Loading...

Pengolahan Tanah Lahan Gambut Untuk Tanaman Jagung

Pengolahan Tanah Lahan Gambut Untuk Tanaman Jagung
Disebut tanah gambut apabila tanah tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut; mengandung bahan organik lebih dari 20 % (untuk tanah pasir) atau lebih dari 30 % (untuk tanah liat) dan tebalnya lebih dari 40 cm. Umumnya hasil analisis tanah berupa C organik, sehingga untuk menghitung besarnya bahan organik digunakan rumus: Bahan Organik (%) = 1,74 x C organik (%). Tanah gambut pada umumnya terbentuk di daerah becek, danau dangkal, dan rawa-rawa. Daerah tersebut merupakan daerah dimana sangat cocok untuk penimbunan bahan organik. Lingkungan demikian telah mendorong banyak perkembangan berbagai tumbuhan seperti rumput danau, lumut, belukar, juga pohon-pohon dan rumput-rumput lainnya. Tumbuh-tumbuhan itu hidup turun-temurun, mati dan terbenam, dan kemudian digenangi air dimana mereka tumbuh. Air itu menghentikan aliran udara, menghalangi oksidasi cepat, dan dengan demikian bertindak sebagai pengawet benda-benda/tanaman yang ada diwilayah tersebut. Pelapukan timbunan tumbuh-tumbuhan yang mati dan terendam di dalam air tersebut dilakukan oleh fungi/cendawan, bakteri anaerobik, ganggang, dan binatang air mikroskopik tertentu. Organisme-organisme tersebut menghancurkan dan melapukkan jaringan-jaringan organik, membebaskan bahan-bahan gas dan membantu pembentukan humus. Mengetahui tingkat kematangan gambut cukup penting bagi petugas dilapangan, sebab kematangan gambut mencerminkan kemampuan tanah gambut mendukung pengembangan komoditas tanaman. Kematangan/tingkat dekomposisi tanah gambut terbagi tiga macam: 1) mentah (fibrik), jaringan tumbuhan masih terlihat jelas, dilapangan dapat diketahui dengan meremas segumpal tanah gambut secara perlahan dan jaringan tanaman yang tertinggal di telapak tangan ? ¾ ; 2) setengah matang (hemik), jaringan tumbuhan telah mengalami pelapukan, sisa remasan jaringan tumbuhan di tangan Pemanfaatan lahan gambut oleh petani tidaklah terlalu susah, dalam pengolahan lahan gambut terutama untuk tanaman jagung dimulai dari pembuatan saluran air untuk memasukan air dan mengeluarkan air dari saluran drainase induk sehingga lahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk budidaya tanaman jagung. Di Indonesia luas keseluruhan lahan gambut sekitar 20,14 juta hektar. Sebaran lahan gambut di Indonesia, sekitar 6,7 juta hektar yang tersebar di pulau Kalimantan, dan sisanya tersebar di pulau Sumatera dan Papua Pengolahan tanah bertujuan agar tanah jadi gembur, subur banyak mengandung/ menyimpan unsur hara, mudah untuk pertumbuhan tanaman serta mudah untuk berkembangan perakaran tanaman, untuk menciptakan lingkungan perakaran yang dalam, mempertahankan kemampuan tanah dalam menyimpan air, mengedarkan udara, memperkaya ketersediaan zat hara untuk akar tumbuhan. Apabila pH tanah terlalu asam (pH7) bisa ditambahkan belerang. Pengelolaan lahan gambut memerlukan pengelolaan yang tepat, sejauh mungkin mencegah/mengurangi kerusakan, serta dapat menjamin kelestarian sumber daya alam dan juga untuk kepentingan generasi yang akan datang. Pengolahan lahan gambut sebaiknya dilakukan secara lestari sederhana, bisa menggunakan peralatan serba modern (canggih) dan juga mempunyai pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang cukup (dalam menggunakan ALSINTAN dan SAPRAS), sehingga tidak menyebabkan tanah gambut menjadi kritis. Lahan gambut sebelum dilakukan untuk budidaya jagung dilakukan penataan lahan yaitu dengan Sistem Surjan maupun dilakukan dengan pengolahan lahan langsung untuk usaha budidaya jagung (tergantung dengan tive lahan gambut yang akan diusahakan). Bila dilakukan penataan dan pengolahan lahan dengan sistem surjan yaitu dengan cara pembutan tukungan/guludan dengan tinggi 40 – 50 Cm, lebar 3-12 m panjang disesuakan dengan batas lahan gambut. Cara melakukan dengan cara menggali tanah gambut dengan cangkul atau alat lainya yang dapat digunakan untuk mengeduk tanah tersebut hingga terbentuk dengan surjan. Selanjutnya bekas tanah yang digali untuk membuat galengan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai embung untuk cadangan air. "Sementara lahan di bawahnya yang tidak digali tapi berada di bawah surjan akan menjadi lahan sawah,". Persiapan pengolahan lahan tanpa sistem surjan yaitu dengan cara membersihkan lahan, mengolah lahan dengan bajak traktor/ternak maupun dicangkul, mentukan batas-batas lahan, membuat saluran irigasi dibagian tepi-tepi dan pada tengah lahan, membuat guludan dengan lebar 0,5 m panjang disesuaikan dengan panjang kepemilikan lahan dan selanjutnya dibuat lubang tanam sesuai dengan ukurannya. Cara pengolahan lahan untuk budidaya jagung, setelah dilakukan pengolahan sistem surjan pada lahan keringnya bisa dilakukan dengan cara pengolahan secara sempurna yaitu dibersihkan gulma/sisa-sisa tanaman, dibajak/dicangkul awal, digaru dicangkul kedua untuk menghancurkan bokahan tanah, ditaburi pupuk kandang/pupuk organik lainnya dan ditambah kaptan untuk menambahkan pH tanah hingga mencapai 6 – 7 terus dibajak/dicangkul untuk mengaduk pupuk sekaligus dibuat guludan dan lubang tanam sesuai dengan jarak tanam jagung) atau juga bisa dilakukan dengan tanpa olah tanah yaitu dengan cara lahan dibersihkan terus dilakukan pembuat lubang tanam langsung sesuai dengan jarak tanam jagung, galian lubang tanam diberi pupuk/kaptan dan diaduk-aduk kemudian langsung ditanami benih jagung. Ditulis : Dalmadi BBP2TPSumber bacaan dan Sumber gambar: Firmansyah,M.A. BPTP Kalteng, Balitsereal dan sumber lainnya.