Jajar Legowo (Jarwo) Super merupakan salah satu teknologi sistim tanam dari budidaya padi dari pengembangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) dari Balitbangtan melalui BPTP yang berbasis cara tanam jajar legowo. Komponen teknologi di dalamnya meliputi Varietas Unggul Baru (VUB) potensi hasil tinggi, dekomposer jerami, pupuk hayati, pemupukan berimbang, dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan pestisida nabati dan kimia berdasarkan ambang kendali, serta alsintan (combine harvester). Melalui teknologi Jajar Legowo Super (JLS), produktivitas padi dapat ditingkatkan lebih dari 20-30%. Implementasi pengembangan model ini dilakukan dalam bentuk demarea dengan tujuan selain untuk memverifikasi keunggulan inovasi yang diterapkan, juga sebagai wahana diseminasi kepada pengguna khususnya petani. Jarwo atau jajar legowo sudah lama dikenal di kalangan petani, yang merupakan cara bertanam padi dengan jarak 2:1 atau 4:1. Pada jarwo super dilengkapi dengan pemanfaatan varietas unggul baru (VUB) padi dengan potensi hasil tinggi. VUB seperti Inpari 30, Inpari 32, serta Inpari 33.Jajar Legowo (Jarwo) 2:1 adalah salah satu cara tanam pindah padi sawah yang mengatur setiap dua barisan tanaman dan diselingi dengan satu barisan kosong (legowo) dengan penerapan jarak tanam, baik dalam barisan maupun antar barisan disesuaikan dengan maksud kesuburan tanah dan ketinggian tempat. Maksud dan tujuan penerapan sistem Jarwo, di antaranya (1) Memanfaatkan radiasi matahari pada tanaman yang terletak di pinggir petakan, sehingga diharapkan seluruh pertanaman memperoleh efek pinggir (border effect), (2) Memanfaatkan efek turbulensi udara yang bila dikombinasikan dengan sistem pengairan basah-kering berselang maka dapat mengangkat asam-asam organik tanah yang berbahaya bagi tanaman dari bagian bawah ke bagian atas (menguap), (3) Meningkatkan kandungan karbon dioksida (CO2 ) dan hasil fotosintesis tanaman, (4) Memudahkan dalam pemupukan dan pengendalian tikus, dan (5) Meningkatkan populasi tanaman per satuan luas Komponen lainnya sistem jarwo super yakni penggunaan biodekomposer, yang merupakan bahan yang mengandung beberapa jenis mikroba perombak bahan organik seperti lignoselulosa. Biodekomposer mampu mempercepat pengomposan jerami secara insitu dari dua bulan menjadi1-2 minggu.Hasil aplikasi Biodekomposer mempercepat perombakan jerami dan mengubah residu organik menjadi bahan organik tanah, meningkatkan ketersediaan NPK, sehingga menekan biaya pemupukan, dan menekan penyakit tular tanah. Pupuk hayati adalah pupuk berbasis gabungan mikroba mikroba non patogenik yang dapat menghasilkan fitohormon (pemacu tumbuh tanaman), penambat Nitrogen dan pelarut Fosfat yang berfungsi meningkatkan kesuburan dan kesehatan tanah. Berdasarkan hasil panen ubinan di beberapa kelompok tani (poktan) dimana lokasi demontrasi area (100 Ha) di kabupaten Pangkep yang dilakukan oleh Penyuluh Pertanian selaku tenaga pendamping dilapangan, maka diperoleh Produktivitas Gabah Kering Panen (GKP) di lokasi ini rata-rata 7,5 ton per Ha, sedangkan sebelumnya atau yang pertanaman biasa hanya 5,5 ton per Ha, maka terjadi peningkatan produksi kurang lebih 2 ton per Ha. Jika diasumsikan harga Rp.4.000/Kg, maka terjadi peningkatan pendapatan petani sebesar Rp.8.000.000/Ha/MT. Bila inovasi teknologi Jajar Legowo Super ini dikembangkan di 10.000 Ha dari total lahan sawah 16.732 Ha yang di miliki Kabupaten Pangkep, maka dapat menyumbang kenaikan produksi 20.000 ton Gabah Kering Panen (GKP) per musim, jika 2 (dua) kali musim tanam maka terjadi peningkatan produksi kurang lebih 40.000 ton per tahun gabah kering panen, Apabila diasumsikan harga gabah Rp.4.000/Kg, maka terjadi peningkatan pendapatan masyarakat kita, khususnya para petani sebesar Rp. 160 Miliar per tahun, suatu pendapatan yang cukup besar bagi peningkatan kesejahteraan para petani, dimana 90 persen penduduk kabupaten pangkep adalah petani. ditulis oleh : A.Faisal Rahim ( Kord. Fungsional Penyuluh Pertanian Kabupaten Pangkep) Email : rahimfaisal070@gmail.com.