Loading...

PENGOLAHAN LAHAN BUDIDAYA JAGUNG BERDASARKAN TIPE LAHAN

PENGOLAHAN LAHAN BUDIDAYA JAGUNG BERDASARKAN TIPE LAHAN
Budi daya jagung sebagian besar diusahakan di lahan kering dan sawah tadah hujan. Secara umum, terkait kondisi tanah, yang dapat ditanami jagung antara lain Andosol (berasal dari gunung berapi), Latosol, dan Grumosol. Pada tanah bertekstur berat (Grumosol) masih dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik, tetapi perlu pengolahan secara baik serta aerasi dan drainase yang baik. Tanah bertekstur lempung atau liat berdebu (Latosol) merupakan jenis tanah terbaik untuk pertumbuhan tanaman jagung. Tanaman jagung akan tumbuh dengan baik pada tanah yang subur, gembur, dan kaya humus.Keasaman tanah erat hubungannya dengan ketersediaan unsur hara tanaman. Keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung antara 5,6-7,5. Pada tanah yang mcmiliki pH kurang dari 5,5, tanaman jagung tidak bisa tumbuh maksimal karena keracunan ion alumunium. Tanaman jagung membutuhkan tanah dengan aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik. Kemiringan tanah yang optimum untuk tanaman jagung maksimum 896. Hal ini dikarenakan kemungkinan terjadi erosi tanah sangat kecil. Pada daerah dengan tingkat kemiringan 5-8%, sebaiknya dilakukan pembentukan teras. Tanah dengan kemiringan lebih dari 8% kurang sesuai untuk penanaman jagung. A. Penyiapan Lahan Pada Lahan KeringPenyiapan lahan untuk budidaya jagung pada lahan kering umumnya dilakukan dengan pengolahan tanah sempurna (OTS) secara intensif. Pada musim kemarau, lahan kering sukar/sulit untuk diusahakan karena keterbatasan lengas tanah yang tersimpan dalam jeluk matriks tanah sehingga tanaman (jagung) sukar untuk berkembang apalagi berproduksi secara optimal. Untuk itu, pengolahan tanah secepatnya dilakukan setelah hujan mulai turun dengan mempertimbangkan kondisi lengas tanah yang sesuai untuk pengolahan tanah atau dapat juga dilakukan sebelum hujan turun. Lahan dibersihkan terlebih dahulu daritumbuhan pengganggu perdu. Pembersihan lahan dapat dilakukan dengan sabit/parang atau menggunakan herbisida. Setelah lahan bersih dari tumbuhan pengganggu, dilakukan pengolahan tanah dengan bajak yang ditarik traktor/sapi beberapa kali dan diikuti dengan garu/sisir serta perataan sampai lahan siap ditanami. Pengolahan tanah dengan dibajak beberapa kali bertujuan meningkatkan porositas dan aerasi tanah, ketersediaan unsur hara, memacu perkembangan akar dan pertumbuhan tanaman. Namun pengolahan tanah yang intensif seperti telah disebutkan sebelumnya, kemanfaatannya hanya bersifat sementara. Dalam jangka panjang dapat mengakibatkan kerusakan tanah, erosi dan kehilangan air. Pengolahan intensif areal pertanaman jagung dapat menyebabkan kerusakan struktur tanah, menurunkan kapasitas infiltrasi tanah, dan daya hantar air. Untuk mengurangi dampak tersebut, dianjurkan pengolahan tanah seperlunya. Sistim pertanian konservasi yang meliputi pengolahan tanah minimum, tanpa olah tanah , penggunaan teras dan guludan, serta usahatani lorong dapat mempertahankan kualitas tanah, peningkatan produksi tanaman pangan dan menekan erosi. Dalam penyiapan lahan tanpa olah tanah, tanah tidak diganggu dan hanya ditugal sebagai lubang tanam benih jagung sedangkan Olah Tanah Minimum tanah hanya diolah pada barisan penanaman saja. Sebagian sisa-sisa tanaman dibiarkan pada permukaan tanah. Pada penyiapan lahan konservasi umumya gulma dikendalikan dengan menggunakan herbisida.B. Penyiapan Lahan Pada Lahan Sawah Tadah Hujan/IrigasiPenyiapan lahan dilakukan secepatnya setelah panen padi baik tanpa pengolahantanah maupun dengan pengolahan tanah. Tanpa pengolahan tanah dapat dilakukan utamanya pada tanah yang mempunyai tekstur ringan. Lahan sawah tadah hujan yang akan ditanami jagung terlebih dahulu dibersihkan dari jerami padi sebelumnya bila panen padi dengan mesin dros. Tapi bilamana panen dilakukan dengan memotong batang padi dekat permukaan tanah dengan sabit, pembersihan lahan lebih mudah. Jika dinilai keberadaan gulma dapat mengganggu saat pertumbuhan awal tanaman maka dapat dilakukan penyemprotan dengan herbisida. Apabila herbisida untuk rumput/gulma pada lahan tanpa olah tanah sebaiknya menggunakan herbisida sistemik. Herbisida sistemik mematikan rumput/gulma hingga keakarnya. Takaran bahan aktif herbisida per liter air tercantum pada label pembungkus. Dosis herbisida yang digunakan tergantung ketebalan rumput/gulma, umumnya digunakan dosis 3 liter/ha atau 400-500 larutan semprot/ha. Tiga – empat hari setelah aplikasi herbisida dikontrol kembali rumput/gulma yang belum terkena semprotan. Satu minggu setelah aplikasi herbisida dilanjutkan dengan penanaman penanaman. Penyiapan lahan dengan sistem oleh tanah sempurna dapat dilakukan dengan bajak yang ditarik traktor/sapi ataucangkul sampai lahan siap ditanami. Pengolahan tanah secepatnya dilakukan setelah panen padi dengan mempertimbangkan kondisi lengas tanah yang sesuai untuk pengolahan tanah. Sebelum memutuskan untuk penanaman pada lahan sawah tadah hujan,keberadaan sumber air harus dipertimbangkan, tidak dianjurkan untuk penanaman jagung pada lahan sawah tanpa ada kepastian sumber air yang dapat diakses petani dengan mudah. Dapat dibuat terlebih dahulu dibuat saluran irigasi keliling lahan dan saluran memotong lahan setiap jarak 2m dengan menggunakan hand traktor. Saluran tersebut berfungsi untuk mengairi tanaman bila kekurangan air. Berbeda dengan lahan kering yang dibuat saluran drainase untuk membuang air berlebih dimusim hujan. Agar diperoleh jarak 2m, terlebih dahulu dibuat ukuran yang diberi tanda agar saluran irigasi yang terbentuk lurus (Ir. Amirudin Aidin Beng, MM) Sumber : 1. BPTP Sulawesi Selatan. 2012. Teknologi Budidaya Jagung (Zea maize) Tanpa Olah Tanah (TOT) pada Lahan Sawah Tadah Hujan (http://sulsel.litbang.pertanian.go.id/, diakses 19 Mei 20162. Effendi, Roy dan Suwardi. 2009. Prosiding Seminar Nasional Serealia : MEMPERTAHANKAN DAN MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS LAHAN KERING DAN PRODUKSI JAGUNG DENGAN SISTEM PENYIAPAN LAHAN KONSERVASI (https://www.academia.edu diakses 19 Mei 2016)3. Purwono dan Rudi Hartono. Bertanam Jagung Unggul. Depok : Penerbar Swadaya (https://books.google.co.id, diakses 23 Mei 2016)4. Walimin. Pengelolaan Tanaman Jagung Secara Terpadu. https://www.scribd.com/doc/16616131/Pengelolaan-Tanaman-Jagung-Secara-Terpadu, diakses 19 Mei 2016