Pengaruh mastitis pada ambing dapat menyebabkan infeksi, jumlah sel darah putih meningkat, penurunan produksi susu, hilangnya kwartir (tidak berfungsi), perubahan bentuk ambing, dan akibat mastitis ke depan dapat menyebabkan produksi susu tidak mampu mencapai maksimal. Seperti halnya manusia, berbagai macam penyakit juga dapat menyerang hewan ternak. Penyakit ini harus dikenali oleh para peternak sesuai dengan jenis ternak yang dipeliharanya dan dicegah sedini mungkin sehingga tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar. Apabila tidak dapat dihindarkan alias ternak sudah terjangkit suatu penyakit, maka upaya yang harus dilakukan adalah segera mengobatinya dengan cara yang tepat agar ternaknya bisa sembuh dan tidak menular ke ternak-ternak yang lain. Salah satu jenis penyakit yang sering menyerang ternak khususnya sapi adalah Mastitis. Mastitis adalah peradangan pada ambing karena suatu penyakit atau proses infeksi yang secara signifikan dapat mengurangi produksi susu terutama pada industri sapi perah. Penyakit dapat bersifat sub akut, akut, atau kronis. Mastitis akut yang tidak ditangani sampai tuntas, dapat berlanjut menjadi mastitis kronis yang berakibat jaringan ambing dapat tergantikan dengan jaringan ikat sehingga alveoli tidak dapat memproduksi susu. Berdasarkan gejala klinisnya, mastitis dibedakan menjadi mastitis klinis dan subklinis. Mastitis klinis bila terdapat perubahan fisik susu seperti susu pecah, bercampur nanah, atau ambing yang membengkak adanya respon rasa sakit bila dipegang. Disebut mastitis subklinis bila secara fisik tidak ditemukan adanya perubahan dari susu, tetapi bila dilakukan uji mastitis (misalnya CMT, California Mastitis Test) maka akan terlihat penjendelan yang menunjukkan adanya peningkatan jumlah sel darah putih dalam susu. Mayoritas mastitis disebabkan oleh adanya infeksi bakteri ke dalam ambing melalui lubang puting. Cara penularan mastitis dapat terjadi melalui tangan pemerah, peralatan yang digunakan untuk membersihkan ambing yang telah tercemar oleh bakteri. Ambing pada sapi terdiri dari empat kwartir yang secara anatomis terpisah antara satu dan lainnya. Mastitis dapat terjadi pada salah satu ambing, kemudian tersebar ke ambing lainnya melalui tangan pemerah, maupun mesin perah bila sapi diperah menggunakan mesin perah. Penularan mastitis juga dapat terjadi melalui pancaran susu pertama yang langsung dibuang ke lantai, lantai kandang yang basah dan lembab akan mendukung pertumbuh bakteri, dan bila sapi berbaring akan memungkinkan bakteri masuk melalui lubang puting.Dalam hal ini, gejala klinis sapi penderita mastitis dapat diketahui dengan adanya pembengkakan pada ambing dan puting yang terjadi pada satu kwartir atau lebih. Rasa sakit timbul sewaktu diperah dan diikuti oleh penurunan produksi yang bervariasi mulai dari ringan sampai berat bahkan tidak keluar susu sama sekali. Infeksi bakteri dapat menyebabkan susu berubah warna menjadi merah karena bercampur dengan nanah. Banyak kejadian mastitis subklinis yang mengakibatkan penurunan produksi susu. Pengaruh mastitis pada ambing dapat menyebabkan infeksi, jumlah sel darah putih meningkat, penurunan produksi susu, hilangnya kwartir (tidak berfungsi), perubahan bentuk ambing, dan akibat mastitis ke depan dapat menyebabkan produksi susu tidak mampu mencapai maksimal.Untuk perubahan fisik ambing yang mengalami mastitis dapat terlihat adanya bentuk yang tidak simetris antara kwartir ambing kanan dan kiri. Hal ini dapat disebabkan karena adanya keradangan yang menyebabkan pembengkakan ambing, disamping adanya warna kemerahan, dan adanya respon rasa sakit bila dipalpasi, serta produksi susu yang menurun. Mastitis kronis dapat meyebabkan terjadinya anggren yang disertai dengan pernanahan dengan infeksi berbagai macam bakteri.Pengobatan mastitis, dapat dilakukan dengan menggunakan antibiotik sesuai dengan bakteri yang menginfeksi, dan disarankan agar dilakukan uji sensitivitas terhadap bakteri sebelum melakukan pengobatan agar diperoleh hasil yang optimal.Penggunaan antibiotik yang terus menerus dikhawatirkan justru akan berdampak pada kandungan residu yang tinggi. Daging sapi yang menderita penyakit ini dapat dikonsumsi, tetapi harus memperhatikan tingkat keradangan ambingnya. Jaringan ambing yang rusak karena infeksi harus dimusnahkan dengan dibakar atau dikubur.Adapun pengendalian penyakit dapat dilakukan dengan mencegah terjadinya infeksi terutama yang ditimbulkan oleh kesalahan manajemen dan higiene pemerahan yang tidak memenuhi standar. Dalam periode tertentu secara rutin perlu dilakukan pemeriksaan kemungkinan adanya mastitis subklinis dengan melakukan uji CMT. Untuk Sapi Perah yang telah berulang kali menderita mastitis sebaiknya dipotong, karena sudah tidak dapt mencapai produksi yang optimal (Inang Sariati). Sumber : 1) Manual Penyakit Hewan Menular, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2012.2) https://www.google.co.id/search?q=PENGOBATAN+DAN+PENCEGAHAN+MASTITIS