Peningkatan Indeks Panen Padi Melalui Teknologi Salibu Oleh : Sugiharta S.
Latar Belakang Propinsi Nusa Tenggara Barat dengan luas lahan sawah 266.478 ha (Nusa Tenggara Barat dalam Angka 2018) sampai saat ini masih merupakan salah satu penyangga ketersediaan beras nasional. Dari luas lahan tersebut Kabupaten Lombok Tengah mempunyai luas lahan sawah paling besar yaitu 54.000 ha (Lombok Tengah Dalam Angka 2018) diantara kabupaten lainnya sehingga Kabupaten Lombok Tengah menjadi andalan dalam penyediaan beras Nusa Tenggara Barat. Kecamatan Janapria dengan luas lahan sawah 5.082 ha (Kecamatan Janapria dalam Angka 2018) merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Lombok Tengah mempunyai sumbangan cukup besar terhadap terhadap produksi padi Kabupaten Lombok Tengah. Seiring dengan semakin luasnya Konversi sawah produktif ke sektor non pertanian sulit untuk dihentikan (Ilham, et al., 2008) mengakibatkan produksi padi yang semakin menurun, sementara itu pertambahan jumlah penduduk dikabupaten Lombok Tengah termasuk di Kecamatan Janapria yang semakin melaju membutuhkan beras semakin banyak, maka diperlukan upaya - upaya dalam rangka memaksimalkan produktifitas padi pada lahan sawah. Beberapa upaya peningkatan produktifitas padi adalah dengan menerapkan teknologi – teknologi yang bisa meningkatkan produktifitas maupun produksi padi diantaranya adalah Teknologi Jajar Legowo, Penggunaan Varietas unggul dan lain – lainnya. Namun demikian dirasa masih diperlukan lagi upaya – upaya lain dalam rangka mendukung peningkatan produksi maupun produktifitas padi di Lombok Tengah termasuk juga di Kecamatan Janapria. Salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam rangka peningkatan produksi padi adalah dengan meningkatkan pemanfaatan lahan sawah secara optimal dan efisien yang mana salah satunya adalah dengan meningkatkan intensitas panen padi pada lahan sawah. Teknologi salibu merupakan teknologi budidaya padi yang dapat meningkatkan optimalisasi penggunaan lahan sawah dengan meningkatkan intensitas panen dengan biaya yang relatif murah dimana dari 1 kali tanam bisa panen 2 kali, 3 kali atau lebih. Teknologi Salibu Teknologi salibu sebenarnya merupakan teknologi sederhana yang diangkat dan dimodifikasi dari kebiasaan petani pada umumnya dimana pada saat panen padi, batang padi dipoting di bagian ditengah batang atau di atas pangkal rumpun padi. Dengan sistim memotong padi seperti ini dan batang padi dibiarkan, maka akan tumbuh tunas padi yang dalam waktu beberapa minggu tunas ini akan tumbuh dan menghasilkan buah, akan tetapi malai dari buah tunas ini sangat kecil dan dengan bulir padi sedikit. Berpangkal pada hal tersebut, dikembangkanlah teknologi budidaya padi dengan metode pemotongan pendek pada batang padi (3 – 5 cm di atas rumpun padi). Dengan metode pemotongan seperti ini dibagian pangkal rumpun akan tumbuh anakan baru (bukan tunas) dengan jumlah yang lebih banyak dengan kwalitas yang sama dengan tanaman induk sebelumnya sehingga tanaman ini akan menghasilkan malai dan bulir yang lebih banyak dari rumpun induknya dengan masa panen (umur panen) sejak pemotongan lebih kurang 75 % dari umur induknya. Teknologi inilah yang disebut dengan salibu. Dengan sistim ini otomatis tidak diperlukan lagi persemaian atau penanaman kembali untuk musim tanam kedua. Dengan demikian maka dari satu kali tanam padi akan meningkatkan indeks panen menjadi 2 kali dan bahkan kalau faktor air memungkinkan maka indeks panen bisa mencapai 3 atau 4 kali panen dari satu kali menenam. Keuntungan Teknologi Salibu Biaya Dibandingkan dengan tanam pindah, teknologi salibu dapat menghemat biaya cukup besar diantaranya dari biaya pembelian benih/ bibit, biaya olah lahan, baiaya tenaga kerja dan lain-lain. Waktu Dibandingkan dengan tanam pindah, waktu di butuhkan untuk panen cukup banyak, yaitu butuh 75 % dari umur induk, sehingga kalau biasanya lahan swah hanya bisa bertanam padi hanya sekali dan sekali panen lalu lahan hanya bisa ditanami palawija umur pendek,maka melalui penerapan teknologi salibu petani bisa panen padi dua kali atau lebih` Kwalitas Buah Buah yang dihasilkan oleh padi hasil dari tunas mempunyai kwalitas yang sama dengan induknya sehingga kalau indukannya berlabel ungu misalnya, maka buah dari padi hasil teknologi salibu ini kwalitasnya juga sama dengan label ungu. Hambatan/ Kendala Ketersediaan air Untuk menerapkan teknologi salibu ini yang menjadi hambatan adalah ketersediaan terutama pada salibu II dan III Serangan Hama Biasanya musim tanam ke II pada umumnya petani menanam palawija sehingga pertanaman padi salibu yang tidak dilakukan secara masal akan terserang hama terutama hama burung.