Loading...

PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN SEPTICEMIA EPIZOOTICA

PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN SEPTICEMIA EPIZOOTICA
Sebagaimana halnya manusia, hewan ternak juga dapat diserang oleh berbagai macam penyakit. Penyakit tersebut tentu saja sangat merugikan sebab akan berdampak pada penurunan produktivitasnya. Bahkan, kalau tidak segera ditangani dapat menimbulkan kematian. Salah satu diantara jenis penyakit ternak tersebut adalah Septicemia epizootica (SE). Penyakit Septicemia epizootica (SE) atau dikenal juga dengan penyakit ngorok adalah suatu penyakit infeksi akut atau menahun pada sapi dan kerbau. Penyakit ini terjadi juga pada jenis ternak lain seperti pada onta, kambing, domba, babi dan kuda. Sesuai dengan namanya, pada kerbau dalam stadium terminal akan menunjukkan gejala ngorok (mendekur), disamping adanya kebebngkakan busung pada daerah-daerah submandibula dan leher bagian bawah. Dalam hal ini, penyakit SE menyebabkan kerugian besar karena dapat menyebabkan kematian, penurunan berat badan, serta kehilangan tenaga kerja pembantu pertanian dan pengangkutan. Selain peternak untuk menghindari kerugian akibat kematian ternak. Penyakit ngorok atau SE disebabkan oleh Pasteurella multocida serotype 6B dan 6E menurut klasifikasi Namioka dan Mlirata. Type B dikenal sebagai type I pada klasifikasi Carter dan biasanya diisolasi di Asia, sedang type E biasanya terisolasi di Afrkia.Pada penyakit SE dikenal (3) tiga bentuk yaitu, bentuk busung, pektoral, dan intestinal. Adapun lebih jelasnya yang dimaksud dengan bentuk-bentuk tersebut sebagai berikut :1. Bentuk Busung. Ditemukan busung pada bagian kepala, tenggorokan, leher bagian bawah, gelambir dan kadang-kadang pada kaki muka. Tidak jarang pula terjadi pada bagian alat kelamin dan anus. Derajat kematian bentuk ini tinggi sampai mencapai 90 % dan berlangsung cepat (hanya 3 hari, kadang-kadang sampai 1 minggu). Sebelum mati, terutama pada kerbau terjadi gangguan pernafasan ditandai sesak nafas (dyspnoe) dan suara ngorok merintih dan gigi gemeretak.2. Bentuk Pektoral. Bentuk ini ditandai dengan bronchopneumoni dan dimulai dengan batuk kering dan nyeri. Kemudian terdapat eksudat di hidung, pernafasan cepat basah. Proses berlangsung lama antara 1 – 3 minggu. Penyakit yang bersifat kronis ditandai dengan hewan menjadi kurus, batuk, nafas dan nafsu makan terganggu, terus mengeluarkan air mata, suhu tidak berubah, terjadi diare yang bercampur darah, kerusakan pada paru, bronchi dan pleura.3. Bentuk Intestinal. Bentuk Intestinal ini merupakan gabungan dari bentuk busung dan bentuk Pektoral. Cara Penularan Penyakit Septicemia epizootica (SE), diduga pintu gerbang infeksi bakteri ke dalam tubuh hewan adalah daerah tenggorokan (tonsil region). Hewan sehat akan tertular oleh hewan sakit atau pembawa melalui kontak atau melalui makanan, minuman dan alat yang tercemar. Ekskreta hewan penderita (ludah, kemih dan feses) juga mengandung bakteri. Pada ternak babi, SE banyak yang berbentuk sebagai gangguan pernafasan dengan gejala batuk lebih menonjol. Penularan melalui udara oleh penderita lebih mudah terjadi, apalagi kalau babi tersebut makan dan minum dari tempat yang sama. Timbulnya SE pada babi sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor predisposisi. Seperti pada kerbau dan sapi, ekskreta penderita juga mengandung bakteri. Adapun Stres pada ternak merupakan kondisi predisposisi untuk terjangkitnya penyakit. Sapi atau kerbau yang terlalu banyak dipekerjakan, pemberian pakan yang berkualitas rendah, kedinginan, anemia, kandang yang penuh dan berdesakan serta kondisi pengangkutan yang melelahkan dapat memicu terjadinya infeksi. Pada kejadian yang terakhir menyebabkan penyakit ini disebut juga dengan Shipping fever. Di musim kering hewan sulit mendapatkan pakan , tetapi dipaksa untuk bekerja keras maka dapat menimbulkan stres sehingga memudahkan terserang oleh penyakit ini. Ternak kerbau diketahui lebih rentan terhadap penyalit ngorok dibandingkan ternak sapi. Gejala Penyakit Septicemia epizootica (SE) tidak banyak terlihat, tetapi langsung timbul kematian yang mendadak. Hewan yang terserang biasanya menderita demam tinggi, tidak mau makan, diare, feses berdarah , kebengkakan dan busung terlihat di kepala, bagian bawah dada dan kaki atau pangkal ekor. Adapun lesi di kerongkongan mengakibatkan sesak nafas dan tertekan dan murung, kematian dapat terjadi antara 1 – 2 hari setelah terjadi gejala. Penyakit ini dapat berlangsung menahun, pada hewan muda angka kematian tinggi, terjadinya kematianj adalah karena pelepasan endotoksin oleh bakteri sehingga terjadi toksemia atau tercekik. Pengobatan. Untuk pengobatan Penyakit Septicemia epizootica (SE), dapat dilakukan dengan penyuntikan streptomisin sebanyak 10 mg secara IM atau kioromisitin dan aureumisin sebanyak 4 mg tiap kg berat badan secara IM. Preparat sulfa seperti sulfametasin 1 gram tiap 7,5 kg berat badan dapat membantu penyembuhan penyakit. Pencegahan. Pencegahan Penyakit Septicemia epizootica (SE) untuk daerah bebas SE tidakan pencegahan didasarkan pada aturan yang ketat terhadap pemasukkan hewan ke daerah tersebut. Untuk daerah tertular, hewan sehat divaksin dengan vaksin oil-adjuvant, sedikitnya setahun sekali dengan dosis 3 ml IM. Vaksinasi dilakukan pada saat tidak ada kejadian penyakit. Sedangkan pada tersangka sakit dapat dipilih salah satu dan peralukuan sebagai berikut : (1) Penyuntikan antiserum dengan dosis pencegahan; (2) Penyuntikan antibiotika; (3) Penyuntikan kemoterapeutika. (Penulis Inang Sariati) ?Sumber : 1. Brosur/Buku "Manual Penyakit Hewan Mamalia", Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2012.2. https://www.google.com/search?q=SEPTICEMIA+EPIZOOTICA