Petani hortikultura mempunyai andil yang cukup besar dalam turut menyukseskan pembangunan pertanian, khususnya sebagai produsen, pemasok dan pemasar produk hortikultura. Andil petani tersebut dapat dilakukan secara individu atau terhimpun secara bersama-sama dalam kelompoktani (poktan). Sebagai kelompoktani, perlu dibentuk pengurus yang bertugas untuk mengorganisasikan berbagai kegiatan anggota kelompok dalam rangka peningkatan kapasitas untuk mencapai berbagai tujuan. Dalam kiprahnya sebagai pelaku pembangunan pertanian, pengurus dan anggota poktan hortikultura perlu mencapai tujuan akhirnya, yaitu kesejahteraan dalam aspek sosial kemasyarakatan dan aspek ekonomi. Untuk mencapai tujuan tersebut mereka harus mempunyai kekuatan. Metoda, materi dan teknik penguatan kapasitas individu dan penguatan kapasitas seperti apa yang perlu dilaksanakan oleh petani hortikultura? Penguatan dan Kompetensi Kelompoktani Pembentukan poktan oleh anggotanya sudah tentu memiliki tujuan jangka pendek dan jangka panjang. Sebagai contoh, tujuan jangka pendek misalnya, produksi usahatani hortikutura bagi semua anggota kelompok selalu maksimum di setiap musim tanam, sedangkan tujuan jangka panjangnya semua anggota dan keluarganya mencapai kesejahteraan ekonomi dan hidup rukun damai lahir dan batin. Tujuan tersebut hanya dapat dicapai melalui peran aktif mereka dalam berbagai kegiatan kelompok. Misalnya aktif berperan sebagai anggota dan/atau merangkap jadi pengurus kelompok. Untuk itulah, sebagai kelembagaan milik petani, pengurus dan anggota poktan perlu menyusun dan melaksanakan berbagai aturan dan rencana kegiatan tahunan usahataninya yang tujuan akhirnya harus bermuara pada pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi. Berbagai aturan serta rencana kegiatan poktan tersebut di atas perlu disusun dalam suatu proses pembelajaran di kelompok dengan metode pembelajaran yang menerapkan pendekatan partisipatif. Proses pembelajaran tersebut memerlukan peran penyuluh pertanian sebagai pendamping/fasilitator poktan. Mengapa demikian? Ya, karena untuk belajar sambil berbuat (learning by doing), anggota poktan memerlukan fasilitator yang tepat untuk mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. Penyuluh perlu menerapkan pendekatan partisipatif yang mengaplikasikan cara-cara dan teknik-teknik pembelajaran yang tepat, agar dapat ditumbuhkembangkan azas demokratis dan komitmen yang tinggi dalam poktan, sehingga melahirkan pengurus dan anggota yang kuat karena memiliki kompetensi yang baik. Diperlukan Pengurus dan Anggota Poktan yang Aktif Agar kelompoktani mampu melaksanakan fungsinya dengan baik dan menjadi lembaga yang kuat, pengurus dan anggotanya perlu aktif, proaktif, dan terus belajar sambil mengerjakan (learning by doing) semua materi penguatan kapasitas yang relevan dengan tujuan yang ingin mereka capai, untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Adanya pengurus dan anggota poktan yang aktif melaksanakan berbagai kegiatan dengan menerapkan prinsip taat azas, demokratis, dan berkomitmen mentaati semua peraturan yang telah mereka buat, maka poktan dapat tumbuh dan terus berkembang menjadi kelembagaan yang kuat. Dengan kata lain, poktan sebagai kelembagaan petani perlu memiliki kompetensi yang cukup, dan kompetensi itu dicapai melalui kegiatan penguatan untuk peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan perubahan sikap positif para pengurus dan anggota poktan dari waktu ke waktu. Dengan demikian penguatan kapasitas petani pada dasarnya adalah penguatan kapasitas sumberdaya manusianya dan kelembagaannya. Metoda dan Materi Penguatan Kapasitas Metoda penguatan kapasitas petani dimaknai sebagai cara atau kombinasi berbagai cara pembelajaran (learning by doing) yang dilakukan oleh pengurus dan anggota poktan agar mereka mempunyai kompetensi yang cukup sehingga menjadi kuat. Seiring dengan itu, secara bertahap kelembagaannya juga berkembang menjadi kuat. Metoda penguatan tersebut dilaksanakan dalam berbagai kegiatan dilingkungan internal kelompoktani maupun diluar kelompok, dengan atau tanpa adanya pendampingan oleh fasilitator/penyuluh pertanian. Pendampingan yang intensif oleh fasilitator sangat diperlukan terutama oleh kelompoktani yang baru tumbuh. Secara singkat ada 5 tahapan proses dalam penguatan kapasitas kelompoktani yang perlu dicapai oleh pengurus dan anggota poktan. Dengan menerapkan azas kepemimpinan pada setiap proses, petani dan kelembagaannya diharapkan menjadi mandiri dan kuat serta berkemampuan mensejahterakan pengurus dan anggotanya, baik dalam aspek ekonomi maupun aspek sosial kemasyarakatan. Tahapan dan proses yang perlu dicapai adalah sbb: 1) Pengurus dan Anggota yang aktif, 2) Modal bersama yang terus berkembang, 3) Usaha yang menguntungkan dan terus berkembang, 4) Hubungan yang saling menguntungkan dengan pihak lain, dan 5) Kelompok yang Mandiri Keberadaan poktan ditengah masyarakat mempunyai fungsi utama yaitu sebagai kelas belajar, sebagai wahana kerjasama, dan sebagai unit produksi. Selain itu berfungsi pula sebagai unit penyedia sarana dan prasarana produksi, unit pengolahan dan pemasaran, serta sebagai unit jasa penunjang. Agar poktan dapat menjalankan fungsinya dengan baik, maka cara yang perlu dilakukan pengurus dan anggotanya adalah belajar tentang materi penguatan terkait dengan fungsi-fungsi tersebut sambil terus mempraktekkan semua materi pembelajaran dalam kegiatan keseharian mereka. Tujuan pembelajaran terkait erat dengan materi yang dipelajari. Ada dua kelompok kesejahteraan sebagai tujuan akhir yang ingin dicapai poktan. Pertama kesejahteraan ekonomi, usahatani dan peningkatan pendapatan. Kedua, menyangkut aspek sosial kemasyarakatan. Sebagai contoh, misalnya tujuannya adalah agar anggota poktan memiliki kiat-kiat memproduksi hortikultura berkualitas tinggi, mampu mencari pasar dan memasarkan komoditas pertanian dengan tingkat harga yang layak, maka tujuan ini sifatnya lebih ke aspek ekonomi. Namun apabila tujuan pembelajarannya adalah: 1) agar pengurus poktan mampu menyelenggarakan pertemuan kelompok secara berkala dengan tingkat kehadiran anggotanya rata-rata 80%, dan 2) agar kelompok mampu menyusun tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang, dan mencatatnya dibuku kegiatan kelompok, maka tujuan ini termasuk aspek sosial. Dalam upaya poktan mencapai kesejahteraan terkait aspek sosial kemasyarakatan dan ekonomi, tidak terdapat perbedaan metoda penguatan antara poktan hortikultura dengan kelompok petani padi, peternak atau pekebun. Perbedaan hanya disebabkan kekhasan dari masing-masing komoditi yang diusahakan, sehingga materi penguatan dalam hal komoditi dengan sendirinya berbeda. Namun materi sosial kemasyarakatan bisa saja sama atau serupa. Penulis: Enisar Sangun, Penyuluh Pertanian Madya (e_sangun@yahoo.co.id, 081386333549).