Loading...

PENGGUNAAN VARIETAS PADI TOLERAN RENDAMAN AKIBAT BANJIR

PENGGUNAAN VARIETAS PADI  TOLERAN RENDAMAN AKIBAT BANJIR
Rendaman lahan akibat bajir merupakan salah satu cekaman abiotik utama bagi tanaman padi yang dapat menurunkan hasil panen gabah. Banjir musiman yang menyebabkan pertanaman padi terendam seringkali tidak dapat diprediksi dan dapat terjadi pada berbagai stadia pertumbuhan. Rata-rata tahunan luas lahan yang terkena banjir adalah sekitar 268.800 ha, yang termasuk rusak berat seluas 58.000 ha. Perubahan iklim karena pengaruh fenomena la nina yang menyebabkan banjir dalam periode tahun 2000–2008 telah menyebabkan kehilangan hasil padi antara 997.332–6352.540 ton gabah kering giling dengan kerugian ekonomi yang diakibatkan banjir pada pertanaman padi ditaksir sebesar 353,7 juta dolar per tahunnya. Penggunaan varietas yang toleran terhadap rendaman merupakan upaya yang paling mudah dan tersedia untuk mengurangi kerugian akibat banjir.Kendala utama budidaya padi di ekosistem yang rawan banjir adalah kurangnya varietas yang cocok. Petani cenderung menanam varietas tradisional yang kurang memberikan jaminan karena mereka berdaya hasil rendah dan photoperiod sensitif. Di daerah di mana varietas modern yang berdaya hasil tinggi ditanam resiko kegagalan akibat banjir tinggi karena varietas tersebut sensitive terhadap rendaman. Oleh karena itu, pengembangan varietas padi beradaptasi untuk ekosistem rawan kebanjiran merupakan solusi yang paling mudah untuk mengurangi kerugian yang diderita petani akibat kegagalan panen.Sejumlah varietas tradisional toleran rendaman telah teridentifikasi dan dapat bertahan hidup setelah direndam lebih dari 10 hari. Sejumlah varietas padi yang memiliki penampilan agronomi baik merupakan tujuan utama agar hasil tanaman meningkat sekaligus menjadikan varietas tersebut dapat dengan mudah diterima oleh petani di daerah rawan banjir. Dari hasil kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) telah melepas varietas unggul padi toleran rendaman INPARA 3 yang juga toleran atau toleran terhadap penyakit blas, keracunan Fe, Al, dan salinitas. Dengan menanam varietas INPARA 3 terbukti mampu meningkatkan hasil panen padi rawa lebak sampai 75% yaitu 5,73 ton/ha dibanding dengan hasil padi varietas lokal Sei Putih (3,26 t/ha). Pada tahun 2009 juga telah dilepas varietas INPARA 4 (Swarna-Sub1), INPARA 5 (IR64-Sub1) dan INPARA 6 yang toleran Fe dan hawar daun bakter pada awal 2010. Pada Tahun 2011 ini telah di lakukan uji multilokasi galur padi toleran rendaman untuk ekosistem sawah irigasi, salah satu galur yang berpotensi untuk dilepas adalah Ciherang Sub1Selanjutnya daerah rawan banjir yang ada di Indonesia adalah daerah pinggiran sungai DAS, lahan rawa lebak, lahan pasang surut yang ada diseluruh wiyah Indonesia.untuk mempercepat adopsi teknologi dalam rangka antisipasi dampak banjir pada pertanaman padi, BB padi telah menginformasikan melalui media cetak, elektronik, dan lainnya terhadap padi toleran rendaman. Dengan tersebarnya informasi teknologi tersebut diharapkan petani menjadi paham mengelola sawah rawan banjir sehingga kerugian akibat banjir/terendamnya pertanaman padi dapat diminimalisir. Distribusi benih padi varietas toleran rendaman ke sejumlah daerah rawan banjir di Indonesia antara lain adalah Varietas, Inpara-3, Inpara-4, Inpara 5 dan Inpara 6 Menetapkan langkah penanganan secara sistematis (Umum) agar mengurangi banjir:1. Konservasi dan perbaikan DAS hulu hingga hilir perlu diintensifkan; 2. Perbaikan infrastruktur saluran irigasi dan draenasi dari hulu ke hilir oleh pemerintah pusat dan daerah, termasuk pengerukan endapan lumpur; 3. Gerakan gotong royong pemeliharaan saluran berupa pembersihan tumbuhan air dalam saluran (eceng gondok dsb.) oleh Kelompok-kelompok tani dan masyarakat;4. Mengevaluasi kembali pola rotasi tanaman dalam setahun termasuk awal musim tanam oleh Kelompok tani-penyuluh-dinas-litbang; 5. Penyediaan pompa-pompa pembuang air banjir. 6. Membangun dan memperkuat sistim forecasting untuk banjir dan kekeringan; 7. Meningkatkan frekuensi pengamatan curah hujan dan elevasi muka air, untuk peramalan banjir dan kekeringan; 8. Mengontrol kondisi dan merehabilitasi bangunan pengendali banjir sebelum masuk bulan-bulan musim hujan dan kemarau; 9. Pembentukan satgas siaga banjir; 10. Pemeriksaan kesiapan alat komunikasi dan penyiapan bahan banjiran dan peralatan; Perubahan teknologi yang diperlukan sebagai tindakan adaptasi terhadap banjir adalah:(1) Penggunaan varietas tahan rendaman lebih dari 10 hari, dengan kualitas gabah dan harga jual sesuai dengan keinginan petani; (2) Perbaikan pupuk dan pemupukan, seperti penggunaan pupuk N lepas lambat (slow release), atau briket, hara lain dan waktu pemberian yang tepat; (3) Penyiapan bibit sehat dan kuat yang siap disulamkan apabila terjadi kerusakan pertanaman akibat banjir; (4) Perbaikan cara budi daya seperti pengaturan jarak tanam/populasi untuk mengurangi kerusakan/ kerugian akibat banjir/rendaman; dan (5) Cara pengendalian keong mas dan hama penyakit lain yang berkembang cepat akibat banjir Ditulis Oleh: Dalmadi BBP2TP Bogor Sumber: Manikmas, Mackill, et al. Mackill dkk, Hairmansis dan UPBS BBPadi dan Abdul Karim Makarim Sumber gambar : Abdul Karim Makarim dan lainnya