Negara Indonesia terkenal dengan jumlah penduduknya yang banyak. Hal ini sudah barang tentu menyimpan banyak potensi baik positif maupun negative. Dari sisi positif, misalnya merupakan peluang pasar yang besar bagi berbagai produk termasuk produk peternakan. Namun di sisi yang lain atau negatif, peluang dimaksud bisa berubah sebaliknya menjadi ancaman atau menimbulkan situasi rawan apabila produk yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat tersebut tidak terpenuhi dan terkelola dengan baik.Untuk memenuhi permintaan masyarakat yang semakin hari semakin meningkat khususnya daging sapi, pemerintah terpaksa masih membuka kran impor. Sebab, produksi ternak domestik sampai saat ini belum mampu mencukupinya. Kalau tidak dilakukan demikian, dampaknya akan terjadi pengurasan ternak lokal atau konsumsi protein hewani akan menurun secara signifikan. Tuntutan akselerasi pembangunan peternakan disatu sisi dan kondisi nyata kinerja pembangunan peternakan yang belum optimal di sisi yang lain, memaksa kita untuk menciptakan inovasi strategi yang komprehensif, sistematik, dan terintegrasi baik vertikal maupun horizontal yang berdayasaing, berkelanjutan dan terdesentralisasi.Dalam rangka memperkuat produksi daging sapi dalam negeri untuk mengantisipasi permintaan yang terus meningkat, perlu upaya strategis dan sistematis. Diantaranya adalah: a.Peningkatan atau penambahan populasi sapi betina produktif. Peningkatan ini dapat ditempuh dengan 2 (dua) cara yaitu : 1)Mengoptimalkan potensi sapi betina lokal yang ada melalui peningkatan produksi dan produktivitas. Caranya dengan penerapan Good Farming Practices (GFP) dan optimalisasi pelayanan teknis peternakan dan kesehatan hewan. Strategi ini diarahkan untuk memperpendek calving interval dari >18 bulan menjadi 13-15 bulan. Dengan optimalisasi IB maupun InKA diharapkan dapat meningkatkan angka kelahiran dari 55%–57% menjadi 75–80% dari populasi sapi betina dewasa produktif; 2)Mengaplikasikan teknologi inovatif bidang pakan dan reproduksi agar diperoleh peningkatan jumlah anak betina terlahir dengan proporsi lebih dari 50%; 3)Menambah populasi sapi bibit betina melalui pemanfaatan sapi ex-impor, atau melalui importasi khusus sapi bibit yang berasal dari Negara yang situasi dan statusnya bebas dari PHMU. Upaya penambahan populasi sapi bibit betina produktif melalui importasi dilaksanakan dengan memanfaatkan dana pemerintah maupun swasta.b.Penyelamatan populasi sapi betina produktif. Sejalan dengan peningkatan populasi sapi dalam negeri maka penyelamatan populasi sapi betina produktif perlu ditempuh melalui upaya : 1)Optimalisasi pencegahan pemotongan betina produktif di RPH; 2)Optimalisasi pencegahan dan pemberantasan penyakit hewan menular strategis (Brucellosis dan IBR); 3)Optimalisasi penanganan gangguan reproduksi agar tidak di culling. Gangguan reproduksi pada kelompok ternak harus ditangani secara reguler oleh karena menghambat tingkat kelahiran sehingga service per conception menjadi tinggi dan calving interval menjadi panjang. Penyakit hewan menular yang terkait langsung dan sangat menentukan status reproduksi adalah Brucellosis dan Infectious bovine rhinotracheitis (IBR). Penyakit ini akan menular terutama bila kawin alam yang menggunakan pejantan terinfeksi penyakit ataupun tersebar melalui kegiatan IB yang tidak sesuai dengan standar prosedur operasional (SOP).c.Menekan angka kematian pedet dan sapi muda. Salah satu faktor penghambat peningkatan populasi sapi adalah masih tingginya kematian pedet dan sapi muda yang merupakan periode rawan kematian. Untuk menekan angka kematian diperlukan peningkatan pelayanan teknis secara optimal dan penerapan Good Farming Practicess (GFP), serta penyediaan pakan dan air minum secara memadai, sehingga dapat menekan angka kematian pedet dan sapi muda menjadi 3%-5%, dan akan dapat meningkatkan populasi 10%-15%.d.Peningkatan berat hidup sapi siap potong. Strategi peningkatan berat hidup sapi siap potong ditempuh melalui: 1)Peningkatan performans/potensi genetik dan pencegahan in-breeding; 2)Optimalisasi penerapan Good Farming Practicess (GFP) melalui optimalisasi potensi pakan yang berkualitas dan penerapan manajemen kesehatan hewan yang baik sehingga diperoleh peningkatan berat hidup per hari (ADG) secara optimal; 3)Optimalisasi dan fasilitasi usaha penggemukan/ fattening, termasuk pola tunda potong sehingga berat hidup sapi siap potong menjadi maksimal. Tunda potong diharapkan dapat meningkatkan bobot potong atau produksi daging sekitar 20-40%.e.Peningkatan kualitas pelayanan RPH. Strategi peningkatan kualitas pelayanan RPH dapat menghasilkan daging berkualitas setara dengan daging eks impor. Dengan demikian produk daging yang dihasilkan di dalam negeri dapat bersaing dengan daging eks impor. Bahkan, bisa ekspor ke beberapa negara Timur Tengah dan Asia karena: (i) Indonesia bebas PMK, (ii) jaminan kehalalan, dan (iii) jaminan keamanan pangan yang berbasis higiene sanitasi dengan ditandai telah memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV) dan penerapan sistem jaminan keamanan pangan Hazard Analisys Critical Control Point (HACCP). Indonesia pernah mengekspor daging dalam bentuk sampel. Strategi ini dilaksanakan melalui fasilitasi RPH untuk pemenuhan persyaratan teknis berupa higiene sanitasi, kesejahteraan hewan, proses pelayuan (aging), cutting system dan rantai dingin (cold chain). Dengan strategi tersebut akan menurunkan porsi daging impor tehadap total permintaan daging sapi nasional. (Inang Sariati) Sumber:1. Blue print swasembada daging 2014, Ditjen PKH, Kementan 2. http://www.infoternak.com/wp-content/uploads/2010/01/daging-sapi.jpg