bersih untuk menghilangkan kandungan garam; (10) Rendam benih selama 24 jam; (11) Peram benih selama 2 x 24 jam; (12) benih siap untuk ditabur atau disemai. Perlakuan benih terhadap hama penggerek batang : Untuk daerah yang sering terserang hama penggerek batang, disarankan untuk melaksanakan perlakuan benih dengan pestisida berbahan aktif fipronil; Benih direndam di dalam air selama satu hari, kemudian ditiriskan dan dicampur dengan Regent 50SC (bahan aktif fipronil) dengan dosis 12,5 cc/kg benih sebelum diperam; Perlakuan pestisida ini juga dapat membantu pengendalian keong mas di areal persemaian atau pertanaman awal. Perlakuan benih dengan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria) / zat perangsang tumbuh : Rendam benih yang telah terseleksi dalam larutan PGPR 10ml/liter selama 1 malam, Tiriskan dan peram benih selama 2 x 24 jam, Benih siap digunakan untuk dilakukan persemaian . Ditulis oleh : Christyan Junitari, S.TP – Penyuluh Pertanian Pertama Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun Sumber :Ruskandar, A; Wahyuni, S; Mulya, S.H; Rustiati, T. 2007. RESPON PETANI DI PULAU JAWA TERHADAP BENIH BERSERTIFIKAT. Balai Besar Penelitian Padi; Wibowo, Al Azzam. 2010. MENENTUKAN BENIH UNGGUL BERMUTU & BERSERTIFIKAT. http://www.ngambarsari.com/2010/11/mengapa-menggunakan-benih-unggul.html. Diakses tanggal 25 Desember 2017