Loading...

PENGOMPOSAN JERAMI

PENGOMPOSAN JERAMI
Pada saat musim panen padi, keberadaan jerami sangat melimpah. Sehabis panen padi, biasanya sebagian besar petani membakar jeraminya di lahan sawah terutama bila petani akan menanam jagung, karena jerami dianggap mengganggu dalam pengolahan lahan. Sebagian lainnya meletakkan jerami tersebut ditepi jalan terutama jerami bekas perontokan padi, lalu membakarnya sehingga menghasilkan asap yang sangat tebal dan mengganggu pengguna jalan, juga CO2nya yang kurang baik bagi kesehatan. Banyak petani yang belum menyadari akan nilai ekonomi dan manfaat yang besar dari jerami tersebut. Padahal di dalam jerami terkandung beberapa unsur hara yang berguna untuk tanaman seperti Nitrogen dan Kalium. Dengan membakar jerami berarti sama saja dengan membakar kandungan yang sangat bermanfaat yang bisa membantu mencukupi kebutuhan pupuk kimia subsidi yang konon jumlahnya kurang dari kebutuhan petani. Dengan mengembalikan jerami padi ke lahan sawah, petani tidak perlu lagi memberikan pupuk N dan KCl sehingga bisa menghemat biaya produksi.Pupuk kompos/bokashi jerami adalah pupuk yang diperoleh dengan proses fermentasi menggunakan bioaktivator seperti EM4, Starbio, Stradex dll. Penggunaan bioktivator tersebut bertujuan untuk mempercepat proses pengomposan dan meningkatkan kandungan hara/C-Organik sehingga penyerapan tanaman terhadap kompos tersebut semakin cepat, efektif dan efisien. Kandungan di dalam decomposer terdiri dari ribuan bakteri/mikroba bermanfaat seperti : Azotobakter Sp, Lactobacillus Sp, cendawanpengurai, bakteri fotosintetik, bakteri asam laktat, actinomicetes, ragi dan jamur fermentasi yang merombak bahan organik menjadi unsur-unsur hara, juga membantu memecah ikatan-ikatan senyawa kimia dalam tanah sehingga mudah diserap oleh akar.Berdasarkan penelitian setiap ton kompos jerami padi memiliki kandungan hara setara dengan total 136,27 kg NPK. Atau 41,3 kg urea, 5,8 kg SP36, dan 89,17 kg KCl. Sedangkan potensi jerami padi kurang lebih adalah 1,4 kali dari hasil panennya. Sehngga setiap panennya (GKG) sekitar 6 ton per ha maka jeraminya yaitu sebanyak 8,4 ton jerami per ha. berarti jerami ini dibuat kompos dan rendemen komposnya 60%, maka dalam satu ha sawah dapat dihasilkan 5,04 ton kompos jerami padi. jadi sudah jelas bahwa dalam satu ha sawah akan menghasilkan 208,15 kg urea, 29,23 kg SP36, 449,42 KCl atau total 686,80 NPK dari kompos jerami padinya.Selain dikembalikan langsung ke lahan sawah, jerami padi dapat juga dijadikan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik (kompos). Jika petani menganggap jerami menyulitkan dalam pengolahan menggunakan traktor maka lebih baik dibuat kompos saja. Untuk membuat kompos yang berkualitas, diperlukan decomposer yang sesuai dengan tujuan pemberian kompos. Jika menginginkan kompos untuk menyuburkan tanah sekaligus mengendalikan hama penyakit, khususnya penyakit yang disebabkan oleh jamur, maka dapat digunakan decomposer Trichoderma.Keputusan yang sangat bijak jika para petani mau memanfaatkan jerami dengan mengembalikannya ke lahan. Dengan beralih dari kebiasaan membakar berarti para petani telah ikut serta dalam rangka mengurangi pemanasan global, pelestarian lingkungan dan penigkatan kesuburan tanah yang keadaanya semakin kritis. Cara Membuat Kompos/Bokashi Jerami Cara pembuatan kompos/bokashi jerami adalah sebagai berikut : 1. alat• Terpal• Ember/Tong bekas• Gembor/Hand Spayer2. bahan• Jerami : 1000 kg• Dekomposer : 1 liter• Pupuk Urea : 1 kg• Tetes tebu : 1 liter (gula 1 kg)• Dedak : 50 kg• Sekam padi : 100 kg• Air secukupnya 3. Proses pembuatan• Jerami segar dipotong-potong 2-3 cm. Bila jerami dalam keadaan kering rendamlah selama 1 malam agar jerami lembab.• Campurkan : dekomposer, tetes tebu, pupuk urea pada ember, tambahkan air lalu aduk dan diamkan 30 menit (larutan a)• Tebarkan jerami dengan ketebalan 10 cm.• Siram tebaran jerami dengan larutan a menggunkan gembor. Kadar air 60% jika bahan diremas terasa basah namun tidak keluar airnya.• Tebarkan dedak, serbuk gergaji dan sekap diatas jerami yang telah disiram.• Siram lagi dengan larutan a.• Ulangi sampai semua bahan tersiram rata.• Aduk hingga rata semua bahan yang disiram• Tutup bahan dengan terpal. 4. Proses pengamatan dan pembalikan• Setelah 3 hari lakukan pengamatan. Pegang tumpukan bahan jika terasa hangat berarti proses fermentasi telah berjalan.• Pertahankan suhu bahan antara 40-50 deran celcius (terasa hangat saat dipegang)• Jika suhu terlalu panas maka bukalah tutup tumpukan dan lakukan pembalikan bahan kemudian tutup kembali.• Lakukan pengamatan seperti tersebut hingga 2-3 minggu.• Setelah bahan berwarna coklat kehitaman, berbau seperti tape berarti kompos sudah jadi dan siap untuk digunakan. Waktu pengomposan usahakan sampai 3 minggu karena dengan waktu tersebut semua bahan telah terfermentasi dengan sempurna dan suhunya berangsur turun sehingga kompos benar-benar siap untuk digunakan. Catatan : • Lakukan pembalikan 3-5 hari sekali untuk mempertahankan suhu sehingga bahan tidak busuk karena suhu yang terlalu tinggi.• Proses fermentasi ditentukan oleh : besar kecilnya bahan, penambahan dekomposer.• Dedak dan tetes tebu/gula wajib diberikan walau jumlahnya kurang dari formula diatas karena kedua bahan tersebut akan menjadi makanan untuk mikroba/fermentasi.• Jangan pernah menggunakan kompos yang belum jadi dengan sempurna ke lahan karena akan berpengaruh buruk pada tanamanCiri-ciri Kompos yang sudah jadi:1. Berwarna coklat gelap sampai hitam, remah/gembur2. Bersuhu dingin3. Tidak berbau atau berbau daun lapuk Http://Pertanian-Indonesia-Asia.Blogspot.Co.Id/2014/11/. Cara-Membuat-Komposbokashi-Jerami.Html, 19 Maret 2016.Sarlan Adulrachman Dan Made Jana Mejaya. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Pusat Penelitian Dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Litbang Pertanian, dalam Sinar Tani Edisi 22-28 Mei 2013 No.3508 Tahun XLIII