Loading...

PENGGUNAAN BENIH UNGGUL BERSERTIFIKAT

PENGGUNAAN BENIH UNGGUL BERSERTIFIKAT
PENDAHULUANSumbangan terbesar dalam peningkatan produksi padi, diperoleh dari pemanfaatan keunggulan genetik dari Varietas Unggul Baru (VUB) Padi. Dengan menggunakan varietas unggul baru tanaman padi, akan diperoleh peningkatan produksi, baik dalam jumlahnya maupun mutu serta daya saing produk yang dihasilkannya.Penggunaan benih bersertifikat dan benih dengan kekuatan tumbuh tinggi sangat disarankan, karena (1) benih bermutu akan menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak, (2) benih yang baik akan menghasilkan perkecambahan dan pertumbuhan yang seragam, (3) ketika ditanam pindah, bibit dari benih yang baik dapat tumbuh lebih cepat dan tegar, dan (4) benih yang baik akan memperoleh hasil yang tinggi.Pemilihan benih unggul dapt dilakukan dengan cara : (a) Merendam benih dalam larutan garam dengan menggunakan indikator telur. Telur diletakan didasar air dan masukan garam sampai telur terangkat kepermukaan. Kemudian telur diangkat dan benih dimasukan ke dalam air garam, selanjutnya benih yang mengambang dibuang.(b) Selain itu dapat juga dilakukan dengan larutan garam dapur (30 gr garam dapur ke dalam 1 liter air). Masukan benih kedalam larutan garam, kemudian diadukaduk dan benih yang mengambang dibuang.Keuntungan menggunakan benih yang bermutu dan bersertifikat : (a) Benih tumbuh cepat dan serempak (b) Jika disemaikan akan menghasilkan bibi tegar dan sehat (c)Pada saat ditanam pindah, bibit tumbuh cepat (d)Jumlah tanaman optimum, sehingga akan memberikan hasil yang tinggi.Pemilihan jenis varietas sebaiknya gunakan VUB yang mampu beradaptasi dengan lingkungan untuk menjamin pertumbuhan tanaman yang baik, hasil tinggi dan kualitas serta rasa nasi diterima pasar. Tanam VUB secara bergantian untuk memutus siklus hidup hama dan penyakit. Saat ini telah tersedia berbagai varietas unggul yang dapat dipilih sesuai dengan kondisi wilayah, mempunyai produktivitas tinggi dan sesuai permintaan konsumen JENIS-JENIS VARIETAS UNGGUL BARU (VUB)Berikut deskripsi beberapa jenis VUB yang dapat menjadi pilihan untuk dijadikan benih tanam (a) Ciherang: Tahun dilepas 2000, Potensi Hasil (t/ha) 8,5, Rata-rata Hasil (t/ha) 6,0, Umur Tanaman (hari) 116-125, Tinggi Tanaman (cm) 105-107 ,Anakan Prod. (batang) 14-17, Kerontokan Sedang, ,Kerebahan Sedang, Tekstur Nasi Pulen, Kadar Amilosa (%)23, Indeks Glikemik54,9 Anjuran Tanam :Sawah Irigasi ,Dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl,, Hama: WBC( Wereng batang coklat) : T (Tahan) biotipe 2 dan AT (Agak tahan) biotipe 3, Penyakit HDB (Hawar daun bakteri) :T Patotipe III. (b) Mekongga : Tahun dilepas 2004, Potensi Hasil (t/ha) 8,4, Rata-rata Hasil (t/ha) 6,0, Umur Tanaman (hari) 116-125, Tinggi Tanaman (cm) 91-106, Anakan Prod. (batang) 13-16, Kerontokan Sedang, ,Kerebahan Sedang, Tekstur Nasi Pulen, Kadar Amilosa (%)23, Indeks Glikemik 88 ,Anjuran Tanam :Sawah Irigasi ,Dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl,, Hama: WBC( Wereng batang coklat) : T (Tahan) biotipe 2 dan AT (Agak tahan) biotipe 3, Penyakit HDB (Hawar daun bakteri) : AT(agak tahan) patotipe IV c) Inpari 19 : Tahun dilepas 2011, Potensi Hasil (t/ha) 9,5, Rata-rata Hasil (t/ha) 6,7, Umur Tanaman (hari) 104, Tinggi Tanaman (cm) 102 ,Anakan Prod. (batang) 15 , Kerontokan Sedang, ,Kerebahan Tahan , Tekstur Nasi Pulen, Kadar Amilosa (%)18, Indeks Glikemik54,9 Anjuran Tanam :Sawah Irigasi , ,, Hama: WBC( Wereng batang coklat) : T (Tahan) biotipe 1 dan AT (Agak tahan) biotipe 3, Penyakit HDB (Hawar daun bakteri) : T(tahan) Patotipe III & AT(agak tahan) Penotipe IV PERSEMAIANKebutuhan benih 25 kg per hektar. Benih bernas (yang tenggelam) dibilas dengan air bersih, kemudian direndam dalam air selama 24 jam, selanjutnya diperam dalam karung selama 48 jam dan dijaga kelembabannya dengan cara membasahi karung dengan air. Luas persemaian sebaiknya 400 m2 ( 4 % dari luas tanam). Lebar bedengan pembibitan 1-1,2 m dan diberi campuran pupuk kandang, serbuk kayu dan abu sebanyak 2 kg/m2. Penambahan ini memudahkan pencabutan bibit padi sehingga mengurangi kerusakan bibit. Antar bedengan dibuat parit sedalam 25-30 cm. PENGOLAHAN TANAHPengolahan tanah dapat dilakukan secara sempurna (2 kali bajak dan 1 kali garu) atau minimal atau tanpa olah tanah sesuai keperluan dan kondisi. Faktor yang menentukan adalah kemarau panjang, pola tanam, jenis/tekstur tanah. Dua minggu sebelum pengolahan tanah ditaburkan bahan organic secara merata di atas hamparan sawah. Bahan organik yang digunakan dapat berupa pupuk kandang sebanyak 2 ton/ ha atau kompos jerami sebanyak 5 ton/ha. PENANAMANTanam bibit muda (HSS dengan 3 bibit/rumpun. Penyulaman dilakukan sebelum tanaman berumur 14 HST ( hari setelah tanam ). Pada saat tanam, tanah dalam kondisi jenuh air. Penanaman disarankan dengan sitem jajar legowo 2:1 atau 4:1, karena populasinya lebih banyak dan produksinya lebih tinggi dibanding system jajar tegel. Cara tanam berselang seling 2 baris tanam dan 1 baris kosong (legowo 2:1) atau 4 baris tanam dan 1 baris kosong ( legowo 4:1). Pengaturan jarak tanam dilakukan dengan caplak, dengan lebar antar titik 20-25 cm. Setalah dilakukan caplak silang dan membentuk tegel (20x20 cm atau 25x25 cm), pada setiap baris ke tiga dikosongkan dan calon bibitnya ditanam pada barisan ganda yang akan membentuk jarak tanam dalam barisan hanya 10 cm. Kekurangan bibit untuk baris berikutnya diambilkan dari persemaian. Penyusun : sad Hutomo PribadiSumber : Destiwarni BPTP Kalbar