Loading...

Penggunaan Pestisida Yang Baik dan Benar Dengan Residu minimum

Penggunaan Pestisida Yang Baik dan Benar Dengan Residu minimum
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Telah disadari bahwa pada umumnya pestisida merupakan bahan berbahaya yang dapat menimbulkan pengaruh negatif terhadap kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan hidup. Namun demikian, pestisida juga dapat memberikan manfaat, sehingga pestisida banyak digunakan dalam pertanian. Memperhatikan manfaat dan dampak negatifnya, maka pestisida harus dikelola dengan sebaik-baiknya sehingga dapat diperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dengan dampak negatif yang sekecil-kecilnya. B. Tujuan Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kemauan, petani, dan masyarakat pertanian lainnya tentang penggunaan pestisida secara baik dan benar dan agar petani dapat menggunakan pestisida secara baik dan benar; sehingga dampak negatif pestisida, dalam hal ini masalah residu pestisida, dapat dihindari atau menjadi seminimum mungkin pada saat panen. II. Keuntungan dari penggunaan pestisida dan dampak negatifnya Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dengan menggunakan pestisida banyak dilakukan secara luas oleh masyarakat, karena pestisida mempunyai kelebihan dibandingkan dengan cara pengendalian yang lain, yaitu antara lain: §Dapat diaplikasikan secara mudah §Dapat diaplikasikan hampir di setiap tempat dan waktu hasilnya dapat dilihat dalam waktu singkat §Dapat diaplikasikan dalam areal yang luas dalam waktu singkat §Mudah diperoleh, dapat dijumpai di kios-kios peKAMPUNGan sampai pasar swalayan di kota besar. Di samping memiliki kelebihan tersebut di atas, pestisida harus diwaspadai karena dapat memberikan dampak negatif, baik secara langsung maupun tidak langsung, yaitu antara lain: §Keracunan dan kematian pada manusia §Keracunan dan kematian pada ternak dan hewan piaraan §Keracunan dan kematian pada satwa liar §Keracunan dan kematian pada ikan dan biota air lainnya §Keracunan dan kematian pada biota tanah §Keracunan dan kematian pada tanaman §Keracunan dan kematian pada musuh alami OPT §Terjadinya resistensi, resurjensi, dan perubahan status OPT §Pencemaran lingkungan hidup §Residu pestisida yang berdampak negatif terhadap konsumen dan terhambatnya perdagangan hasil pertanian. III. Pedoman Pengaplikasian Pestisida pada Tanaman Penggunaan pestisida dalam pengendalian OPT merupakan alternatif terakhir yaitu apabila semua teknik/cara pengendalian yang lain (misalnya cara bercocok tanam, secara biologis, fisik, mekanis, genetik, dan karantina) dinilai tidak memadai.Penggunaan pestisida sedapat mungkin dihindari. Namun demikian, apabila cara pengendalian lain tidak memadai sehingga pestisida terpaksa digunakan, maka penggunaannya harus secara baik dan benar. Dampak negatif yang mungkin timbul diusahakan sekecil mungkin, sedangkan manfaatnya diupayakan sebesar mungkin. Untuk memperkecil dampak negatif penggunaan pestisida, dalam hal ini memperkecil residu pestisida pada hasil pertanian, dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut: A. Pemilihan Pestisida 1. Memilih Pestisida yang Tepat Jenis Menurut OPT sasaran yang akan dikendalikan, pestisida dapat dikelompokkan antara lain menjadi: §Insekstisida: Untuk mengendalikan serangga §Fungisida : Untuk mengendalikan cendawan/jamur §Bakterisida : Untuk mengendalikan bakteri §Herbisida : Untuk mengendalikan herba (gulma atau tumbuhan pengganggu) §Nematisida : Untuk mengendalikan nematoda §Pissisida : Untuk mengendalikan ikan §Moluskisida : Untuk mengendalikan molusca §Akarisida : Untuk mengendalikan akarina/tungau. Tiap kelompok pestisida tersebut pada umumnya mempunyai sifat tersendiri dan tidak efektif terhadap OPT dari golongan yang lain. Setelah memilih kelompoknya, kemudian memilih jenis yang efektif untuk OPT sasaran yang ada. Walaupun sama sebagai insektisida tetapi tidak berarti efektif atau tingkatan keefektifannya sama terhadap semua serangga. Untuk mengetahui pestisidanya, termasuk kelompok apa dan efektif untuk OPT apa, dapat dibaca label pada kemasan pestisidanya. Kesalahan dalam memilih jenis pestisida berakibat tidak efektifnya pestisida tersebut, misalnya OPT tidak terkendali dan tanaman tidak "sembuh". Hal ini mendorong pengulangan aplikasi pestisida berkali-kali dalam jangka waktu pendek yang dampaknya antara lain residunya tinggi. 2. Memilih Pestisida yang Mudah Terurai (Tidak Persisten) Berdasarkan sifat fisiko kimianya ada pestisida yang tidak mudah rusak di alam, sehingga tetap berada di alam dalam jangka waktu panjang (disebut persisten). Sebaliknya, ada pestisida yang mudah rusak/berubah menjadi senyawa lain di alam sehingga keberadaannya di alam hanya dalam waktu pendek (disebut non persisten). Untuk mengukur mudah tidaknya suatu pestisida rusak/terurai di alam, digunakan parameter waktu paruh (Decomposition Time-50 disingkat DT-50) atau senyawa tersebut terurai di alam (dalam hal ini, unsur alam yang sering digunakan adalah tanah, air, udara). DT-50 pestisida sangat beragam, dari jangka waktu jam sampai dengan jangka waktu tahun. Secara umum DT-50 pestisida adalah sebagai berikut: kelompok organo klor lebih lama daripada organo fosfat, lebih lama daripada organo karbamat, lebih lama daripada piretroid sintetik. Makin besar angka DT-50, artinya pestisida makin sulit terurai, makin lama berada di alam. Sebaliknya, makin kecil angkanya, pestisida tersebut makin mudah terurai di alam, sehingga residunya akan cepat berkurang. Untuk mengurangi residu pestisida, pestisida yang dipilih hendaknya yang mempunyai DT-50 kecil (mudah rusak di alam). Namun, informasi tentang DT-50 tidak mudah diperoleh karena tidak tercantum dalam label pestisida, sehingga perlu dicari ke sumber lainnya, misalnya petugas perlindungan tanaman pangan dan hortikultura atau pemilik produk. B. Pengaturan Cara Aplikasi Pestisida 1. Waktu Aplikasi Aplikasi pestisida seharusnya hanya dilakukan pada waktu populasi atau intensitas serangan OPT telah melampaui ambang ekonomi atau ambang pengendalian. Jangan mengaplikasikan pestisida pada saat populasi atau intensitas serangan OPT masih di bawah ambang ekonomi, atau secara reguler tanpa memperhatikan populasi/intensitas serangan OPT, apalagi tidak ada serangan OPT. Hal ini dimaksudkan agar aplikasi pestisida hanya pada waktu yang diperlukan dan tidak berlebihan. Selain itu perlu juga memperhatikan stadia peka sebagian besar populasi OPT terhadap pestisida. Aplikasi pestisida pada stadia peka akan lebih efektif walaupun dengan dosis rendah dan tidak perlu diulang dalam jangka waktu pendek. 2. Dosis Aplikasi Dosis (liter atau kilogram pestisida per hektar tanaman) dan konsentrasi (mililiter atau gram pestisida per liter cairan semprot) yang digunakan adalah dosis dan konsentrasi minimum yang efektif terhadap OPT sasaran. Hal ini dimaksudkan agar penggunaan pestisida tidak berlebihan dan residunya tidak tinggi. Di samping itu, penggunaan pestisida yang berlebihan dapat mempercepat terjadinya resistensi. Dosis pestisida yang berlebihan tidak berpengaruh nyata terhadap efektivitas, tetapi dampak negatif yang ditimbulkannya dapat berbeda nyata; terutama residu pestisida, percepatan resistensi, pemborosan, dan pencemaran lingkungan hidup. 3. Sasaran Aplikasi Perlu diupayakan semaksimal mungkin agar aplikasi pestisida diarahkan pada sasarannya yang tepat, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: §Tidak diaplikasikan pada bagian tanaman yang akan dikonsumsi. Apabila yang akan dikonsumsi adalah buahnya, maka aplikasi pestisida tidak diarahkan pada buah. §Aplikasikan pestisida pada bagian tanaman yang terserang atau ada populasi OPT-nya. Hal ini dimaksudkan agar pestisida terfokus pada bagian tanaman yang memerlukannya; sehingga efektif, efisien, dan tidak meninggalkan residu pada bagian tanaman yang tidak perlu diaplikasi. 4. Jangka Waktu Sebelum Panen Aplikasi pestisida yang terakhir diusahakan sejauh mungkin sebelum panen. Makin jauh dari waktu panen makin baik. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu hasil tanaman dipanen, sebagian besar pestisida sudah terurai, sehingga residunya hanya sedikit atau tidak ada. 5. Tidak Menggunakan Bahan Perekat (Sticker) Bahan perekat (sticker) adalah bahan tambahan (ajuvan) yang dijual secara terpisah dari pestisida. Beberapa formulasi pestisida sudah mengandung bahan perekat, sedangkan yang lainnya tanpa bahan perekat. Dampak dari penggunaan bahan perekat adalah pestisida lebih lama melekat pada tanaman, sehingga masa proteksinya lebih lama. Tentu saja residunya tidak berkurang pada saat dipanen. Oleh karena itu jangan menggunakan tambahan bahan perekat, kecuali keadaan lapangan menuntut dilakukannya penambahan bahan perekat; misalnya pada saat curah hujan sangat banyak. 6. Alat dan Teknik Aplikasi yang Tepat Alat aplikasi antara lain penyemprot/sprayer (hand sprayer, power sprayer, mist blower) penghembus/ duster, dan pengabut-panas/fogger mempunyai kinerja dan spesifikasi tertentu sesuai dengan tujuan penggunaan yang dirancang oleh pembuatnya. Penerapan teknik aplikasi yang tepat memungkinkan berfungsinya alat tersebut secara optimal. Informasi tentang hal tersebut biasanya tercantum pada leaflet/brosur masing-masing. Penggunaan alat dan teknik aplikasi yang tepat lebih menjamin efektivitas dan efisiensi. Apabila aplikasinya efektif, maka OPT terkendali. Untuk memperkecil residunya, aplikasi pestisida tidak perlu diulang-ulang dalam jangka waktu pendek. 7. Penggunaan Fumigan Fumigan adalah pestisida yang mudah menguap; jenis fumigan tertentu dalam kondisi normal sudah berbentuk gas. Penggunaan fumigan dapat dikatakan hampir tidak meninggalkan residu, kecuali pestisida tertentu yang dapat terserap oleh bahan tertentu yang diaplikasi. Fumigan efektif untuk pengendalian OPT yang tersembunyi. Fumigan akan mudah menguap dan hilang di tempat terbuka. Oleh karena itu fumigan tidak digunakan di lahan pertanian; tetapi diaplikasikan hanya di ruang tertutup dan umumnya untuk produk pasca panen.