Loading...

Penggunaan Mini Combine Harvester (mico) Di Subak Belong Desa Pejeng Kaja Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar

Penggunaan Mini Combine Harvester (mico) Di Subak Belong Desa Pejeng Kaja Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar
Oleh: Kikin Yuswono, S.P. Penyuluh Pertanian Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar Memanfaatkan bantuan dari Kementerian Pertanian, Subak Belong Desa Pejeng Kaja Kecamatan Tampaksiring Kabupaten Gianyar, pada musim panen tahun ini menggunakan Mini Combine Harvester (MICO) untuk memanen padi di areal sawahnya. Seperti musim-musim panen sebelumnya, Pekaseh Subak Belong Desa Pejeng Kaja, I Wayan Budiana selalu memanfaatkan Mini Combine Harvester (MICO) untuk memanen padi di lahan sawah miliknya dan sebagian lahan sawah Krama Subak Belong Desa Pejeng Kaja. Berawal dari kesulitan mencari tenaga panen pada saat panen raya dan adanya kesibukan krama subak dengan adanya acara-acara adat maupun keagamaan di banjar maupun desa adat, menyebabkan jadwal panen lebih sering mundur dari umur panen padi yang seharusnya. Hal ini berakibat hasil panen menjadi berkurang karena adanya kehilangan hasil (losses) saat pemanenan dengan umur panen padi yang lebih tua. Saat pemanenan secara manual menggunakan sabit bergerigi, padi banyak yang rontok karena dipanen terlalu tua. Saat perontokkan dan pengemasan ke wadah karung/ kandi/ kampil/ kasang pun banyak terjadi losses. Melihat hal itu, Subak Belong mengajukan permohonan bantuan Mini Combine Harvester (MICO) kepada Kementerian Pertanian Republik Indonesia lewat Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar. Pengoperasionalan alat mesin pertanian (alsintan) tersebut dilakukan oleh I Wayan Budiana sendiri. Menurutnya, selain menghemat waktu, penggunaan alsintan ini juga menekan potensi kehilangan hasil (losses) pada saat proses panen. Namun menurut dia, masih ada kendala panen menggunakan alsintan tersebut. Di Subak Belong, petakan sawah banyak yang sempit atau areal sawah per petak tidak luas, padahal ketika pindah ke petakan sawah yang lain, dia harus membuat jalan alsintan tersebut melewati galengan/ pematang sawah dengan cara merusak/ meratakan galengan/ pematang. “Alsintan ini sangat membantu kami saat panen terutama saat-saat panen bersamaan dengan subak lain, karena kami kesulitan mencari tenaga panen. Selain menghemat waktu, penggunaan alsintan ini bisa mengurangi kehilangan gabah karena rontok pada saat padi diarit (disabit) dan digedig (dirontokkan)” tutur I Wayan Budiana “Masih ada kendala kaitannya dengan lahan sawah di Subak Belong yang rata-rata petakan sawahnya sempit-sempit. Saat akan pindah ke petak sawah yang lain, kami harus membuat jalan dengan cara merusak galengan/ pematang. Jika areal petakan sawah luas, tentunya tidak sebentar-sebentar membuat jalan alsintan dengan merusak galengan/ pematang.” lanjutnya. "Meski demikian, kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar yang telah memberikan bantuan alsintan mesin panen ini" pungkasnya. Adanya alsintan ini menjadi pemicu transformasi teknologi kepada petani menuju pertanian yang lebih modern, efektif, dan efisien. Teknologi mekanisasi tersebut harus mencakup dari hulu sampai hilir sehingga tidak hanya meningkatkan produksi, akan tetapi kesejahteraan petani. Bagi petani yang mempunyai hamparan sawah yang luas, penggunaan alsintan modern sangat membantu karena efisien dan menghemat ongkos atau biaya operasional saat panen. Sebelum menggunakan Mini Combine Harvester (MICO), seorang petani yang memiliki sawah seluas 50 are (0,5 ha) membutuhkan 4 - 5 orang tenaga pemotong tanaman padi serta 2 orang yang bertugas merontokkan bulir padi. Dan harus mengeluarkan ongkos untuk 6 - 7 orang tenaga kerja tersebut. Akan tetapi jika menggunakan alsintan Mini Combine Harvester (MICO) petani tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk tenaga pemotong padi maupun merontokkan bulir padi dan cukup membayar biaya operasional alsintan tersebut. Sementara jika secara manual, tanaman padi yang telah dipotong kadang didiamkan dahulu sampai dua malam sehingga akan berdampak pada warna butiran berasnya menjadi kuning. Kendati demikian, penggunaan alsintan modern memberikan dampak sosial karena masih banyak masyarakat yang membutuhkan lapangan kerja sebagai tenaga pemotong maupun perontok padi sehingga hal itu menjadi salah satu kendala di lapangan.