Penghematan Air Dalam Budidaya System Of Rice Intensification (SRI)Sektor pertanian merupakan pengguna terbesar sumberdaya air. Sumberdaya air dalam pertanian merupakan faktor yang sangat penting dalam keberhasilan pengembangan produksi pangan seperti tanaman padi. Kebutuhan tanaman padi akan air irigasi menjadi prioritas utama dalam budidayanya. Oleh karenanya efisiensi penggunaan air irigasi menjadi hal penting yang perlu untuk ditingkatkan. Tanpa adanya perubahan manajemen pengelolaan air irigasi, penyediaan pangan, khususnya padi tentu akan sangat rawan karena pasokan air pertanian yang terus berkurang. Pengelolaan air irigasi yang dimaksudkan disini adalah peningkatan kinerja pendistribusian dan pengalokasian air secara efektif dan efisien dalam memenuhi kebutuhan tanaman pangan akan air. Upaya mewujudkan peningkatan efisiensi penggunaan air irigasi salah satunya dapat ditempuh dengan penerapan teknik budidaya hemat air seperti teknik budidaya System of Rice Intensification (SRI). Budidaya SRI merupakan salah satu pendekatan dalam praktek budidaya yang menekankan pada manajemen pengelolaan tanah, tanaman dan air melalui pemberdayaan kelompok dan kearifan lokal yang berbasis pada kegiatan ramah lingkungan (Analisis Kebijakan Pertanian, 2008).Metode SRI adalah metode yang diharapkan untuk mengatasi masalah kurangnya ketersediaan air. Dalam budidaya padi menggunakan metode SRI, pemberian air irigasi dilakukan secara terputus (intermittent) berdasarkan alternasi antara periode basah (genangan dangkal) dan kering. Dengan demikian, penghematan air dengan metode SRI dapat mencapai hingga 30-40% dibandingkan dengan metode konvensional.Budidaya SRI menekankan pada pentingnya mengeluarkan dan memanfaatkan potensi genetik tanaman padi dan memadukan dengan penciptaan lingkungan yang baik bagi tanaman.Budidaya SRI memiliki ciri khas SRI : (1) Tranplantasi benih muda (10 hari setelah semai) dimana penanamannya satu lubang satu. Hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan potensi pertambahan batang dan pertumbuhan akar yang optimal sebagaimana dibutuhkan oleh tanaman sehingga dapat tumbuh dengan baik. (2) Menanam padi dalam jarak tanam yang cukup lebar contoh 30 cm x 30 cm, 40 cm x 40 cm. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kompetisi tanaman dalam serumpun maupun antar rumpun. (3). Irigasi terputus macak-macak atau genangan dangkal (± 2 cm) sampai retak rambut. Hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan tanah agar tetap teraerasi dan lembab, tidak tergenang, sehingga akar dapat bernafas. (4). Menggunakan pupuk organik. Penggunaan pupuk organik membuat tanah tetap sehat dan subur dimana meningkatkan unsur hara yang diperlukan tanaman untuk tumbuh. Tak hanya dapat menghemat pengunaan air irigasi, budidaya SRI dapat meningkatkan produksi padi.Pada budidaya padi SRI, ada perubahan perlakuan pemberian air irigasi secara putus-putus (intermittent) dimana pemberian air irigasi diberikan pada saat tanah cukup kering (batas bawah) sampai genangan dangkal (batas atas). Pemberian air irigasi tersebut (terputus-putus) ditakar secara visualisasi sesuai dengan usia padi. Setelah batas atas tercapai irigasi dihentikan dan genangan air di lahan dibiarkan berkurang hingga batas bawah kembali tercapai. Batas atas irigasi adalah macak-macak atau genangan 2. Batas bawah irigasi adalah saat kondisi air di lahan terlihat retak rambut atau saat kondisi air di lahan mencapai 80% dari jenuh lapang. Pada akhir masa vegetatif apabila jumlah anakan terlalu banyak, dari aspek pengaturan air umumnya ada dua cara untuk mengurangi jumlah anakan yakni (a) digenangi sampai 2 cm selama beberapa hari (di lahan tadah hujan), atau (b) dikeringkan sampai tanahnya retak beberapa hari (di lahan beririgasi). Sebagai informasi tambahan, kebutuhan air di sawah dipengaruhi oleh beberapa faktor kondisi areal irigasi, beberapa faktor tersebut adalah : evapotranspirasi, penyiapan tanah, koefisien tanaman, pola tanam, perkolasi, curah hujan efektif, efisiensi irigasi. Bila musim hujan atau sebab lainnya yang menjadikan adanya kelebihan air, pembuangan kelebihan air perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi ketersediaan air. Pada musim hujan, kelebihan air langsung dibuang agar kondisi retak rambut dapat tercapai. Sebaliknya pada musim kemarau saat ketersediaan air terganggu (terutama pada lahan sawah tadah hujan), kelebihan air dibiarkan tetap menggenangi lahan sehingga saat irigasi terganggu tanaman tidak kekurangan air. Oleh karena itu khususnya pada lahan sawah tadah hujan, outlet drainase diturunkan sampai ± 0 cm (setinggi lahan) pada musim hujan dan dinaikkan ± 2 cm pada musim kemarau (litbang.pu.go.di)Secara singkat, konsep pengairan idalam budidaya SRI adalah dengan memberikan air irigasi sesuai dengan jumlah dan waktu yang dibutuhkan oleh tanaman. Pada saat genangan air di sawah telah habis, tidak langsung diairi kembali melainkan dibiarkan sampai tanah sawah kondisi retak atau kondisi mendekati titik stres tanaman baru diairi kembali. Dengan pemberian air seperti diatas, maka kebutuhan air tentu lebih hemat dibandingkan dengan kebutuhan air metode konvensional. (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM (Penyuluh Pertanian)Sumber :1. Bakelaar, Dawn. Sistem Intensifikasi Padi (The system of Rice intensificasion – SRI) : Sedikit dapat Memberi Lebih Banyak. Buletin ECHO Development Notes, January 2001, Issue 70, Halaman 1-6. Terjemahan bebas oleh Indro Surono, staf ELSPPAT, Bogor, Indonesia.(http://www.elsppat.or.id/, diakses 12 Maret 2015)2. Balitbang Kementerian Pekerjaan Umum. IRIGASI HEMAT AIR pada Budidaya Padi dengan Metode SRI (System of Rice Intensification). (http://litbang.pu.go.id, diakses 12 Maret 2015)3. Balitbang Kementerian Pertanian. 2008. Analisis Kebijakan Pertanian Volume 6 Nomor 1. (pse.litbang.pertanian.go.id, diakses 12 Maret 2015)