Aspergillosis merupakan suatu jenis penyakit/ infeksi yang disebabkan oleh jamur, yaitu Aspergillus. Pada berbagai diagnosis Aspergillosis di lapangan, komposisinya hampir bisa diprediksikan A.fumigatus adalah yang terbanyak (60-70%), diikuti A.flavus dan A.niger. Meskipun demikian, kadang-kadang dijumpai pula species lain seperti A.nidulans, A.versicolor dan A.terreus. Keberadaannya sering dijumpai di tanah maupun material organik (bahan-bahan yang kaya unsur karbon – sampah, kompos, sekam dsb). Selain itu, juga tidak jarang pada berbagai biji-bijian seperti jagung, kacang-kacangan ataupun beras.Aspergillosis juga dikenal dengan Brooder Pneumonia atau sejenis penyakit pernafasan. Penyakit ini dapat menyerang manusia dan hewan. Kerugian dapat terjadi karena penurunan produksi dan keguguran pada sapi. Genus Aspergillosis fumigatus dapat menghasilkan racun yang dapat mengakibatkan perdarahan yang akut. Racun ini dapat pula menyebabkan keguguran ternak domba. Genus Aspergillosis flavus menghasilkan suatu zat yang bersifat karsinogenik dan sangat beracun yang disebut aflatoksin dan dari Genus Aspergillosis Ochracius menghasikan racun Ocratoxyn. Aspergillosis lainnya menjadi penyerang oportunistik pada individu dengan kelainan anatomik dari saluran pernapasan. Sedangkan hewan yang rentan terhadap aspergillosis adalah kuda, sapi, domba, babi, kucing, anjing, kelinci, kambing dan kera.Kejadian penyakit Aspergillosis ini tersebar di seluruh dunia tetapi kasusnya lebih sering didiagnosis di negara-negara tropis terutama pada saat cuaca panas dan lembab. Perkembangan spora jamur sangat didukung dengan kondisi lingkungan, pada situasi dimana faktor-faktor lingkup disekitarnya banyak dijumpai material yang mendukung maka spora tsb. akan dengan mudah mengkontaminasi. Baik terbawa oleh angin kemudian terhirup oleh anak ayam ataupun mengkonsumsi pakan yang telah tercemar Aspergillosis di Hatchery. Aspergillus secara normal hidup sebagai saprofit, sporanya dapat dijumpai di udara bebas, debu, jerami, biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan yang sedang mengalami pembusukan, dengan demikian pelaksanaan manajemen, hygiene dan sanitasi lingkungan yang kurang baik dapat menimbulkan aspergillosis. Biasanya penularan melalui bahan pakan yang mengandung Aspergillus. Penyakit ini dapat bersifat akut hingga kronik. Kematian dapat terjadi dalam waktu 1 – 2 hari.Cara Penularan. Penularan spora dapat melalui udara, debu, dan bahan pakan ternak merupakan faktor yang penting. Hewan terinfeksi biasanya disebabkan oleh tempat pemeliharaan atau pakan yang tercemar dengan spora. Adapun faktor predisposisi terjadinya aspergillosis antara lain adalah hewan dalam kondisi tidak nyaman, berdesakan, kekurangan makanan, pakan tercemar oleh spora, dan juga keletihan dapat mempermudah timbulnya penyakit.Gejala klinis penyakit Aspergillosis yaitu: dalam bentuk akut, aspergillosis menyebabkan hewan tidak nafsu makan, kelihatan mengantuk, kadang membuka mulut karena kesukaran bernapas, bahkan bisa timbul kejang. Apabila cendawan menginfeksi otak, dapat menimbulkan tanda kelumpuhan dan gangguan syaraf yang lain. Jika terjadi infeksi pada mata biasanya bersebelahan (tidak selalu kedua mata terserang).Sedangkan gejala klinis pada hewan menyusui biasanya timbul gejala radang paru dengan temperatur tinggi, batuk, bersin, pada sapi dapat pula terjadi pada bulan ke 3 – 8 kebuntingan. Kurang lebih 60 % dari kasus aspergillosis menimbulkan retensi plasenta. Pada kuda kadang timbul keguguran, sedangkan pada anak kuda telah dilaporkan terjadi diare karena aspergillosis. Adapun pada anjing dapat terjadi epistaksis, bersin, keluar lendir dari hidung, sakit dan bengkak pada daerah maxilla.Untuk Pengobatan aspergillosis, hewan besar dengan pemberian Griseofulvin menunjukkan hasil yang memuaskan, tetapi biaya cukup mahal. Adapun untuk penceghannya, belum ada vaksin yang efektif yang dapat digunakan untuk usaha pencegahan. Hewan penderita sebaiknya diisolasi. Pakan ternak dijaga jangan sampai bercendawan. Memusnahkan sumber cendawan dan spora dengan mencampurkan antimold atau toxynbinders ke dalam pakan. Jangan menggunakan antibiotika melebihi jangka waktu yang ditentukan, karena akan menimbulkan superinfeksi oleh jamur. Disamping itu, memberikan perawatan dan pakan hewan untuk mempertinggi daya tahan tubuh. Lingkungan kandang sebaiknya cukupventilasi dan sinar matahari. Tempat penyimpanan pakan harus kering (tidak lembab) dan jangan menyimpan pakan terlalu lama. (Inang Sariati) Sumber : 1. Brosur/Buku "Manual Penyakit Hewan Mamalia", Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2012.2. https://www.google.com/search?q=pengobatan+dan+pencegahan+penyakit+aspergillosis3. http://id.wikipedia.org/wiki/Aspergilosis