Loading...

Peningkatan Pengetahuan Petani Dalam Pengendalian OPT Bawang Merah

Peningkatan Pengetahuan Petani Dalam Pengendalian OPT Bawang Merah
Bawang merah merupakan salah satu komoditas unggulan di beberapa daerah di Indonesia, yang juga merupakan salah satu komoditi yang mulai dibudidayakan di Kabupaten Buru Selatan. Namun sampai saat ini pengendalian OPT yang dilakukan oleh petani dengan menggunakan pestisida yang penggunaannya sangat berlebihan diakibatkan karena kepedulian petani terhadap dosis, waktu dan cara aplikasi yang tepat masih rendah sehingga menjadi kurang efisien dan dapat menimbulkan dampak negatif bagi musuh alami hama, lingkungan dan konsumen. Penggunaan pestisida yang berlebihan juga berdampak pada biaya pengendalian yang tinggi karena harga pestisida yang cukup mahal menyebabkan pendapatan petani menjadi berkurang. Selain pengendalian yang dilakukan oleh petani tidak sejalan dengan program nasional pengendalian hama terpadu, kendala yang dihadapi adalah kurangnya pengetahuan petani dalam pengendalian OPT bawang merah secara non pestisida. Berkaitan dengan masalah tersebut, maka Dinas Pertanian Kabupaten Buru Selatan mengadakan Kegiatan Peningkatan Pengetahuan Petani Dalam Pengendalian OPT Bawang Merah. Kegiatan ini dipromotori oleh Safrial Zulkarnain Lestaluhu, SP salah seorang CPNS yang mengikuti pelatihan dasar Gol. III lingkup Pemerintah Kabupaten Buru Selatan Tahun 2020. Identifikasi OPT di Lapangan Kegiatan ini diawali dengan identifikasi pada pertanaman bawang merah Kelompok Tani Cerdas Mandiri Desa Elfule. Keberhasilan pengendalian OPT sangat tergantung pada identifikasi terhadap jenis OPT yang menyerang. Identifikasi dilakukan dengan wawancara dilapangan menggunakan quisioner dan pengamatan langsung. Hal ini disebabkan dengan diketahuinya jenis OPT yang menyerang akan dapat ditentukan cara pengendalian yang tepat. Hasil identifikasi dilapangan didapat hama yang menyerang yaitu Kutu Daun Bawang (Neotoxoptera formosana) dan penyakit yang menyerang pertanaman bawang merah yaitu Trotol/Mati Pucuk (Alternaria porri) dan penyakit Layu Fusarium (Fusarium oxysporum). Hal ini disebabkan dengan diketahuinya jenis OPT yang menyerang akan dapat ditentukan cara pengendalian yang tepat. Demostrasi Cara Pengendalian OPT Bawang Merah Kegiatan ini dihadiri oleh Petani dan Penyuluh Kecamatan Namrole. Materi yang disampaikan pada kegiatan ini adalah pengenalan OPT bawang merah dan teknik – teknik pengendalian secara preventif dan kuratif. Selanjutnya dilanjutkan dengan demonstrasi cara pembuatan perangkap likat kuning dan penggunaannya, cara eksplorasi Trichoderma, sp dan penggunaanya serta pembuatan agen PGPR dari akar bambu dan cara penggunaannya. Demonstrasi pembuatan perangkap likat kuning Persiapan alat dan bahan : botol air mineral, cat warna kuning (cat kayu atau cat besi), tiner/bensin ( sebagai pelarut cat ), plastik bening/lakban bening, perekat/lem tikus, ajir dan tali raffia. Cara membuat Perangkap Likat Kuning : 1) Bersihkan botol air mineral, 2) Encerkan cat dengan menggunakan tiner/bensin, 3) Kemudian masukkan cat kedalam botol air mineral (usahakan cat yang ada didalam botol bisa mewarnai seluruh permukaan dalam botol ) , 4) Setelah pengecatan selesai diamkan hingga kering, 5) Setelah cat didalam botol kering, lubangi botol secukupnya (jika menggunakan petragenol/antraktan alami dari serai wangi selanjutnya lapisi botol dengan plastik bening, 6) Gantungkan kapas yang telah dipolesi petragenol/antraktan alami pada kawat 7) Kemudian berikan oli bekas/lem tikus pada lapisan luar botol sebagai perekat hama, 8) Perangkap likat kuning siap diaplikasikan dilapangan / areal pertanaman, 9) Pemasangan perangkap likat kuning di ikat pada ajir. Metode pemasangannya perangkap likat kuning diikat pada ajir dengan ketinggian satu jengkal diatas tajuk tanaman, seiring tinggi tanaman perangkap likat kuning dinaikkan mengikuti tinggi tajuk tanaman supaya hasil bisa optimal, hal ini bertujuan supaya serangga hama langsung bisa melihat perangkap likat kuning diatas tajuk tanaman. Demonstrasi cara eksplorasi Trichoderma, sp Persiapan alat dan bahan : nasi yang telah didiami 1 hari 1 malam, daun bambu, tissue, toples dan serbet. Cara mengeksplorasi Trichoderma, sp : 1) Siapkan toples bersih kemudian lapisi dasar toples dengan tissue, 2) Masukkan potongan daun bambu yang masih hijau 3) Nasi yang telah didiami 1 hari 1 malam diremas dan dibuat gumpalan dan masukkan kedalam toples , 4) Masukkan lagi potongan daun bambu untuk melapisi nasi, 5) Setelah itu lapisi lagi dengan tissue agar dapat menyerap uap air, 6) Kemudian letakkan pada tempat gelap atau tidak terkena terik sinar matahari langsung, 7) Biarkan selama 7 hari jika telah muncul jamur berwarna hijau maka berarti sudah mendapatkan Trivhoderma, sp, 8) Aplikasi trichoderma dapat dilakukan dengan pupuk dasar (kompos) yang ditebarkan secara merata dibedengan yang setengah jadi dapat juga dengan cara menaburkan trichoderma ditiap lubang tanam. Jadi saat nanti bibit ditanam, maka posisi trichoderma akan tepat langsung mengenai perakaran tanaman. Selain ditaburkan pada bedengan dan lubang tanam, trichoderma juga dapat diaplikasikan dengan cara dikocor dengan melarutkan Trichoderma ke dalam 1 liter air bersih dan dapat ditambah 2 sendok makan gula merah lalu diamkan selama 1 malam dalam kondisi tertutup. Pengocoran bisa dimulai saat tanaman berusia 7-10 HST (Hari Setelah Tanam) dan ulangi setiap 10 hari sampai 4 kali perlakuan. Jika mulai aplikasi saat umur tanaman 7 HST, maka pengaplikasian berikutnya saat umur 14, 21 dan 28 HST. Demonstrasi pembuatan agen PGPR dari akar bambu Persiapan alat dan bahan : 100 gr akar bambu, 400 gr gula pasir, 200 gr terasi, 1 kg dedak, 10 liter air dan miwon secukupnya. Cara pembuatan PGPR : 1) Rencam akar bambu dalam air matang dingin (1 liter) selama 2-4 hari, 2) Rebus bahan yang sudah dipersiapkan selain biang PGPR dari akar bambu sampai mendidih selama 20 menit, 3) Setelah dingin masukkan biang PGPR ke dalam air rebusan bahan tadi kemudian diaduk hingga merata, 4) Masukkan kedalam jerigen/botol dan tutup rapat, jangan lupa buka dan kocok sehari sekali, 5) Setelah 15 hari PGPR disaring dan siap digunakan, 6) Cara menggunakannya dengan dicampurkan 0,5 – 1 liter PGPR kedalam air 1 tangki dan disemprotkan ke lahan yang belum ditanam atau ke daerah perakaran tanaman, bisa juga digunakan pada perlakuan benih dengan merendam benih selama 30 menit ditirskan dan benih siap disemai. Pengaplikasian Teknik Pengendalian di Lapangan Adapun pelaksanaan pengendalian yang dilakukan dengan menggunakan pengendalian perangkap likat kuning di kombinasikan dengan antraktan alami dari ekstrak serai wangi yang dilakukan pada lokasi pertanaman bawang merah Desa Elfule. Hasil pengamatan dilapangan didapat yaitu lalat pengorok daun (Liriomyza, sp) berkisar 2-5 ekor, Trips (Thrips tabaci) berkisar 3 ekor, kutu daun bawang (Neotoxoptera formosana) 30-40 ekor dan serangga lainnya.