PENGOLAHAN IRIGASI DALAM RANGKA KONSERVASI TANAH DAN AIR
PENGOLAHAN IRIGASI DALAM RANGKA KONSERVASI TANAH DAN AIR PENDAHULUAN Pengelolaan air merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam rangka kegiatan konservasi tanah dan air yang sekaligus juga merupakan faktor berlangsungnya proses produksi bidang pertanian secara umum atau bahkan bidang lain diluar pertanian, begitupun untuk keberlangsungan hidup umat manusia. Salah satu kegiata teknologi dalam rangka pengelolaan air yaitu teknologi panen hujan (waterharvesting). Teknologi panen hujan merupakan salah satu alternatif pengelolaan air berdasarkan pada prinsip menampung kelebihan air di musim hujan dan memanfaatkannya di musim kemarau. Teknologi panen hujan yang sudah banyak diaplikasikan yaitu embung dan dam parit. Embung Embung adalah salah satu teknologi alternatif pemanenan aliran permukaan dan air hujan. Embung berfungsi sebagai tempat resapan yang dapat meningkatkan kapasitas simpanan air tanah, serta menyediakan air dimusim kemarau. Pemilihan lokasi embung senantiasa mempertimbangkan jarak dengan saluran air pada lahan dengan kemiringan antara 5-30%. Untuk menekan kehilangan air melalui perkolasi, pembuatan embung diutamakan dilakuakan pada tanah-tanah yang memiliki tekstur liat dan atau lempung. Keuntungan Menyimpan air yang berlimpah dimusim hujan, mengurangi aliran permukaan, erosi dan bahaya banjir di daerah hilir dan dimanfaatkan di musim hujan. Menunjang pengembangan usaha tani di lahan kering Menampung tanah tererosi sehingga memperkecil sedimentasi ke sungai. Dapat dibuat sumur dekat embung untuk memenuhi keperluan rumah tangga Kelemahan Mengurangi luas areal lahan yang dapat dikelola petani. Perlu tambahan biaya tenaga untuk pemeliharaan, akibat adanya sedimentasi yang tertampung. Jika dilapisi plastik tentunya membuthkan tambahan biaya Dam Parit Dam parit merupakan salah satu alternatif teknologi pengelolaan air dengan memanen hujan dan aliran permukaan. Teknologi dam parit adalah suatu cara untuk mengumpulkan / membendung aliran permukaan pada suatu parit (Drainage network) serta mendistribusikannya untuk mengairi lahan disekitarnya. Kriteria Dimensi Dam Parit Bentuk penampang sungai (lebar sungai, tinggi tebing, kemiringan dasar sungai) Potensi aliran air yang dapat ditampung Kebutuhan air (luas daerah target lahan dan jenis tanaman) Prinsip dam parit adalah menurunkan debit puncak, yaitu debit paling tingi yang terjadi pada aliran tersebut, mengurangi kecepatan aliran parit, memperpanjang waktu respon, yaitu memperpanjang selang waktu antara saat curah hujan maksimum dengan debit maksimumnya. Karena sebagian air akan meresap ke dalam tanah untuk mengisi (recharge) cadangan air tanah. Sebelum memutuskan untuk membuat dam parit pada suatu arel / DAS perlu mempertimbangkan ; Dibutuhkan oleh petani, yang diputuskan oleh masyararakat petani sendiri ; Biaya pembuatan murah, mudah dan dapat dilakukan sendiri oleh petani ; Penentuan lokasi harus tepat, dapat menampung air sebanyak mungkin dapat mengairi lahan seluas mungkin ; Mempunyai nilai tambah ; Berdampak secara langsung menaikan indeks pertanaman dan jenis pola tanam. Keuntungan pembuatan dam parit diantaranya: Dapat mengurangi resiko erosi tanah dan banjir di daerah hilir : Air tersedia sepanjang waktu Akan menekan resiko kekeringan dan meningkatkan luas lahan Terjadi perubahan jenis dan pola tanam (menjadi 2 kali tanam setahun) meningkatkan produktivitas lahan dan pendapatan petani. *** Disusun Oleh : Tim BPP Sukatani