Loading...

PENGGUNAAN RHIZOBIUM PADA TANAMAN KEDELAI

PENGGUNAAN RHIZOBIUM PADA TANAMAN KEDELAI
Salah satu cara meningkatkan produksi kedelai yaitu dengan memanfaatkan Rhizobium. Rhizobium merupakan istilah untuk kelompok bakteri yang mempunyai kemampuan untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman. Rhizobium dapat memfiksasi Nitrogen dari udara dengan bersimbiosis dengan tanaman. Nitrogen ini dapat dimanfaatkan oleh tanaman sehingga penggunaan pupuk buatan dapat lebih ditekan. LATAR BELAKANG PENGGUNAAN RHIZOBIUMKomoditas kedelai merupakan salah satu komoditas strategis bagi masyarakat Indonesia. Banyak bahan pangan seperti tahu dan tempe yang berbahan baku kedelai. Sampai saat ini, sebagian besar kedelai diimpor dari luar negeri. Hanya sebagian kecil pengusaha tahu dan tempe yang menggunakan kedelai lokal untuk dijadikan bahan baku. Alasan para pengusaha lebih suka menggunakan kedelai impor karena ketersediaan biji kedelai selalu ada dan jumlahnya mencukupi. Jika dibandingkan dengan kedelai lokal, selain jumlahnya sedikit, kontinyuitas penyediaanya juga terkadang tidak mampu memenuhi kebutuhan bahan baku pembuatan tahu dan tempe. Salah satu cara meningkatkan produksi kedelai yaitu dengan penggunaan Rhizobium. Penggunaan Rhizobium ini mampu meningkatkan produksi kedelai sekaligus mengefisienkan penggunaan pupuk Nitrogen. MENGENAL RHIZOBIUMRhizobia atau yang biasa dikenal dengan Rhizobium merupakan istilah untuk kelompok bakteri yang mempunyai kemampuan untuk menyediakan unsur hara bagi tanaman. Apabila Rhizobium bersimbiosis dengan tanaman legume (kacang-kacangan), kelompok bakteri ini akan menginfeksi akar tanaman dan membentuk bintil akar di dalamnya. Rhizobium hanya dapat memfiksasi nitrogen di atmosfer bila berada di dalam bintil akar. Rhizobium mampu menyumbangkan N dalam bentuk asam amino kepada tanaman. Terdapat 6 bakteri Rhizobium yang dapat mengambil N dari udara, antara lain dari Genus Rhizobium, Sinorhizobium, Mesorhizobium, Bradyrhizobium, Azorhizobium dan Allorhizobium. Bakteri yang biasa kita kenal bersimbiosis dengan tanaman legum adalah Rhizobium leguminosarum yang bersimbiosis dengan tanaman kacang tanah. Sedangkan yang dapat bersimbiosis dengan tanaman kedelai yaitu Bradyrhizobium japonicum, B. Elkanii, B. Liaoningense, dan Sinorhizobium fredii. Rhizobium yang umum bersimbiosis dengan tanaman kedelai adalah Bradyrhizobium japonicum. Bradyrhizobium japonicum mempunyai nama lain yaitu Rhizobium japonicum dan Rhizobacterium japonicum. PERANAN RHIZOBIUMPeranan Rhizobium terhadap pertumbuhan tanaman cukup besar. Adapun peranan Rhizobium antara lain:1. Rhizobium mampu menambat Nitrogen mencapai 80 kg N2/ha/thn atau lebih ketika bersimbiosis dengan tanaman kedelai. 2. Inokulan Rhizobium mampu bersimbiosis secara aktif sehingga menghasilkan pertumbuhan tanaman yang lebih baik.3. Rhizobium mampu menghasilkan hormon pertumbuhan berupa IAA dan giberellin yang dapat memacu pertumbuhan rambut akar, percabangan akar yang memperluas jangkauan akar. Dengan demikian, tanaman dapat menyerap hara lebih banyak sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman.4. Rhizobium mampu meningkatkan penyerapan fosfat. Fosfat merupakan hara utama dalam perkembangan akar dan pembentukan polong kedelai. KEUNTUNGAN MENGGUNAKAN RHIZOBIUMPenggunaan bakteri rhizobium pada tanaman kedelai mempunyai beberapa keuntungan. Simbiosis bakteri Rhizobium dengan tanaman kedelai mampu meningkatkan ketersedian unsur hara melalui penambatan unsur Nitrogen dari udara oleh bakteri Rhizobium. Karena bakteri ini bersimbiosis mutualisme dengan tanaman kedelai, penggunaan bakteri ini tidak mempunyai bahaya atau efek sampingan. Efisiensi penggunaan Rhizobium dapat ditingkatkan sehingga bahaya pencemaran lingkungan oleh pupuk buatan dapat dihindari. Aplikasi penggunaan Rhizobium ini membutuhkan biaya yang relatif murah karena penerapannya cukup sekali pada awal tanam. Dan apabila lahan tersebut akan ditanami lagi dengan tanaman kedelai, lahan tersebut tidak perlu lagi diinokulasi dengan Rhizobium karena Rhizobium sudah tersedia di tanah dari bekas tanaman sebelumnya. Teknologinya atau penerapan Rhizobium relatif mudah dan sederhana, yaitu cukup mencampurkan biakan Rhizobium dengan biji kedelai sebelum biji tersebut ditanam. MEKANISME INFEKSI RHIZOBIUMRhizobium menginfeksi tanaman melalui akar tanaman. Langkah awal infeksi adalah pembentukan koloni rhizobium pada akar legum sebagai pengenalan terhadap inangnya. Spesies rhizobium yang berbeda, berbeda pula inangnya. Infeksi dimulai dari rambut akar menyebabkan pertumbuhan rambut akar yang keriting akibat dari adanya auksin yang dihasilkan oleh bakteri. Benang infeksi terus berkembang sampai di kortek dan mengadakan percabangan. Percabangan ini menyebabkan jaringan kortek membesar yang dapat dilihat sebagai bintil akar. Sampai proses ini infeksi bakteri sensitif terhadap lingkungan yang tidak menguntungkan. Faktor lingkungan seperti suhu, pH, unsur-unsur dan senyawa kimia tertentu pada umumnya mempengaruhi Rhizobium sp disamping mereka ini mempunyai musuh alami yaitu berupa parasit dan bakteri. Suhu optimalnya untuk Rhizobium sp berkisar 18 - 26 C, minimal 3 C dan maksimal 45 C. Kisaran pH optimal untuk Rhizobium sp adalah sedikit di bawah netral hingga agak alkali. Pada pH 5,5 beberapa strain Rhizobium sp masih dapat hidup. Pada pH 4,4 kebanyakan strain Rhizobium sp tidak berkembang dalam tanah dan proses infeksi juga terhambat, tetapi jika pH tanahnya dinaikkan menjadi 5,4 maka infeksi oleh Rhizobium sp berlansung dan terbentuk bintil akar. Kelembaban tanah pada tingkat koefisien layu akan menghambat pembentukan bintil akar. Penghambatan pertumbuhan akar dan akar rambut akan menghambat proses infeksi. Disamping itu, kelembaban mempengaruhi gerakan Rhizobium sp dalam tanah. Ketersedian senyawan racun yang berasal dari herbisida atau fungisida di dalam tanah yang tidak disukai bakteri bintil akar dapat mempengaruhi keberadaan Rhizobium .Pada awal infeksi Rhizobium juga sangat sensitif terhadap ketersediaan kalsium, sedang setelah mulai pertumbuhan nodul tidak dipengaruhi oleh menurunnya konsentrasi kalsium. Fosfat juga berpengaruh terhadap nodulasi, ketersediaan fosfat lebih berpengaruh terhadap nodulasi dan pertumbuhan nodul. Fosfat merupakan sumber energi di dalam nodul akar. Bintil akar tidak selalu tumbuh di pangkal akar, ada juga yang tumbuh di ujung-ujung akar. Tidak selalu bintil akar dihuni oleh bakteri rhizobium yang tepat dan efektif. Ciri bintil akar yang efektif adalah bila dibelah melintang akan memperlihatkan warna merah muda hingga kecoklatan di bagian tengahnya. Waktu antara infeksi sampai dengan bakteri mampu memfiksasi N2 sekitar 3-5 minggu. Selama periode tersebut kebutuhan karbohidrat, nutrien mineral dan asam amino disediakan oleh inang tanpa memperoleh keuntungan (bersifat parasit). Bakteri membentuk suatu komplek enzim yang dibutuhkan untuk menambat nitrogen. Bentuk bakteri (rhizobia) dalam satu sel akar yang mengandung nodul aktif (bila dibelah melintang akan terlihat warna merah muda hingga kecoklatan dibagian tengahnya) disebut bakteroid. Jumlah Nitrogen sangat mempengaruhi gagal tidaknya pembentukan bintil akar. Menurut penelitian, tanaman legum akan gagal membentuk bintil akar apabila tanah mengandung nitrogen lebih dari 100 kg N. Kekurangan Nitrogen pada inang selama fase antara saat infeksi dan awal fiksasi N2 akan mengganggu pembentukan luas daun yang dapat mencukupi penyediaan fotosintat bagi pertumbuhan dan aktivitas nodul. Aktivitas nodul tertinggi (fiksasi N2) diperoleh ketika gabungan Nitrogen dari tanah atau dari pupuk tersedia dalam jumlah yang cukup untuk pertumbuhan vigor tanaman selama minggu-minggu pertama dari perkembangan legum. APLIKASI RHIZOBIUMPemberian rhizobium dilakukan pada lahan yang sama sekali belum pernah ditanami dengan tanaman kedelai. Sumber inokulan dapat berasal dari sediaan yang sudah dijual di pasaran seperti Legin, Rhizogin, Rhizoplus, Nodulin ataupun juga berasal dari pertanaman kedelai.Jumlah Inokulan dalam bentuk Legin sebanyak 30 gram/10 kg benih, Rhizogin sebanyak 37,5 gram/10 kg benih dan Rhizoplus 20 gram / kg benih. Cara inokulasi yaitu 1. Basahi benih dengan air sebelum dicampur dengan inokulan.2. Campurkan inokulan dengan benih secara bertahap agar benih yang telah diinokulasi segera habis di tanam.3. Keringanginkan benih dan hindarkan dari sinar matahari langsung4. Tanam benih tidak lebih dari 6 jam setelah pencampuran. Jika inokulasi dengan menggunakan tanah bekas pertanaman kedelai, jumlah tanah yang dicampurkan sebanyak 2-3 kg/10 kg benih. Inokulasi dilakukan dengan cara membasahi benih dengan air kemudian campurkan dengan tanah inokulan. Segera tanam benih setelah dilakukan pencampuran. PENUTUPKeefektifan aplikasi Rhizobium tidak terlepas dengan kegiatan budidaya kedelai yang lainnya. Aplikasi rhizobium ini merupakan salah satu komponen untuk meningkatkan hasil produksi kedelai Oleh : KECAMATAN SUKOHARJO KABUPATEN SUKOHARJO